Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
82


__ADS_3

Belati di tangan Sanya menancap tepat di dada Graean. Darah mengotori tangan Sanya dan juga lantai, tentunya badan Graean. Dia, yang tadinya bersih, kini terlihat kotor dan pucat menjemput kematiannya.


"Sanya," bisik Graean samar ketika dia tahu waktunya sebentar lagi berakhir, "kenapa?"


Sanya hanya menatapnya tanpa ekspresi.


"Aku butuh kematianmu, Nyonya," jawab Sanya, tanpa terdengar sombong sudah menang atau puas karena membunuh.


"Kamu kekuatan utama Elios sampai sekarang. Walaupun Elios dan pengawalnya lebih kuat, namun aku menilai kamu akan lebih merepotkan dalam pengkhianatan, sehingga kamu harus mati sekarang."


Graean hanya diam, dan Sanya tahu bahwa dia tidak puas. Ini adalah saat terakhirnya, jadi Sanya tidak keberatan memberitahu. Toh, dia juga akan jadi mayat yang tidak mungkin bisa bicara.


"Aku harus menggantikan tempatmu dengan Kakak Roxanne," kata Sanya sambil duduk di dekat tubuh Graean, seolah memandangi temannya yang bersantai di bawah sinar matahari, alih-alih orang sekarat.


"Dengan begitu koneksiku pada keluarga Narendra akan semakin kuat."


"Abkariza," Graean tersenyum lemah, "kamu berpikir kamu adalah keturunan Trika Narendra hanya karena kamu memakai nama yang sama? Padahal sudah dua ratus tahun berlalu."


Sanya tertawa, "Apa aku pernah bilang melakukan ini karena Trika? Aku tahu soal garis keturunanku, tapi Nyonya, aku tidak peduli."

__ADS_1


"Lalu kenapa?"


"Anggap saja aku melakukannya karena sedang ingin. Sesederhana orang lain yang belajar giat untuk menjadi dokter."


Graean terbatuk bersama darah yang keluar dari mulutnya. Tapi perempuan itu masih tidak menyerah.


"Kamu salah besar," bisik Graean parau, "jika berpikir Tuan Muda-ku melemah hanya karena aku mati."


"Aku cukup tahu itu."


"Dan Roxanne, dia tidak bisa menggantikanku sama sekali."


"Aku juga tahu itu."


Tepat setelah mengatakannya, wajah Graean membiru. Dia sekarang benar-benar tercekik oleh napasnya yang semakin lemah. Untuk terakhir kalinya, Graean menatap mata Sanya, lalu menutup matanya dengan senyuman.


"Hancurkan semuanya kalau memang bisa," ucapnya.


Sanya terus menatap Graean hingga tak lagi melihat pergerakan darinya. Tak lagi terdengar napas, sementara dingin mulai menyebar dengan cepat.

__ADS_1


"Padahal cuma dipakai sebagai mesin," gumam Sanya, "tapi Nyonya malah tetap menyembunyikan perasaan sampai kematian. Aku tidak pernah mengerti pola pikir budak seperti Nyonya."


Sanya dapat melihat dengan jelas bahwa Graean tidak membencinya. Graean bahkan punya kesempatan kecil memanggil bantuan, meskipun percuma, namun dia hanya melawan Sanya tanpa suara. Mungkin dia berniat untuk menghentikan Sanya tanpa keributan, namun nyatanya dia juga menutup kemungkinan Sanya terbongkar oleh siapa pun.


"Aku sepertinya memang sampah yang tidak berhati," Sanya tertawa kecil pada dirinya sendiri, "ini menghibur."


Lantas, gadis itu beranjak, berjalan menjauh dari mayat Graean. Meskipun situasi di sekitar tetap tenang, seolah-olah malam ini tidak ada yang terjadi. Namun, Sanya akan segera membuat sesuatu terjadi, membuka jalan baginya dan Roxanne untuk menuju ke tempat yang mereka inginkan.


"Kakak Roxanne," panggil Sanya dengan suara kecil, sambil memegang sebuah alat pemicu ledakan yang sebentar lagi akan membakar segalanya.


"Biar aku tunjukkan cara yang benar bertahan hidup," ujarnya sambil menekan tombol merah di alat itu.


Ledakan besar seketika melahap kastel, dan Sanya terpejam menghindari puing-puing yang beterbangan di wajahnya. Ketika teriakan histeris terdengar dari segala arah, Sanya berjalan menuju balkon dan melompat.


Anak itu masuk ke kamarnya setelah meninggalkan pakaian luarnya yang habis terbakar. Ia bergerak gesit untuk memakai kimono tidur, lalu keluar dari kamar melalui pintu.


"Tetap tenang dan cepatlah keluar!" teriak Mariana sambil mengatur agar istri-istri yang lain selamat. "Tidak perlu membawa apa pun! Cepatlah menjauh dari kastel!"


"Maria! Kakak Roxanne berada di atas!" Sanya berteriak ketakutan. "Kakak! Seseorang harus membawanya!"

__ADS_1


"Roxanne bersama Tuan Muda beserta pengawal dari Tuan Muda Arkas. Dia pasti baik-baik saja. Untuk saat ini, pikirkan dirimu sendiri dan keluarlah!"


Sanya berlari keluar bersama yang lainnya. Namun, ia tetap diam-diam melirik ke lantai atas yang mulai runtuh. Roxanne pasti baik-baik saja karena Sanya mengatur ledakan yang tidak berdampak pada bagian kamar Elios. Namun, ia tidak tahu apakah Elios baik-baik saja atau tidak.


__ADS_2