
Bibir Roxanne bergetar. Kepalanya sakit dan ia tahu ini tidak boleh berlanjut. Tapi Roxanne tak bisa menahannya.
Rasa sakit ini. Rasa sepi dan rasa tidak terima di saat bersamaan.
Tidak ada yang memahaminya. Tidak pernah ada yang benar-benar menerimanya. Roxanne benci itu. Roxanne benci kenyataan bahwa ia merasa dirinya adalah satu-satunya manusia yang tidak dicintai.
"Mungkin tidak." Roxanne benci saat ia harus tersenyum, berpura-pura kuat padahal ingin berteriak. "Mungkin memang aku tidak layak dicintai siapa pun."
"Itu benar."
"Tapi," Roxanne benci sudut bibirnya yang berkedut menyedihkan saat ia berusaha keras sok tegar, "memangnya siapa yang melarangku berusaha agar dicintai? Memangnya Eirene pernah berkata seseorang tidak boleh berusaha?"
Pria itu tersentak seolah dia tak menyangka Roxanne akan mengatakan itu.
Tentu saja, Roxanne tidak akan tahu bahwa pria kurang ajar itu, Dioris, mendadak teringat akan ucapan Eirene.
"Aku mencintai seseorang yang mencintai semua orang." Eirene pernah mengatakan itu secara jelas di wajah Dioris. "Seperti Kakak Arkas, Kakak Eris dan juga Paman Pemimpin. Mereka yang memandang semua orang sama, dan berusaha keras untuk memberi yang terbaik pada semua orang. Sayang sekali Eli tidak bisa melakukan itu."
__ADS_1
"Saya juga tidak bisa. Saya hanya ingin mencintai satu orang saja," jawab Dioris saat itu.
"Itu hal buruk, Dioris." Eirene mengerutkan wajahnya sedih. "Dunia terlalu luas dan manusia begitu banyak. Memilih-milih dalam mencintai itu tindakan yang terlalu egois. Aku tidak menyukainya."
"Tapi hati tidak bisa mencintai semua orang, Nona."
"Karena mencintai sesuatu dengan hati hanyalah sebagian kecil. Seluruh dirimu, bukan hanya hatimu, bisa mencintai sesuatu." Eirene tersenyum. "Cobalah bersikap lebih baik, Dioris. Aku tidak pernah menyukai kamu bersikap buruk pada siapa pun."
Dioris melakukan ini hanya demi menjalankan perintah—walau ia akui juga karena perasaan pribadi—tapi ucapan Roxanne jadi membuatnya merasa bersalah.
Jika Eirene mendengarnya sekarang, dia pasti akan memasang wajah murung. Dia akan menyalahkan dirinya karena kurang mengajari Dioris cara bersikap baik.
Aku berbicara delapan puluh persen hanya karena Tuan Muda memintaku. Dioris berbalik pergi. Tapi caranya bicara seakan Nona benar-benar hanya lahir untuk duduk santai di atas tahta itu membuat kesal.
Apa yang aku tahu tentang dia, huh? Sebaliknya, memang apa yang dia tahu tentang Nona?
Dasar penggerutu.
__ADS_1
Roxanne hanya terduduk kosong begitu pria kurang ajar tadi pergi, meninggalkannya dalam kesendirian pedih. "Apa yang aku harapkan?" tanya Roxanne pada dirinya sendiri.
"Memangnya kalau aku berteriak, dunia akan berubah?"
Roxanne diam-diam merasakan ini.
Ia mau berkata, "Aku tidak seberuntung Eirene, jadi apa yang kalian harapkan dari aku? Dia punya banyak kakak yang baik dan pengertian, mencintainya sebagai adik bahkan lebih. Saking berharganya dia, dia tidak pernah menginjakkan kaki di dunia luar dan berulang kali wajahnya dilukis oleh pria setampan Elios setelah kematiannya."
"Siapa aku? Bukan siapa-siapa. Wajahku tidak berharga di mata siapa-siapa dan jelas terlupakan setelah kematianku. Jangankan kakak yang sedikit peduli, aku bahkan tidak punya keluarga sungguhan. Alih-alih khawatir pada nasibku, wanita yang kuanggap Ibu menjualku dan mendoktrin aku agar hidup sebagai barang dagangan."
"Ya, aku menganggap diriku sendiri alat dan aku selalu memperlakukan diriku sebagai barang jualan jadi apa? Apa ada yang mau menghentikan itu? Apa jika Eirene melakukan hal sama, Elios, Arkas, dan entah siapa lagi kakaknya, akan diam saja melihat dia? Nasibku dan dia berbeda jadi diamlah, dasar sok tahu!"
Tapi sepanjang apa pun isi pikiran Roxanne itu, ia malah cuma tertawa kecil dalam kesendirian. Sebab memang kalau orang dengar, maka nasih berubah?
Jelas tidak.
Sama sekali tidak.
__ADS_1
*