Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
96


__ADS_3

"Posisi itu tidak bisa dimiliki oleh orang yang egois, bahkan sedikit." Dwi terus berbicara. "Ada malam di mana Arkas mungkin lelah memikirkan segalanya, tapi dia tidak bisa beristirahat terlalu lama karena semua orang membutuhkan dia. Aku tahu Arkas tidak pernah membenci posisinya. Dia sangat menerima beban yang ditanggungkan padanya. Tapi sebagai manusia, bukankah dia sangat luar biasa?"


Roxanne menelan ludah.


Mungkin Dwi tidak bermaksud menyinggung siapa-siapa tentang ucapannya itu, tapi mau tak mau Roxanne mengingat Sanya.


Anak itu mau mengganti Arkas dengan Elios yang hidupnya dipenuhi bayangan Eirene. Keluarga ini pasti akan hancur jika Elios yang memegangnya.


"Bukan hanya itu," Dwi kembali menoleh, "keluarga ini, Narendra, bisa dibilang adalah poros dari negara."


"Eh?"


"Tentu tidak semua orang mengetahuinya karena memang itu bukan hal yang boleh diketahui. Sejak dua ratus tahun terakhir, sejak awal keluarga ini dibuat, para pemimpin sendiri sudah terlibat dengan urusan kenegaraan. Pendidikan, ekonomi, bahkan persiapan perang, keluarga Narendra terlibat di dalamnya. Dan sebagai pemimpin, Arkas juga bertanggung jawab untuk itu."


"Belum lagi, ada banyak orang yang tidak senang dengan kedudukan keluarga ini. Entah dari saingan kecil atau pemerintahan negara lain, ada banyak orang yang ingin meruntuhkan Narendra. Arkas menanggung beban itu paling banyak sebab dialah Putra Pertama. Mungkin bisa dibilang dia tahanan dalam keluarga ini, yang hidup untuk memikirkan segalanya tentang keluarga ini saja."


Dengan kata lain ... negara ini akan kacau kalau Elios memimpin Narendra?


Aku harus menampar Sanya dan memberitahunya bahwa ambisi dia terlalu tidak waras. Roxanne mendadak sakit kepala.


Siapa juga yang mau menanggung beban sebanyak itu? Keluarga ini saja sudah berjumlah dua ratus orang, lalu dia bilang harus menanggung dua ratus juta orang juga?


Jangan bercanda. Menjadi istri Elios sudah lebih dari cukup.


*

__ADS_1


Dwi—atau lebih tepatnya Eris, mengamati keheningan Roxanne setelah menceritakan sedikit tentang Arkas.


Ya, Eris sengaja memberitahunya agar Roxanne berpikir. Walau Eris tak punya bukti, ia mengamati ada niat kecil pemberontakan di sekitar Elios.


Maka dari itu cerita tadi memberi pesan : berpikirlah. Menyingkirkan Arkas bukan berarti mendapatkan segalanya, tapi menanggung segalanya dan kalian tidak mungkin bisa.


Eris harus melakukan itu sebab Graean sudah pergi. Yang tersisa di sisi Elios sekarang hanyalah wanita serakah yang tidak akan berpikir mengenai apa-apa.


Jangankan Elios, Eris sendiri tidak percaya dirinya bisa. Maka dari itu mata ini hilang. Harus Arkas yang memimpin.


"Saya ingin Anda membunuh Tuan Muda Arkas," ucap suara dalam memori Eris.


Kenangan itu menyusup tanpa permisi di antara keheningan.


Seorang wanita serakah pernah melakukan kesalahan. Eris berharap Roxanne tidak menjadi seperti wanita itu.


"Tuan Muda, Anda mencintai saya, kan? Anda berkata Anda membutuhkan saya."


Ya, Eris mencintai istrinya itu. Satu-satunya istri yang ia miliki sampai saat ini. Tapi justru dia mengkhianati Eris. Dia menginginkan hal yang terlalu besar dan tidak bertanggung jawab, hingga Eris harus mengakhiri hidupnya sendiri.


"Eris."


Eris masih ingat bagaimana ekspresi Arkas hari itu.


"Aku baik-baik saja." Itu yang Eris katakan dengan darah istrinya berlumuran hingga ke wajah. "Dia menghinamu, Kak, jadi tidak layak baginya hidup di sampingku lagi. Dia bahkan berpikir melakukan pemberontakan."

__ADS_1


Eris tersenyum mengingat wajah pucat Arkas.


"Tapi ... tapi Nernia ... kamu—"


"Mencintai dia?" Eris meninggalkan mayat istri yang dibunuhnya, datang memeluk Arkas. "Aku lebih mencintaimu, bodoh."


Arkas bergetar oleh tangisannya. Dia justru sangat merasa bersalah karena Eris membunuh istrinya.


"Nernia benar," ucap Arkas gemetar. "Kamu yang lebih layak menjadi Tuan Muda Pertama. Harusnya aku tidak—"


"Apa maksudmu itu?" Eris menyela ucapan Arkas yang menurutnya bodoh. "Tidak peduli aku lebih dulu ada di perut ibuku atau tidak, pada kenyataannya kamu lahir lebih dulu. Kamu yang datang ke dunia ini lebih dulu. Tidak ada yang boleh membantahnya."


Arkas justru menunduk. "Kalau," bisiknya parau, "kalau aku mati, kamu bisa ...."


Akibat ucapan itu, Eris mencongkel kedua matanya sendiri dan meletakkan keduanya di tangan Arkas.


"Jika kamu mati, orang buta ini akan jadi Tuan Muda Pertama. Kecuali jika kamu mengizinkan adikmu membunuhku agar dia jadi Tuan Muda Pertama."


Hah, keluarga ini penuh darah dan air mata darah. Tapi meski begitu, Eris tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkannya.


Nernia mencintai keluarga ini sekalipun dia serakah, Eirene pun mencintai keluarga ini dengan bangga, jadi tidak akan pernah Eris biarkan istri Elios berbuat seenaknya.


Bahkan kalau harus membunuh mereka semua, lagi.


*

__ADS_1


__ADS_2