
Pada akhirnya yang menemani Elios adalah ibunya. Yang membantunya makan pun beliau.
Roxanne memutuskan undur diri agar memberi mereka waktu bersama, sekaligus ia harus turun meminum obat anti nyeri dari dokter.
Ketika berdiri di cermin kamarnya, Roxanne melihat jelas bekas cekikan Elios. Kulitnya sudah tidak biru, tapi ungu. Kulit kepalanya pun sebenarnya sakit karena perbuatan Elios.
Meski begitu, Roxanne malah merasa ini belum seberapa.
Keanehan rumah ini masih belum seberapa ia ketahui.
Soal Arkas dan Elios mau saling membunuh, soal Elios punya trauma aneh tentang penyalahan, soal Elios menyebut ibunya sendiri budak, lalu juga soal kenyataan Elios dan kembarannya adalah sepasang kekasih.
Arkas bilang itu sudah ada sejak dia ratus tahun silam. Kalau begitu, Nyonya Medea pasti tahu, kan?
"Roxanne."
Perhatian Roxanne seketika berakih ke pintu, di mana ibunya Elios berdiri. Karena perbannya mau ia ganti dan belum sempat, Roxanne buru-buru menarik selendang untuk menutupi itu.
"Ya, Nyonya?"
"Bagaimana kondisimu?"
Aku pikir dia tidak peduli, pikir Roxanne cukup heran. "Saya baik-baik saja."
Wanita itu menatapnya beberapa saat, memerhatikan leher Roxanne yang tertutupi selendang. "Berapa?"
"Maaf?"
"Kompensasi untuk lukamu. Berapa?"
Dia ingin membayarnya? Bukan menyalahkan Roxanne tapi membayarnya?
"Apa perlu?" tanya Roxanne tenang.
__ADS_1
Setelah banyak mengalami hal, ia mau tak mau belajar untuk bersikap lebih baik.
"Maksud saya, Anda tidak harus membayarnya. Sudah tugas saya karena Anda membawa saya untuk ini."
Walau mungkin terdengar sarkas, Roxanne tulus. Memang ia sudah meyakinkan diri bahkan jika ia dibawa untuk dipukuli, asal dapat uang, Roxanne akan diam.
Lagipula, ini kesalahannya. Ia yang memancing Elios dan percaya pada jebakan istri Elios lainnya.
"Saya tidak berbuat baik pada kamu. Lagipula saya tahu kamu yang menyebabkan Elios dihukum."
"Saya minta maaf untuk itu, Nyonya."
"Ini bukan kebaikan." Nyonya menatapnya angkuh. "Ini antara keuntungan dan kesetiaan."
"Maksud Anda?"
"Kamu dan siapapun bergerak atas hasrat tersendiri. Jadi tetap layani Elios sekalipun dia sudah berbuat buruk. Sebagai gantinya, saya akan memberi kamu kompensasi atas semua luka yang kamu terima."
Jadi dengan kata lain dia membeli kesetiaan Roxanne? Agar ia patuh, agar ia tetap diam, agar ia menerima semua perlakuan, sebagai gantinya dia memberi uang.
"Kalau begitu," Roxanne tidak perlu canggung jika ini memang sebuah bisnis, "tolong beri rumah untuk Ibu saya. Rumah dua lantai pun cukup. Halamannya tidak perlu besar asal satu mobil dan taman kecil bisa muat."
"Baiklah."
"Terima kasih, Nyonya."
Wanita itu berbalik, pertanda dia datang hanya untuk menanyakan kompensasi. Tapi, sebelum benar-benar pergi, mendadak dia menoleh kembali.
"Wanita itu, dia bukan ibu kandungmu, kan?"
"Ya, Nyonya."
"Lalu kenapa kamu memberikan segalanya?"
__ADS_1
Roxanne diam. Tak tahu kenapa ia cuma bisa diam, bahkan sampai Nyonya Besar pergi tanpa memaksanya menjawab.
Pandangan Roxanne kembali tertuju pada cermin. Pada bekas cekikan ungu di lehernya yang hampir patah, sebuah harga untuk rumah dua lantai bagi Ibunya.
Dia bukan wanita baik, bisik Roxanne pada dirinya. Ibu mungkin hanya sedikit menyukainya. Bukan sayang apalagi cinta.
Tapi ....
Hanya Ibu yang kupunya.
Jika tidak ada Ibu, tidak ada apa pun yang Roxanne punya di dunia. Maka dari itu, sedikit suka pun, tanpa cinta atau sayang pun, itu sudah cukup.
Nyatanya, Ibu tidak pernah meninggalkan Roxanne.
*
"Bukankah," suara cangkir diletakkan di piringnya adalah isyarat kecil perhatian, "selalu ada hukuman atas penghinaan terhadap Tuan Muda?"
Yang mengucapkan itu adalah Mariana dan yang menerima ucapan itu adalah Graean. Dalam ruangan itu, sebagian besar istri Elios berkumpul, kecuali mereka yang merasa tidak mau ikut dalam konflik.
Diane pun ada di antara mereka.
"Anda membiarkan seseorang menghina Tuan Muda? Hanya menyuruh merawatnya saja? Kenapa Nyonya Pertama jadi sangat baik hati sekarang?"
Graean memejam. "Untuk sekarang aku menghindari keributan. Kondisi Tuan Muda sedang buruk."
"Apa itu berarti boleh menghina?"
Diane mengamati ekspresi istri-istri yang lain.
Mereka tidak mau membiarkan Roxanne begitu saja. Karena di posisi mereka, Roxanne seperti mendapatkan privilege khusus sementara mereka tidak.
Tapi nampaknya Graean mau tetap diam.
__ADS_1
*