
Esok harinya, Elios menyuruh Graean menyiapkan Sanya ke kamar pengantin, menjalankan tugasnya sebagai istri Elios.
Elios tetap memakai penutup matanya, duduk menunggu di sofa depan ranjang sampai pintu terbuka, memunculkan seorang gadis mungil dari siluetnya.
Sanya. Kalau dia sungguhan Abkariza, berarti sudah bisa dipastikan dia sengaja datang ke sini untuk tujuan tertentu.
Tapi masalahnya apa yang dia incar? Apa hal yang bisa dia capai dengan menjadi istri Elios?
"Ini Sanya, Tuan Muda." Gadis manis itu memberitahukan sendiri siapa dirinya.
"Tentu, Manis." Elios tersenyum kecil. "Kemarilah. Aku sudah menunggu."
"Baik."
Sanya mendekati tangan Elios yang terbuka, sebagai sebuah isyarat agar dia masuk ke pelukan di pangkuannya.
Tubuh gadis itu terasa sangat kecil dan rungan. Itu membuat Elios bisa langsung menebak bahwa Sanya adalah jenis perempuan yang membuat suaminya merasa dia seperti adik.
Aroma tubuhnya pun lembut kekanakan, bukan menggoda seperti Mariana atau Roxanne.
"Tubuhmu kecil sekali, Sanya." Elios mengusap pinggangnya lembut. "Kamu makan dengan baik, kan? Apa pelayan tidak membawakan makanan untukmu?"
"Saya memang tidak suka makan," jawab anak itu manis.
"Benarkah?"
"Ya, Tuan Muda."
Elios meletakkan dagunya di bahu Sanya, sejenak hanya diam memeluk gadis kecil itu.
__ADS_1
Jauh di hati Elios, ia merasa tidak bisa bergairah sama sekali. Padahal biasanya Elios setidaknya bisa terpengaruh oleh aroma gadis, sekalipun itu Roxanne yang ia benci atau Mariana yang menurutnya tidak menarik.
Apa karena Abkariza? Aku terus memikirkan itu.
"Sanya."
"Ya, Tuan Muda?"
"Aku ingin tahu kenapa gadis manis sepertimu menjadi istriku."
"Apa maksud Anda?"
"Keluarga macam apa yang membuangmu?" bisik Elios, pura-pura tidak tahu tentang apa pun mengenai Sanya.
Ia sudah tahu dari Daniel bahwa anak ini tidak dibuang. Dia punya keluarga yang sangat baik-baik saja, jadi jika memang dia Abkariza yang Elios pikirkan, maka Sanya datang atas keinginan sendiri.
Dibawa tangan Sanya ke bibirnya, mengecup lembut tapi sejujurnya tidak tertarik sama sekali.
Nama Abkariza anak ini lebih menggangguku daripada yang kuduga, pikir Elios diam-diam.
"Kekejaman apa yang kamu dapatkan dari keluargamu, sampai-sampai mau dijual pada Ibunda? Beritahu aku."
Elios tentu menduga apa jawabannya. Bisa jadi dia akan merangkai sebuah kebohongan tentang keluarganya, entah sekecil cerita dia mendapat kekerasan diam-diam atau bahkan dia berdusta tidak punya keluarga.
"Saya tinggal di bawah bukit ini, Tuan Muda."
Dari balik ikatan kain matanya, Elios membuka mata karena terkejut.
Bukit. Kastel Elios ini memang berdiri di perbukitan dan bisa dibilang berada di pelosok. Karenanya untuk datang ke sini, menggunakan helikopter jauh lebih mudah daripada berkendara.
__ADS_1
Tapi, Elios tidak menyangka kalau Sanya berasal dari sekitaran kastelnya.
"Aku tidak memikirkan hal itu. Lalu, apa yang menjadi penyebabnya?"
"Jadi Anda tidak mendengarnya? Kabar mengenai Anda cukup sering dibicarakan di tempat saya." Sanya berbicara sangat tenang.
Saking tenangnya, Elios tidak bisa menangkap getaran malu sekalipun dia tengah duduk di pangkuan Elios.
"Bukan hanya saya, ada banyak orang-orang di kaki bukit yang berharap menikahi Anda. Sebab di kota ini orang menganggap Anda adalah pria terkaya."
"Rumor juga berkata Anda sangat tampan, pria cerdas pemilik perusahaan besar dan selebihnya. Jadi sekalipun orang berkata Anda punya banyak istri, itu tidak mengurangi pesona Anda sama sekali."
Hmmmm, jadi begitu.
"Dengan kata lain, kamu menikahiku karena aku tampan, kaya dan cerdas?"
"Ya, Tuan Muda. Saya tidak mau menikahi orang yang tidak memiliki ketiga hal itu. Dan saya tidak menyesal sekalipun Anda belum pernah menemui saya sejak tujuh bulan lalu."
Alasannya lebih sederhana. Dia juga membuatnya terdengar lugu seakan-akan dia hanya gadis bodoh.
Tapi Elios tidak mengangap dia lugu sebab dari suara pun sudah jelas Sanya tidak ragu-ragu.
Gadis yang duduk di pangkuan pria, tubuhnya diusap-usap dan diajak bicara oleh pria yang katanya idaman dia tapi suaranya malah seperti tidak peduli—Elios harus bodoh untuk percaya dia benar-benar polos.
"Jadi, secara singkat, kamu menyukaiku, Sanya?"
Gadis itu diam.
*
__ADS_1