
"Kalau begitu," Elios tersenyum manis pada Askala, "bagaimana kalau Kakak mengembalikan Sanya padaku? Aku akan membunuh Roxanne sekarang juga jika Sanya kembali padaku."
Askala mengerutkan kening. "Istrimu itu pasti sudah mati. Eris pergi membunuhnya."
Tidak. Ada kemungkinan tidak. Identitas Sanya sebagai keturunan Trika itu melindungi Sanya dari Eris. Jika Eris membunuh Sanya tanpa izin Arkas, itu akan memicu kemarahan Arkas pada Eris dan merusak keseimbangan persaudaraan mereka.
Sanya masih hidup. Dan jika dia masih hidup, Elios mau memanfaatkannya sampai akhir sebelum Elios membunuhnya juga.
Yah, ada kemungkinan dia juga sudah mati.
"Hukuman Sanya pasti berat karena dia berusaha mencuri mayat Eri." Elios mengelus kecil pundak Askala. "Berikan padaku, istri kecilku itu, dengan kekuasaan Kakak sebagai putri kesayangan Paman. Dengan begitu akan kubunuh Roxanne sesuai perintah Kakak."
Askala menggeram kasar. "Kamu memanfaatkan aku, badjingan."
"Memangnya apa lagi?"
"Lalu, kamu berkata kamu tidak ingin membunuh Eris sekarang?"
Elios tertawa. "Akan kubunuh dia sesuai keinginan Kakak, tapi bukankah Kakak ingin Roxanne duluan?"
"AKU HANYA INGIN MEREKA SEMUA MENGHILANG!" bentak Askala, kembali hilang kendali.
Wanita itu mencengkram rambutnya, tampak benar-benar ingin menghancurkan semua orang demi memuaskan perasaannya sendiri.
__ADS_1
"Baik," ucap Askala kemudian. "Akan kukembalikan Sanya padamu tapi entah Eris atau Roxanne, setidaknya salah satu dari mereka sudah mati."
"Aku berencana melakukan, Kakak."
Maka dari itu, setelah pembicaraan berakhir dengan kesepakatan, Askala terbang ke Kastel Bintang dan Elios pergi ke bangunan utama.
Di sana Elios tidak pergi menemui Arkas ataupun Eris, melainkan Nyonya Medea, ibundanya.
"Elios."
Elios tersenyum. "Bisakah aku meminta tolong pada Ibunda?"
Elios adalah anak kesayangan Medea. Melebihi Eirene dan Eris sendiri. Meskipun Elios terhitung anak tengah, bukan bungsu ataupun sulung, Elios adalah anak yang paling dekat dengan ibunya. Maka dari itu, Medea mengutamakan Elios selalu. Tapi ....
"Kamu ingin minta tolong pada Ibunda agar kamu dan Eris bisa saling membunuh?" balas wanita itu kosong. Dia tertawa getir. "Nampaknya semua anak Ibunda hanya berharap meninggalkan Ibunda sendirian."
Medea menatap datar padanya. "Kamu tahu Ibunda bisa pergi ke kamar Eris dan membunuh wanita itu agar kalian berdua berhenti berselisih?"
".... Ibunda tidak bisa mencegah perselisihan," ujar Elios akhirnya, menanggapi topik mengenai dirinya dan Eris. "Eris hanya terpaku pada Arkas, Ibunda tahu itu. Dia bisa menebasku karena aku mengganggu Arkas. Untuk apa aku bersikap baik padanya?"
Medea menggeleng tapi itu bukan untuk Elios. Wanita itu menutup wajahnya dengan tangan, berusaha untuk menahan tangis.
"Baiklah," ucap Medea lemah. "Ibunda akan mengembalikan Roxanne tapi setelah itu berhentilah mengganggu Arkas. Arkas adalah pemimpin keluarga, Elios. Kamu tidak akan hidup jika Arkas tidak hidup."
__ADS_1
"Baiklah." Elios menjawab begitu bukan karena ia ingin berbohong, tapi karena nanti bukan dirinya yang akan mengganggu Arkas.
Itu pekerjaan orang lain. Elios cuma menginginkan Eris dan Roxanne.
Sementara itu, di tempat Askala berdiri sekarang, Kastel Bintang Papua, wanita itu memasuki ruang kurungan Sanya setelah melewati serangkaian pintu baja.
Askala mengerutkan kening saat melihat perban di mata Sanya, menutupi mata kirinya.
"Karena itulah sebenarnya aku menyukai Eris," gumam Askala, mengetahui jelas siapa yang bisa tega mencabut mata seorang anak kecil. "Sayang sekali dia suka menggangguku."
Sanya mendengar suara Askala. Mata kanannya yang tertutup langsung terbuka, menatap gadis itu.
"Ah, Nona bermasalah," ucap dia mengenali Askala. "Sepertinya Elios tidak rela membuang Sanya."
"Aku menebak mereka mewaspadai kamu dari banyaknya lapisan baja di sini," kata Askala. "Tapi sepertinya memang pantas. Kamu langsung tahu aku dikirim oleh Elios."
Sanya tertawa. "Tapi Nona Bermasalah, apa benar kamu bisa mengeluarkan Sanya? Dengan kekuasaan egoismu?"
"Kamu tidak terdengar ingin keluar dari sini."
"Sanya akan keluar, jika Sanya ditakdirkan keluar." Gadis itu menatap Askala dengan senyum aneh. "Tapi sebelum itu, untuk menyingkirkan semua halangan dari jalanmu, orang yang harus mati itu bukan Eris ataupun Kakak Roxanne."
Askala memicing. "Lalu? Siapa yang harus?"
__ADS_1
"Arkas."
*