
Roxanne cuma bisa tercengang begitu diturunkan dari helikopter sesampainya mereka di Kastel Mawar. Ia mendongak tak percaya pada apa yang tengah dilihat oleh matanya.
Mereka berada di atas padang rumput luas yang dikelilingi oleh tembok, nyaris sama seperti Kastel Elios, tapi bangunan di depannya dua kali lipat lebih besar dari milik Elios.
Dan yang membuat Roxanne tercengang adalah tempat ini memanjang sampai ke belakang, jauh hingga terlihat seperti sebuah kompleks pemukiman ekslusif.
Lampu-lampu berwarna kuning menyala dari segala penjuru, seolah menentang kalau ini adalah malam yang suram.
Tepat di depan sepasang patung wanita cantik, seorang wanita yang juga sangat cantik berdiri.
"Selamat datang, adik-adikku." Wanita itu menyambut dengan senyumnya. "Terlepas dari apa yang terjadi kuharap kalian bisa tetap nyaman di Kastel kami."
Roxanne meremehkan kekayaan mereka. Ia pikir kalau segalanya terbakar maka Elios jatuh miskin. Tapi dari luas tanah tempat mereka berdiri lalu bangunan di depannya sekarang, nampaknya Elios ... sedikitpun tidak rugi apa-apa.
"Waaaaah!" Sebuah suara semangat mengalihkan perhatian mereka.
Roxanne terkejut melihat Sanya berlari seperti anak kecil, mendekati wanita itu, lalu menunjuk patung di sana.
"Kakak, patung apa ini?"
Wanita itu tampaknya juga terkejut. Diane menjadi cemas akan tingkah Sanya, tapi sebelum bisa menariknya, wanita tadi tersenyum teduh pada Sanya.
__ADS_1
"Leluhur meletakkannya di sana agar membedakan ini sebagai pintu masuk utama. Tapi ada banyak hal serupa tersebar di sekitaran. Kamu ingin melihatnya?"
"Benarkah?! Aku boleh melihat-lihat?! Huaaaaa, terima kasih!" Sanya melompat-lompat semangat, persis seperti anak kecil.
Penampilannya yang memang menggemaskan jadi terlihat cocok, tapi Roxanne merasa ngeri karena tahu Sanya itu cuma menutupi kegelapan dibalik cerah penampilannya.
Dia baru saja membunuh Graean, demi Tuhan. Bagaimana bisa dia melompat-lompat semangat pada patung?
"Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Arista. Aku istri pertama Tuan Muda Pertama. Karena beliau harus mengurus hal lain, aku yang akan mendampingi kalian sementara."
Kalau begitu dia adalah calon Nyonya Utama?
"Sekarang, kurasa kalian semua ingin membersihkan diri dan beristirahat. Akan kuantar ke tempat kalian sekarang."
Mereka dibawa berputar dari jalan utama, masuk ke bangunan-bangunan kecil memanjang yang benar-benar mirip seperti pemukiman.
Seluruh orang di sini adalah Narendra. Memikirkan saja sudah membuat Roxanne ingin muntah.
*
Berbeda dari semua istri Elios yang dibawa ke bangunan belakang, Elios sendiri diseret ke bangunan utama, bangunan paling depan untuk masuk ke ruang bawah tanah.
__ADS_1
Pintu penjara khusus dibuka oleh Daniel, membiarkan Arkas mendorong Elios masuk. Atau lebih tepat menyebutnya seperti melempar.
"Jangan lupa aku membawamu cuma karena istri-istrimu tidak bersalah." Arkas berucap penuh kebencian. "Lebih baik renungkan kalau harga dirimu itu masih tersisa, hanya karena kamu masih memiliki istrimu."
Elios yang mulut dan matanya bahkan tertutup jelas tak bisa merespons. Tapi meski begitu, Arkas bisa melihat bagaimana Elios tengah mengejeknya.
Mungkin dia akan berkata 'aku tidak peduli pada omong kosong itu'.
"Awasi dia." Arkas berlalu setelah meninggalkan pesan singkat pada Zack dan Daniel.
Mereka berdua akan tetap di sana menemani Elios sebagai bawahan Elios, tapi mereka tidak akan menyelamatkannya sebab Elios harus patuh pada Narendra.
"Ini jadi menyebalkan." Zack menggaruk kepalanya seraya duduk bersandar pada dinding. "Elios, setidaknya bersikaplah lebih baik di depan Arkas. Dia jadi sangat pemarah hanya dengan melihat wajahmu."
Daniel ikut duduk memandangi Elios yang terkurung menyedihkan. "Sekarang tidak ada yang mengawasi istri-istrimu."
Bahu Elios malah terguncang seolah dia tengah tertawa.
Mudah mengartikan apa yang dia pikirkan. Nampaknya dia sedang bergumam 'lebih baik bakar juga segalanya di sini agar Arkas kesulitan'.
*
__ADS_1