
Kebetulan, hari ini Eris memakai hiasan di pakaiannya yang berbunyi jika ia bergerak. Suara dari hiasan itu membuat Sanya terkesiap dan mendadak sesak napas hanya karena Eris mendekat.
Tangan Eris mendekati wajah Sanya, merasakan gemetar dari tubuhnya yang semakin bernapas cepat. Jemari Eris turun ke lehernya, berhenti di titik nadi Sanya untuk memastikan setinggi apa tekanan darahnya sekarang.
"Arkas bilang padaku bahwa dia ragu kami benar-benar sudah menghentikanmu."
Dengan kata lain, Arkas masih berpikir bahwa Sanya tidak akan berhenti. Besar kemungkinan dia punya sekutu yang kuat, suatu saat akan melarikan diri dan mewujudkan keinginannya meruntuhkan Narendra.
Tapi ....
"Sepertinya Arkas tidak menyadari kelemahanmu ini. Begitu rupanya." Eris meraba wajahnya kembali, tak peduli jika pipi Sanya basah oleh keringat. "Ada trauma dalam dirimu. Apa salah satu siksaan agar menjadi seperti sekarang adalah dikurung dalam ruangan gelap? Atau apa?"
Napas Sanya semakin memburu. Eris kembali memegangi lehernya, merasakan denyut nadi Sanya bahkan terasa semakin cepat.
"Rusak." Eris bergumam. "Tubuh dan pikiranmu rusak parah, Anak Kecil."
Tidak satu dua, ada banyak hal di dalam sini yang tidak bisa Eris tebak hanya dari firasat dan petunjuk kecil. Tapi yang pasti Arkas tidak akan pernah membunuh anak ini.
Apalagi jika dia melihat Sanya sekarang.
"Aku bisa menyiksamu jauh lebih kejam dari yang kamu bayangkan." Eris mengangkat dagu itu agar mendongak, sekalipun mereka sama-sama tidak bisa melihat. "Aku bisa tahu rasa sakit fisik bukan lagi siksaan terberat bagimu. Tapi bagaimana dengan ini? Matamu akan kurusak secara permanen agar tidak melihat lagi sepertiku."
Sanya semakin gemetaran.
"Sepertinya kamu juga membenci Arkas. Kalau begitu bagaimana jika aku menjadikan kamu pelayannya? Dengarkan dia setiap saat dan bantu keluarga ini semakin besar."
Eris mundur selangkah, mendengarkan suara Sanya muntah tanpa sebab. Beban mentalnya pasti sangat berat sampai dia begitu lemah.
"Atau Sanya, haruskah aku meminta seseorang mengulang-ulang kembali masa lalumu?"
__ADS_1
Suara muntahnya semakin parah.
Ancaman Eris berhasil padanya.
"Jika tidak ingin, bagaimana dengan ini saja? Kembalilah pada Elios dan bunuh dia untuk Roxanne. Setelah itu aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit."
Dengan kata lain, Eris sedang memberinya pilihan. Apakah dia ingin hidup dalam siksaan ketakutan sampai ajalnya datang, tentu saja setiap detiknya menggila; ataukah dia melakukan perintah Eris lalu mati tanpa rasa sakit.
Arkas tidak akan membunuhnya tapi kalau Sanya membunuh Elios, maka Arkas mau tak mau harus mengeksekusi Sanya.
Dalam kasus anak ini, kematian adalah jalan keluar terbaik.
"Sanya hh ...." Anak itu bergumam lemah. "Sanya ... tidak mendengar hhh perintah siapa pun."
Eris menginjak bekas muntahan Sanya hanya demi mendekat. Diraba bagian penutup mata anak itu untuk melepaskannya dan membuang begitu saja.
Di depan mata kanannya, Eris menghancurkan mata kiri Sanya.
"Aku akan datang satu minggu lagi," kata Eris tanpa rasa bersalah.
Pikirkan baik-baik karena Eris paling benci bercanda mengenai urusan Narendra.
Eris berbalik pergi dan meninggalkan Sanya begitu saja.
"Rawat dia sebaik mungkin. Beri juga pereda rasa sakit."
Eris tidak mau menyiksanya dengan rasa sakit karena percuma. Anak itu akan cukup tersiksa dengan setengah kegelapan.
*
__ADS_1
"Kamu hilang kendali dan mencekik Askala?"
Eris tidak berharap hal sebesar itu sampai terjadi ketika ia pergi beberapa jam saja. Padahal Eris sudah kembali lebih awal dari rencana, karena Sanya mempersingkat segalanya.
Tapi di waktu sesempit itu Arkas malah menyulut api?
"Aku tidak menyadarinya." Arkas bergumam dengan kepala tertunduk. "Tidak, lebih tepatnya aku terlalu marah."
Pria yang bahkan diam ketika Askala mengamuk tanpa alasan padanya?
"Apa yang Askala ucapkan?"
"Aku tidak berguna," gumam Arkas lemah. "Semua yang kulakukan hanya menambah kesalahan. Sekalipun aku bertanggung jawab, sebenarnya aku hanya melakukan hal tidak berguna."
Sembilan puluh persen pasti Askala marah soal perasaannya pada Arkas. Dia tidak menerima Arkas terus bertanggung jawab sebagai seorang kakak pada adiknya, sementara Arkas juga menolak perasaan Askala.
Tapi, ucapan itu pasti membuat Arkas memikirkan segalanya.
"Eris." Arkas semakin menunduk seolah-olah ada beban menekan punggung dan bahunya. "Aku kedinginan. Semakin hari semakin kedinginan."
Ini gawat. Padahal sekarang persoalan Roxanne dan Sanya masih belum selesai. Jika Arkas sampai—
"Untuk sesaat, aku membencimu." Arkas mendongak, tertawa getir. "Kamu juga merasakan ini, kan? Kedinginan karena tanggung jawab."
"Aku?"
"Aku membahas tentang Roxanne." Arkas menoleh ke tempat tidur Eris, di mana Roxanne masih terbaring koma. "Ketidaksempurnaan dirinya membuatmu merasa sedikit terhibur."
Ah, Eris lemah pada pembicaraan semacam ini.
__ADS_1