Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Tak Butuh Terima Kasih


__ADS_3

Pelepasan lampion sebagai puncak ritual peringatan kematian kini berlangsung tanpa Arkas, Eris, dan tentunya Roxanne.


Sekalipun mereka tak ada, istri Arkas memastikan semua bagian terlaksana tanpa ada hambatan.


Kini istri-istri Elios, kecuali Sanya dan Roxanne, mendongak memandangi ribuan lampion terbang ke langit. Lampu-lampu kembali sengaja dipadamkan hingga cahaya terang justru datang dari lampion di permukaan danau dan yang terbang ke langit bebas.


"Roxanne pada akhirnya tertipu." Mariana bergumam seraya khusyuk memandangi keindahan lampion itu. "Kupikir kamu bersimpati pada Roxanne, Diane."


"Mungkin saja."


"Tapi pada akhirnya kamu memilih Tuan Muda daripada Roxanne, kan?"


Setidaknya itulah yang terjadi.


Diane mengalihkan pandangan dari langit ke arah Elios berdiri. Pria itu sendirian, juga tengah mendongak ke langit seolah tengah berharap lampion itu sampai pada jiwa Eirene.


Yah, tentu saja tidak mungkin.


"Pergilah." Mariana tetap mendongak melihat lampion terus dilepaskan. "Kamu menginginkan Tuan Muda juga, kan?"


Diane diam tapi pada akhirnya ia melangkah, datang ke sisi Elios hingga pria itu menoleh.


"Istriku yang patuh dan setia." Elios mendekap pinggang Diane, mencium bibirnya lembut. "Kerja bagus malam ini."


Perlahan, bibir Diane tertarik, membentuk senyum yang cerah. Tidak perlu kan ia menahan diri lagi?


"Saya mencintai Anda, Tuan Muda."

__ADS_1


"Aku tahu." Elios membelai rambutnya. "Aku menerimanya."


*


Eris hanya terus duduk di sana menunggui Roxanne tersadar. Entah berapa lama waktu berlalu, tapi Eris cukup yakin sekarang malam sudah berlalu.


Pada akhirnya ia tak hadir dalam pelepasan sebelas ribu lampion kemarin.


Ritual pelepasan itu memang tidak memiliki makna. Narendra tidak mempercayai hal-hal semacam itu jadi satu-satunya alasan mengapa lampion dilepaskan adalah untuk keindahan.


Tapi Eris berharap Roxanne melihatnya. Pemandangan kemarin pasti sangat indah untuk dilihat oleh mata, terlebih oleh wanita.


"Eris."


Suara itu memaksa Eris berpaling sekalipun hanya bisa menutup mata. Langkah kaki Arkas terdengar samar akibat suara air mengalir di kamarnya, akan tetapi aroma pekat dari obat tidak bisa tersamarkan oleh aroma bunga.


Jika hanya luka kecil, Arkas pasti tidak akan mengobati lukanya. Dia mungkin hanya akan membungkus itu agar tidak terlihat setelah menghentikan pendarahannya. Tapi dia beraroma cairan obat. Dan itu sangat pekat.


"Kamu membunuhnya? Anak itu?"


"Aku terluka karena berusaha keras tidak membunuhnya."


"Sudah kuduga dia sebaik Nernia," gumam Eris samar. Dia pernah menendang Eris sekali dan itu cukup membuat Eris bisa membandingkan.


Menangkap Sanya jauh lebih sulit daripada membunuhnya.


"Lalu, di mana dia?" tanya Eris.

__ADS_1


"Untuk sekarang aku mengurungnya di Kastel Bintang. Dioris bersamanya dan aku memastikan dia tidak bisa bergerak bebas."


"Jadi begitu."


Arkas berpegang pada bahu Eris saat berusaha duduk. Napasnya terdengar kasar dan berat, memberitahu Eris betapa parah luka yang dia dapatkan.


"Perutmu tertusuk?" tebak Eris dari bagaimana Arkas bersusah payah.


"Pinggangku. Dokter berkata aku harus beristirahat, tapi lebih baik tidak ada yang tahu soal aku terluka. Apalagi karena Sanya."


Itu benar. Jika sampai terdengar ke telinga Pemimpin ada istri Elios yang seberbahaya Sanya, semua istri Elios lainnya pasti dieksekusi.


Narendra tidak akan membiarkan ada penyusup di antara mereka. Karena itulah istri Narendra dan pelayan dibesarkan sendiri oleh mereka.


"Kamu membiarkan Elios?" Arkas diam-diam mengulurkan tangannya kepada Roxanne, mengecek lemah denyut nadinya. "Sudah kubilang jika mencintai Roxanne, setidaknya pilih jalan yang lebih lembut. Kamu selalu melakukan ini."


"Mencintai artinya tidak membiarkan dia melukai dirinya sendiri." Eris bergumam. "Siapa yang dapat menolong Roxanne jika yang membuat dia tersiksa adalah kelemahannya?"


"Tapi setelah dia terbangun, menurutmu Roxanne akan berterima kasih?"


Tidak. Tentu saja tidak.


Eris rasa ia tak akan mendapatkan kata 'terima kasih' dari siapa pun yang ia berikan rasa cintanya. Baik itu Nernia, baik itu Elios, dan sekarang Roxanne.


Dan Eris tetap memilih melakukannya. Ia tak butuh rasa terima kasih.


*

__ADS_1


__ADS_2