Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
120


__ADS_3

Arkas terpaku melihat Roxanne di hadapannya.


Wanita yang ia tahu memang lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa sendirian, tapi tak pernah mau mengakui kelemahan itu—Roxanne. Dia berdiri di hadapan Arkas dengan wajah bersimbah air mata.


"Roxanne."


"Tuan Muda." Roxanne jatuh berlutut. Mencengkram dadanya sendiri dan menangis hingga sekujur tubuhnya bergetar. "Tolong."


"Ada apa?" Arkas bergegas datang meraihnya. Memegang kedua lengan Roxanne penuh kecemasan. "Adik kecil, ada apa? Kenapa kamu menangis?"


Roxanne menangis tanpa isakan tapi justru sangat dalam dan pedih terlihat. Melihat hal itu sudah cukup membuat Arkas ikut gemetar. Lengannya memeluk Roxanne, tak tahu apa, tapi Arkas selalu takut melihat seseorang dalam naungannya terluka.


Tentu saja, sehebat apa pun Arkas, dia tidak akan pernah tahu bagaimana isi sudut terdalam hati dan pikiran Roxanne.


"Akan kubunuh semuanya." Roxanne mengulang kembali percakapan dengan Sanya sebelum ia datang ke sini. "Sanya, kita bekerja sama kan? Tujuanmu akan sama saja jika kubunuh semuanya, kan?"


".... Baiklah."


Roxanne tidak percaya pada Sanya, bahkan sedikit. Tapi ia membutuhkan Sanya dan kepalanya yang licik itu. Jadi Roxanne bertanya padanya.


"Aku harus memilih siapa? Siapa menurutmu yang harus kudekati?"


Untuk mendapatkan kekuasaan paling tinggi, paling besar dan paling memudahkan mereka, Roxanne harus tahu ia mesti memegang tangan siapa.


"Benar juga." Sanya memejam. "Awalnya aku ingin Kakak tetap bersama Elios, karena dia harus menggantikan Arkas, tapi baiklah. Kalau Kakak ingin membunuh dia juga."


Sanya berpikir keras. "Eris. Kurasa dia yang kekuasaannya paling besar," gumam Sanya.

__ADS_1


"Jadi aku harus mendekati Eris lagi?"


"Tidak. Aku hanya bilang dia yang kekuasaannya paling besar dan akan paling memudahkan. Dia pemegang kekuasaan tertinggi di Narendra sekarang tapi ... dia tidak bisa dikendalikan, bahkan oleh Arkas."


"Kalau begitu, Arkas?"


"Benar." Sanya tersenyum.


Roxanne terus menangis dalam pelukan Arkas.


"Kakak bisa menangis di pelukannya sambil berkata bahwa Kakak sudah lelah, atau Kakak mendadak sangat sedih mengingat penderitaan Kakak. Jika itu Arkas, dia tidak akan mempertanyakan kenapa tiba-tiba, kenapa Kakak datang padanya."


"Orang itu akan langsung berlutut, memeluk Kakak, berbisik kalau dia akan menjaga Kakak, karena itu adalah tugasnya sebagai Tuan Muda Pertama."


Tangan Arkas mendekap erat tubuh Roxanne.


"Jangan menangis." Dia berbisik sebagaimana Roxanne dan Sanya menduganya. "Jangan menangis. Apa pun alasannya, beritahu aku cara agar kamu tidak bersedih. Jangan menangis."


Seluruh tubuh Roxanne bergetar dalam tangisannya karena semakin dan semakin dipikirkan, Roxanne semakin tak bisa menerima. Jadi Arkas tidak akan pernah berpikir bahwa Roxanne hanya berpura-pura menangis untuk menarik simpatinya.


"Tuan Muda." Roxanne mencengkram pakaian Arkas. "Saya ingin mati saja."


"Hentikan." Arkas bernapas berat seolah dia ditimpa oleh beban sangat berat. "Istirahatlah di sisiku. Jangan melirik hal yang membuatmu sedih dan perbaiki perasaanmu baik-baik. Cukup lakukan itu, Roxanne."


"Tapi itu salah Anda." Roxanne perlahan membiarkan isakan itu keluar. "Itu semuanya salah Anda."


Arkas mendadak terpaku kosong.

__ADS_1


"Kakak," panggil Sanya sebelum Roxanne pergi menemui Arkas. "Apa Kakak menyadari satu rahasia?"


"Rahasia?"


"Arkas memang melakukan segalanya untuk Narendra dan selalu hidup dalam aturan itu. Tapi, Kakak tahu, alasan terbesar Arkas tidak bisa memaafkan Elios ...."


Roxanne mendongak, menampakkan seluruh keputusasaan di matanya pada Arkas.


"Anda mencintai Eirene, kan?"


Sembari mulutnya berbicara pada Arkas, Roxanne membiarkan ucapan Sanya terus berputar di kepalanya.


"Dia mencintainya. Sangat mencintainya. Kebencian di matanya itu bukan karena Elios melakukan dosa membuat seorang putri berharga Narendra mati. Tapi karena dia tidak bisa memaafkan Elios yang jadi alasan Eirene meninggalkannya."


"Anda melampiaskannya pada Elios lalu Elios menggila dan melampiaskannya pada kami, istri-istrinya. Itu salah Anda, semuanya. Bagaimana Anda bertanggung jawab, Tuan Muda?"


"Dia menutupinya dari semua orang. Tidak mau mengakuinya termasuk pada Eirene. Tapi Kakak, kurasa semua orang tahu. Semua orang hanya tidak menyinggungnya sebab kekacauan akan terjadi."


"Anda sangat egois," ratap Roxanne penuh kepiluan. "Jika Anda memberi hukuman yang lebih pantas dan bukan menyiksa Elios demi perasaan pribadi, lima istri Elios tidak akan mati!"


"Jadi Kakak, serang dia lewat itu. Bagaimanapun, Eris dan Arkas itu kolot."


"Anda berbohong menyayangi saya sebagai adik, kan?!" Roxanne berteriak. "Anda sebenarnya cuma mau menjadikan saya korban Elios agar dia tetap hidup dan Anda tetap menyaksikan dia menderita, kan?"


"Mereka paling lemah jika diserang lewat tanggung jawab sebagai Narendra."


"Setelah semuanya, setelah menyiksa Elios demi kebencian pribadi dan membiarkan lima istri Elios mati tanpa alasan, Anda masih menyebut diri Anda Tuan Muda Pertama?!"

__ADS_1


Tatapan Arkas menyiratkan kematian dari serangan Roxanne barusan.


*


__ADS_2