Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
34. Mental yang Rusak


__ADS_3

Roxanne sedikit tidak percaya pada efek obat pemberian Arkas itu. Ia tak tahu berapa lama obatnya akan bekerja dan apakah Elios harus diberi dalam jumlah sama atau semakin ditingkatkan.


Dia bilang ini narkotika, kan? Berarti akan ada waktu Elios butuh dosis lebih tinggi dan semakin tinggi.


Tentu saja, sebelum itu ... Roxanne akan menjadi hantunya Eirene.


Setelah berkata ia tidak marah, Elios langsung tidur nyenyak memeluknya. Roxanne bahkan tidak percaya kalau sekarang ia berbaring di kasur Elios.


Bahkan jika Elios dikekang selama sebulan, Graean benar-benar menjaga agar tempat tidur ini tetap berbau harum menyegarkan.


"Elios."


Mendadak, pintu kamar terbuka dan sosok Nyonya Besar datang dengan tergesa-gesa.


Roxanne sedikit merasa panik akan situasi ini, tapi ia berusaha terlihat tenang. Sekarang Roxanne adalah pihak yang dipaksa.


Semua orang harus berpikir begitu.


"Elios." Nampaknya Graean sudah sempat bicara pada ibunya Elios hingga beliau tidak mempermasalahkan keberadaan Roxanne.


Wanita itu cuma mendekat, berlutut di samping tempat tidur.


"Elios, ini Ibunda. Elios."


Elios menggeliat terganggu. Perlahan bangkit dari posisi berbaringnya, memegangi keningnya pertanda dia masih sakit kepala.


Sekali lagi, Roxanne waspada jika Elios sudah tidak terpengaruh obat.


"Ibunda." Elios bergumam rendah. "Ada apa?"

__ADS_1


Sebelum sempat bicara apa-apa, pelukan lebih dulu diberikan. Roxanne menyaksikan itu dalam diamnya, hanya bisa merasa seperti pengganggu ketika ibunya Elios menangis kecil.


"Kamu baik-baik saja," gumam ibundanya. "Kamu baik-baik saja, Anak Nakal. Ibunda sangat khawatir."


Elios tersenyum lembut. "Ibunda yang terlalu mudah khawatir. Aku sudah dewasa. Tidak perlu terlalu memikirkanku."


"Anak dewasa mana yang membuat Ibundanya menangis setiap waktu."


Sepertinya pengaruh obat itu sudah hilang. Kalau begitu Roxanne harus segera pergi sebelum Elios menyadarinya.


Sepelan mungkin Roxanne menjauh, turun dari tempat tidur untuk pergi ke kamarnya. Tapi ....


"Eri."


Bukan hanya Roxanne, Nyonya Besar juga membeku.


"Eri, kamu ingin ke mana? Kamu masih harus istirahat. Demammu tinggi sejak kemarin."


Roxanne berbalik tanpa bisa menyembunyikan raut tercengangnya. Dan yang lebih sulit dipercaya, Elios tersenyum manis padanya.


"Kemari. Jangan berkeliaran atau Ibunda menyuruhmu minum jahe lagi."


Kelopak mata ibunya bergetar menatap Elios. "Elios, kamu—"


"Hm?" Mata Elios terbuka lebar dan tersenyum hangat pada ibunya. "Ibunda, Eri demam tinggi semalam sampai aku juga bisa merasakannya. Harusnya Ibunda lebih menjaga Eri. Nona Muda Narendra tidak boleh sering sakit."


"Elios, tapi ... tapi ...."


"Ada apa?" Ekspresi hangat Elios seolah mendadak dibekukan oleh gunung salju yang turun. "Kenapa Ibunda menangis? Aku bilang Eri demam."

__ADS_1


Pria ini ... tidak, bukan cuma Elios. Arkas, pria itu juga, dia tahu bahwa mental Elios sepenuhnya telah rusak akibat kematian Eirene dan dia memberinya sebuah pemicu agar semakin rusak.


Roxanne mendadak kedinginan. Walau ia yang memutuskan untuk berada di sini menjalani semua ini, tetap saja semua terasa dingin mencekik.


"B-benar." Nyonya Besar tersenyum paksa. "Kalian memang selalu terhubung. Jika Eirene sakit, Elios pasti juga jatuh sakit. Anak Ibunda memang merepotkan."


Elios kembali tersenyum hangat. "Jangan memaksa Eri minum jahe lagi, Ibunda. Berikan saja yang dia mau."


"Tentu. Tentu saja."


Nyonya Besar mencium sisi wajah Elios sebelum beranjak, pergi menghampiri Roxanne. Saat itu, beliau diam-diam berbisik.


"Turuti kemauan Elios. Pura-pura sakit atau apa pun. Akan saya berikan kompensasinya nanti."


Padahal yang membuat dia begitu juga Roxanne.


Aku perempuan yang menjijikkan.


Roxanne tersenyum kecut dalam dirinya, tapi tanpa ekspresi di luar. Ia kembali ke kasur Elios, berbaring dan memerankan perannya sebagai boneka yang sakit.


"Eri, kepalaku masih sakit." Elios menyentuh sangat hati-hati kening Roxanne, tentu saja sambil berpikir ia adalah Eirene. "Kepalamu pasti sangat sakit juga sekarang. Tidurlah dulu. Ibunda akan memanggil dokter Cintya."


Nyonya Narendra hanya bisa memandang itu dalam diam.


Sebagai ibunya, tentu beliau adalah salah satu yang paling tidak bisa menerima kematian Eirene. Tapi, Elios sejak awal merusak dirinya sendiri karena tak mau menerima sama sekali.


"Ohya, Elios. Ibunda membawa seseorang bersama Ibunda."


Nyaris bersamaan dengan itu, terdengar suara gema teriakan.

__ADS_1


"Kakak!"


*


__ADS_2