Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Selalu Di Pihak yang Sama


__ADS_3

Setelah kejadian Askala melukai Roxanne, istri-istri Elios lainnya sulit menginjakkan kaki di permukaan. Untuk itu, mereka butuh izin dan pengawalan yang ketat bahkan sekalipun Askala berada dalam ruangannya.


Tapi, bukan mustahil naik. Arkas secara langsung mengizinkan jika istri-istri Elios memiliki permintaan kebutuhan dan boleh disampaikan pada Nyonya Muda Pertama, istri pertama Elios, Arista Narendra.


Dan perwakilan Elios adalah Mariana.


Mereka bertemu Arista, namun untuk alasan 'berjalan-jalan', Diane izin meninggalkan Mariana dan Arista. Walau khawatir, Arista menerima permintaan Diane karena kasihan.


Dia mungkin tidak enak karena Diane terlihat sangat menyedihkan.


Yah, sesuai rencana.


Diane mendongak. Bagaimanapun caranya sekarang ia harus pergi menemui Askala dan menyampaikan pesan Elios. Itu adalah tujuan utama ia dan Mariana naik ke permukaan.


Tidak terlalu sulit. Karena Diane ... selalu tidak mencolok dan dianggap tidak penting.


"Begitu." Askala menyeringai setelah mendengar seluruh pesan dari Elios lewat Diane. "Dasar menyebalkan. Dia menjadi semakin tidak waras sekarang."


"Tuan Muda berharap Anda memberi jawaban, Nona."

__ADS_1


"Aku terima. Katakan pada Elios aku tidak akan membuat masalah untuk sementara."


"Baik. Akan saya sampaikan sesuai perkataan Nona."


"Ah, beritahu dia juga bahwa Sierra akan datang minggu depan."


"Baik. Terima kasih, Nona."


"Hm, pergilah."


Diane beranjak, keluar diam-diam dari ruangan Askala. Setelah itulah Diane benar-benar berkeliling, melihat bunga mawar dan kolam ikan di berbagai tempat.


Ketika berhenti di dekat kebun mawar biru, Diane mencabut setangkai mawar sekalipun itu berduri. Tangannya tertusuk, tapi mawar itu tetap Diane bawa ke bibirnya, mencium harum mawar tersebut.


Tulus. Dia berkata tulus. Apa Roxanne benar-benar percaya pada ketulusan? Pada pria yang tertawa terbahak-bahak memikirkan bagaimana dia akan menguliti Roxanne?


"Menjijikan." Elios yang Diane lihat adalah Elios yang tidak Roxanne lihat. "Ah, menjijikan. Sangat memuakkan. Aku harus apa, Diane? Tanganku gatal ingin meremukkan kepalanya. Aku gemetaran menahan diri. Tolong aku."


Sekalipun seperti merintih, Elios justru tertawa dan menatap gila tangannya yang gemetaran. Dia sudah sangat tidak sabar. Dia semakin hari semakin menggila karena terus bersabar.

__ADS_1


"Padahal sudah kubilang dari awal," gumam Diane pada mawar di tangannya. "Jangan mengusik apa-apa, berhenti di sana, jaga nyawamu. Tapi Roxanne, sampai akhir kamu bertahan dalam kebodohan."


Kalau saja Roxanne berhenti setidaknya di hari dia selamat dari cekikan Elios, mungkin hari ini tidak akan datang. Elios pasti tidak akan sampai membencinya sedalam ini.


Namun Roxanne melangkahi batas. Dia mengabaikan segalanya dan bergerak tanpa memikirkan apa-apa lagi.


Dan ... sudah kubilang dia kesayangan Tuan Muda Pertama dan Kedua.


Setidaknya manfaatkan itu. Biarpun ditipu atau dijadikan boneka semata, setidaknya itulah cara bertahan hidup. Namun dia bersikap sombong dan meninggalkan Arkas juga Eris. Sekarang dia sendirian. Sanya bahkan sudah meninggalkannya.


"Kenapa Anda bekerja sama dengan Sanya jika tidak menyukainya?" tanya Diane saat bersama Elios kemarin.


Elios tersenyum manis malam itu. "Karena dengan begitu Roxanne akan semakin terlihat bodoh."


Segala yang tidak Elios lakukan selama ini bahkan dia lakukan demi Roxanne. Demi membalas Roxanne yang menghina cinta Elios pada Eirene.


"Tetaplah jadi sahabat baiknya." Elios membelai wajah Diane. "Tetap terlihat tidak berguna di mata siapa-siapa. Jadi membosankan, tidak berkeinginan, pecundang yang hanya mencari tempat aman."


Diane terpejam ketika Elios menciumnya. "Dengan begitu tidak ada yang tahu kecuali aku. Tidak bahkan Graean. Cinta tulusmu pada suamimu ini."

__ADS_1


Ya, Diane tidak pernah berpihak pada Roxanne. Diane selalu dan selalu berada di pihak Elios.


*


__ADS_2