
"Sudah kuduga dia datang karena itu." Eris berucap begitu mendengar suara Arkas keluar dari kamar Askala. Tentu saja, amukannya yang sulit ditangani itu juga sudah berakhir. "Kamu terlalu dekat dengan Roxanne."
"Bukan masalah dekat tidak dekat."
Arkas berlalu, terdiam menyadari bahwa Eris benar. Tapi, Arkas tak pernah bisa menyalahkan Askala.
"Adikku selalu jadi adikku. Kuharap Roxanne memaafkannya, semoga."
Entahlah. Roxanne itu lemah dan terlihat bodoh, tapi saat dia sudah membenci sesuatu, sulit bagi dia berhenti melakukannya. Buktinya, tak peduli apa yang Eris lakukan, Roxanne tetap saja marah.
"Bicara soal Roxanne, kenapa kamu di sini? Bukannya tugasmu menemani dia selama Askala menetap?"
"Niatku begitu." Eris bergumam. "Tapi saat pergi membersihkan diri, tahu-tahu Askala sudah datang dan Elios membawa Roxanne pergi."
"Elios?"
"Entah apa yang anak itu pikirkan." Eris menghela napas. "Tapi kamu percaya Elios peduli pada istrinya?"
Arkas menatap Eris dan Eris memerhatikan Arkas sekalipun tak bisa melihatnya. Mereka berdua langsung teringat hari di mana Elios menyerahkan mayat empat istrinya.
Anak itu menatap hasil perbuatannya tanpa rasa bersalah. Bahkan sekalipun dia baru saja dipukuli habis oleh Arkas, Elios hanya seperti melihat sampah dibuang ke tempat seharusnya.
Mungkin orang lain tidak mau menerimanya karena hati nurani. Tapi Arkas dan Eris harus mengakui bahwa Elios sangat mencintai Eirene. Dia terlalu mencintainya sampai-sampai Elios lebih suka hidup dengan bayangan Eirene daripada seluruh wanita yang dia miliki.
__ADS_1
"Kenapa kamu membunuh istrimu? Kesalahan apa yang mereka buat?" tanya Eris waktu itu.
Anak itu, Elios, menjawab dengan suara muram, "Mereka berpikir menyaingi Eri."
"Mereka istrimu jadi tentu saja mereka berlomba-lomba ingin kamu mencintai mereka. Apa yang salah dari itu?"
"Bersaing dengan Eri berarti menganggap diri mereka sepadan." Hawa di sekitar Elios terbakar oleh amarahnya. "Kakak membenarkan tindakan mereka menganggap derajat mereka sama dengan Eri? Begitu?"
"Tidak." Eris menjawab demikian. "Aku tidak membenarkan tindakan mereka menyaingi Nona Narendra."
Tapi membunuh empat istrinya sekaligus sudah membuktikan bahwa Elios tidak peduli besar kerugian yang dia dapat. Dia tidak peduli sekalipun Arkas mencabut sejumlah besar kekayaan Elios yang dikelola oleh empat istrinya itu.
Tidak. Dari awal, Elios bahkan tidak peduli apa yang istrinya makan. Kalau bukan karena kerja keras Graean juga Daniel dan Zack, semua yang Elios miliki pasti hanya dirinya sendiri.
"Eris."
"Hm?"
Arkas menjatuhkan diri ke atas tempat tidurnya, duduk mendongak pada Eris.
"Sekali lagi aku bertanya, kamu mencintai Roxanne?"
Eris mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Ada apa? Kamu masih belum memikirkan itu?"
"Tidak. Aku memikirkannya dan aku tidak tahu. Roxanne menjauh dariku jadi sulit memikirkan jawaban soal cinta atau apa pun."
"Kalau begitu," Arkas meremas tangannya satu sama lain, "jika harus memilih antara Nernia hidup kembali atau bersama Roxanne kedepannya, kamu akan memilih siapa?"
Mulut Eris terbuka samar, hendak menjawab tapi kembali terkatup. Pertanyaan itu sangat kejam baginya. Antara istri yang ia bunuh namun sangat ia cintai dengan adik ipar yang membuatnya tergoda melangkahi batas—Arkas menyuruhnya memilih?
".... Roxanne."
"Kamu memilih Nernia, kan?" Arkas tersenyum. "Kamu bukan pria yang akan memberi jeda selama itu untuk jawaban yang kamu pilih."
Nernia sudah mati. Kalau dipilih pun dia tidak akan hidup. Dan jika dia hidup Nernia pasti tetap ingin membunuh Arkas dan Eris akan tetap membunuhnya demi Arkas.
Bukankah sudah jelas jawabannya Roxanne?
"Kamu tidak merasa Roxanne dan Askala itu sama?" Arkas menutup wajahnya dan tertawa pelan, namun terkesan sedih. "Mereka sama-sama berharap dicintai apa adanya."
"Dan apa adanya diri mereka berdua itu menjijikan?"
Arkas tersenyum. "Ya. Mereka berdua menjijikan tapi berharap dicintai."
*
__ADS_1