
"Eri."
Sesuatu mengguncang lembut lengan Roxanne, berusaha menariknya dari alam mimpi yang gelap.
"Eri, bangunlah. Eri."
Eri? Siapa Eri?
Roxanne butuh waktu beberapa detik untuk ingat bahwa itu adalah nama barunya, sekaligus nama palsu yang akan tersemat padanya.
Kelopak mata Roxanne terbuka perlahan. Disambut oleh senyum lembut Elios yang sekarang tengah menatapnya lembut.
Ah, kebohongan ternyata memang manis.
"Eri."
Elios mengelus pipinya seolab Roxanne adalah sebuah permata indah dan satu-satunya di dunia.
"Aku membangunkan kamu. Maaf. Tapi lihat, sedang gerimis di luar. Eri menyukai gerimis pagi, kan?"
Jadi begitu. Sekarang Roxanne harus suka pada gerimis, kah?
Baiklah.
"Terima kasih." Roxanne tersenyum sama manisnya. "Tapi, Eli."
"Hm? Ada apa?"
"Bisakah kamu berjanji padaku?"
"Aku bersumpah." Elios bahkan tidak perlu bertanya apa dan langsung menjawab demikian.
__ADS_1
Tangan Roxanne dibawa ke depan bibirnya. Elios mengecup punggung tangan Roxanne tanpa menyembunyikan cinta di matanya yang berkabut akibat obat.
"Kalau begitu," Roxanne bangun dan menjatuhkan dirinya ke pelukan Elios, "jangan terima saran apa pun yang menyuruh kamu menjauh. Aku tidak mau."
Jangan sampai Graean ataupun Nyonya Besar datang lalu berkata 'Eirene harus ganti baju, mandi, atau bertemu dokter secara pribadi jadi berpisah sebentar'.
Karena kalau berpisah, Elios akan dibuat tertidur lama lagi agar tidak melihat Roxanne.
"Kenapa harus berjanji untuk hal itu?" Elios memilin ujung rambut Roxanne main-main. "Itu bukan janji, Eri. Itu keharusan. Mulai sekarang jangan pergi ke mana pun."
Elios tak berhenti di sana, tapi juga mengelus-elus sayang rambut Roxanne.
"Aku yang akan menyuapi Eri makan, jadi Eri tidak perlu melakukan apa-apa. Aku juga akan membantu Eri mandi, jadi pelayanmu tidak dibutuhkan."
Roxanne meletakkan tangannya di tengkuk Elios, balas memeluknya. "Jaga aku."
Mau ini hina ataukah tidak pantas, hanya ini cara bagi Roxanne hidup nyaman. Ia sama sekali bukan orang yang mau hidup dalam tekanan kesendirian, diabaikan oleh sekitarannya
Tidak. Masa bodo dengan caranya.
"Lalu, Eli," Roxanne menjauhkan diri sejenak dan tersenyum, "bisakah kamu minum sesuatu untukku? Harus teratur, dua kali sehari."
Elios tersenyum cerah. "Ya."
Eh? Roxanne tahu dia dalam pengaruh halusinogen tapi dia bahkan tidak bertanya apa?
"Kamu tidak penasaran apa?"
"Tidak." Elios kembali mencium jemari Roxanne. "Apa lagi? Aku harus apa agar Eri terhibur?"
Orang ini sepertinya juga akan minum racun jika Eirene menyuruhnya demikian. Nampak sudah tidak perlu dipertanyakan lagi alasan mengapa dia begitu gila memikirkan kembarannya.
__ADS_1
Karena dia memang sudah terlalu jatuh cinta.
*
"Terikat selama satu bulan penuh bukan hukuman yang mudah," ucap Graean pada Mariana dan Diane. "Bahkan jika itu Tuan Muda, menangani kerusakan mental bukan hal mudah. Jadi itu tidak terlalu aneh jika Tuan Muda menganggap Roxanne sebagai Nona Muda, beberapa hari."
"Anda yakin ini tidak berterusan, Nyonya?" Mariana membalas cemas. "Saya rasa dampaknya tidak akan baik jika dibiarkan terlalu lama."
"Tentu, itu tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Aku juga akan berusaha keras."
Pandangan Graean berpindah pada Diane yang sejak tadi diam mendengarkan.
"Awasi Roxanne baik-baik, Diane."
"Maaf?"
"Aku merasa Roxanne menyembunyikan sesuatu yang berbahaya." Graean mengerutkan keningnya frustrasi. "Dia selalu dalam posisi korban tapi itu berterusan dan terus mendorong dia bersama Tuan Muda. Aku tidak akan percaya kalau semuanya cuma kebetulan."
Diane diam-diam mengingat obat yang Roxanne pegang di hari Arkas berkunjung.
Kalau dipikir-pikir, Elios juga menganggap Roxanne sebagai Eirene tepat setelah hari itu.
Dan lagi, Roxanne di awal terlihat takut dan sedih.
Namun ketika dia bolak-balik mengunjungi ruangan Elios lalu malam itu, Roxanne hanya terlihat seperti memikirkan sesuatu yang rumit.
Haruskah aku beritahu? Diane bertanya-tanya apakah ia perlu berbagi informasi itu atau tidak.
"Roxanne bukan wanita yang diam saja setelah tercekik." Graean menatap kedua wanita di depannya lamat-lamat. "Dia akan meringkuk satu hari, lalu berusaha di hari-hari setelahnya."
*
__ADS_1