Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
59


__ADS_3

"Aku mau berhias sendiri jadi tinggalkan aku. Cukup ketuk pintu sebagai isyarat jika Tuan Muda sudah mendekat."


"Baik, Nyonya."


Roxanne memastikan pelayan seluruhnya pergi lepas membantunya mandi. Lantas begitu pintu tertutup, Roxanne menguncinya, agar tidak ada satupun orang yang masuk tanpa ketahuan oleh Roxanne.


Barulah setelah itu Roxanne berlalu ke jendela. Melepaskan handuk dari rambutnya terburu-buru, sebab ia tak tahu kapan Elios akan kembali.


"Aku perlu bicara." Roxanne menoleh ke sekitaran untuk mencari orang yang namanya belum ia ketahui itu. "Aku tahu kamu mendengar. Keluar dan dengarkan aku sebentar."


Hening.


Roxanne sempat mengira dia tidak mau muncul karena malas, tapi ternyata dia berbaik hati. Orang itu muncul dari pohon raksasa tepat di samping balkon kamar Elios, berdiri di dahannya yang kokoh.


Angin berembus membuat Roxanne kedinginan. Ia tak sempat mengeringkan tubuh dan rambutnya sebab terburu-buru.


"Apa maumu?"


Berbeda dari siapa pun, orang ini tidak menghormati Roxanne sama sekali sebagai istri Elios. Dia bicara seolah Roxanne itu tidak memiliki status sama sekali.


Tapi siapa peduli? Pada akhirnya penilaian dia tidak membantu Roxanne.


"Aku perlu bicara pada Tuan Muda Pertama."


"Bukan urusanku." Dioris memalingkan wajah masa bodo. "Hanya itu? Harusnya aku tidak muncul."


"Beritahu Tuan Muda. Itu salah satu tugasmu mengawasiku, kan?"


Orang itu tidak menjawab, rasanya sudah menghilang jauh padahal masih di pohon itu. Dedaunan pohon yang begitu lebat membuatnya sama sekali tidak terlihat. Apalagi, pohon itu memang seperti dibuat berbentuk jamur hingga lebih mudah melihatnya dari bawah daripada dari atas.

__ADS_1


Roxanne berdecak. Memutuskan untuk berjudi saja pada harapan. Intinya, semoga dia menyampaikan pada Arkas.


"Kudengar kamu berdandan sendiri."


Roxanne tersentak mendengar suara Elios tiba-tiba. Bagaimana bisa dia masuk tanpa—


"Ah, kamu terkejut?" Elios tertawa kecil dengan kain terikat menutup matanya. "Istriku, perlu mengingat ini. Di kastilku tidak ada pintu yang terkunci untuk suamimu ini. Lain kali jangan mengunci pintu terlebih jika tahu aku akan datang. Itu bisa menjadi masalah serius."


Cih.


"Anda terlalu cepat datang." Roxanne menyugar rambutnya santai. "Saya baru saja mau mengeringkan diri dan Anda sudah selesai. Jadi saya tidak sempat berdandan."


Tentu saja maksudnya : kamu terlalu cepat datang, dasar pengganggu menyebalkan, mati saja sana!


Tapi meski tahu itu, Elios malah tertawa mendengar. "Aku merindukan istriku, jadi sedikit tidak sabar."


Roxanne menghela napas. Ingin masuk ke dalam dan menjalankan tugasnya sebagai pemuas nafsu namun justru dihentikan.


Elios yang mendekat.


"Ayo lakukan di sini."


Hah?


Roxanne cengo. Terlebih Elios tidak memberinya waktu untuk protes, langsung menunduk mencium Roxanne.


Tubuhnya terdorong bersandar pada palang balkon. Seperti tergesa-gesa menarik kimono mandi Roxanne agar terlepas.


"Tunggu, berhenti." Roxanne berusaha keras menahan pakaiannya jatuh, sebab ia sadar di sana ada orang. "Kenapa harus di sini? Ada tempat tidur di dalam jadi—"

__ADS_1


"Aku suka alam." Elios mencium kasar bibirnya, tak menerima usulan sama sekali.


Sentuhannya kali ini sedikit terasa menyakitkan tapi juga mendebarkan.


Roxanne merasa wajahnya terbakar habis ketika Elios mendorongnya berbalik, memegangi palang balkon sambil menghadap langsung pada pohon itu.


Pohon di mana pria kurangajar itu berada.


"Tuan Muda, jangan—"


"Sshhh." Elios memasukkan jemarinya ke mulut Roxanne dan membuatnya sibuk dengan itu. "Cukup bernyanyi dengan suara indahmu, Roxanne."


Roxanne terpaksa harus mengisap jemari Elios agar tak mengeluarkan suara tak senonoh.


Air matanya menggenang karena malu. Dan yang paling memalukan adalah, Roxanne takut jika orang kurangajar itu melihat bagaimana Roxanne menikmati sentuhan Elios.


*


Tukang pamer, gumam Dioris saat menyaksikan adegan menjengkelkan itu di balik pepohonan.


Ia tahu Elios sengaja melakukannya karena tahu Dioris ada di sana. Sejak dulu dia tidak terlalu menyukai Dioris, karena memang Dioris adalah salah satu kekasih Eirene sekaligus pengawal kesayangannya.


Rasanya Dioris jadi mau protes pada Arkas kenapa ia harus melakukan hal menyebalkan ini.


Kenapa ia harus terlibat pada permainan menjengkelkan Elios?


Tapi, Dioris diam-diam mengamati wajah Roxanne yang tak berdaya di bawah dominasi Elios.


Untuk ukuran perempuan yang tidak dapat menolak Elios, Roxanne cukup pintar menyadari dia butuh bantuan Arkas. Makanya dia meminta Dioris memanggil Arkas.

__ADS_1


Dia tidak akan bisa melawan Elios tanpa dukungan siapa pun.


*


__ADS_2