
Aku pasti sudah gila.
Roxanne mengutuk dirinya sendiri saat ia malah masuk ke perpustakaan nyaris bersamaan dengan waktu Sanya pergi ke kamar pengantin, menemui Elios.
Anak gila itu, dia telah membisiki Roxanne sesuatu yang jauh lebih gila dari pikiran Roxanne sendiri.
Tapi yang sekarang paling gila justru Roxanne datang ke sini karena rencana bodoh itu.
Hah, apa yang mau kulakukan? Serius? Aku percaya pada anak sialan yang menakutkan itu? Aku percaya?
Hei, Bodoh, ingatlah Mariana. Aku percaya padanya karena kupikir dia sama seperti Diane, tapi nyatanya aku tercekik sampai hampir mati.
Kalau kali ini aku jatuh ke lubang yang sama, memangnya ada kesempatan lagi? Bodoh. Roxanne bodoh.
Tapi sambil mengutuk dirinya sendiri, Roxanne justru mengulang rencana bodoh Sanya di kepalanya.
"Aku tidak mau menghabiskan malam dengan Elios, Kakak." Sanya mengucapkannya sambil tersenyum cerah. "Aku tidak mau menghabiskan malam dengan siapa-siapa. Aku tidak jatuh cinta pada siapa-siapa dan aku jijik membayangkannya. Jadi, bisakah kita saling membantu?"
"Kamu tidak ingin? Pada Tuan Muda Elios yang menyerupai malaikat itu?"
"Aku mengakui ketampanannya tapi aku tidak mau disentuh olehnya. Aku sedikitpun tidak mau. Kakak bisa menganggapku perempuan frigid."
Frigid. Bukan karena Elios kurang tampan atau dia mencintai seseorang yang lain, tapi karena dia secara personal tidak menyukai siapa pun dan tidak berhasrat pada siapa pun.
__ADS_1
Roxanne tidak akan percaya sesuatu semacam itu, karena meskipun ia benci pada Elios, ketampanan Elios membuat Roxanne tidak berhenti meracau di bawah sentuhannya.
Tapi, mata anak itu serius. Dia tampak polos tapi sedikitpun tidak terlihat berbohong atau sengaja membuat-buat alasan.
"Aku rasa Kakak sendiri sudah menyadari bahwa Elios sedang merencanakan sesuatu. Balasan dari perbuatan Kakak atas halusinogen kemarin."
Dia bahkan tahu soal halusinogen-nya.
"Untuk sekarang, aku tidak bisa berkata bahwa aku pasti akan mewujudkan semua keinginan Kakak, tapi aku bisa menjamin bahwa aku rekan paling berguna yang akan Kakak miliki di hidup Kakak."
"Jadi bagaimana kalau sekarang kita bekerja sama, setidaknya sebagai percobaan? Gagalkan malam pertamaku dengan Elios, sebagai gantinya Kakak mendapatkan perhatian Elios. Meskipun palsu."
"Apa maksudmu mendapatkan perhatian?" tanya Roxanne waktu itu sebab ia kurang bisa membayangkan. "Jika hanya perhatian kecil, aku bisa mendapatkannya sendiri."
"Tubuhku kecil, tapi sejujurnya aku benci hal-hal kecil," jawab anak itu. "Untuk sekarang, akan kubantu Kakak tidur di lantai empat. Bahkan mungkin, tidur di kamar pribadi Elios. Asal Kakak tahu, Graean tidak pernah tidur di sana dan tidak pernah ada istri Elios yang tidur di kamar tidur pribadinya."
"Menarik sekali sampai rasanya mustahil." Roxanne jelas tak langsung percaya. "Bagaimana caranya mendapat perhatian khusus itu sekaligus menggagalkan malam pertamamu?"
Sanya tersenyum polos. "Tolong patahkan tulang Kakak sedikit."
Anak gila, rutuk Roxanne sekarang.
Ia masih tidak percaya kalau bocah sialan itu tersenyum manis padanya saat meminta Roxanne patah tulang. Kenapa tidak sekalian dia tertawa sambil meminta Roxanne mati?
__ADS_1
"Kenapa aku di sini?" gumam Roxanne kebingungan luar biasa, lantaran sekarang ia benar-benar berdiri di tangga yang biasa digunakan menjangkau rak tinggi.
Roxanne tidak tahu mengapa ia sungguh-sungguh mendengarkan gadis psikopat itu.
Harusnya tidak, kan? Harusnya Roxanne abaikan saja.
Kenapa ia malah berdiri di sini, seakan-akan percaya pada ocehan gila itu?
"Kamu menyuruhku patah tulang dan kamu tidak menjamin sama sekali kamu tidak berbohong? Anak kecil, aku sangat percaya bahwa tidak ada yang tidak menginginkan Tuan Muda, itu termasuk kamu."
Tapi anak itu malah tersenyum mendengarnya.
"Apa Kakak berharap mendapatkan permata sambil berbaring di tempat tidur?"
Roxanne tersentak.
"Aku bukan tidak bisa menjamin, tapi aku tidak mau. Sebab Kakak juga membutuhkan aku. Aku juga harus melihat apakah Kakak benar-benar sesuai dugaanku atau berbeda."
"Jadi, aku menawarkan pada Kakak, lakukan rencanaku dan percaya hal gila itu menjadi nyata dengan risiko berbahaya—atau diam saja dan terus seperti sekarang, tanpa risiko ataupun kemajuan."
Pada akhirnya semua harus dilakukan dengan risiko. Tidak ada yang tidak.
Roxanne menghela napas, memejamkan mata sebelum ia menjatuhkan diri sendiri.
__ADS_1
Mari menjadi gila karena keluarga ini memang sudah gila sejak 200 tahun lalu.
*