Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
107


__ADS_3

Mariana berusaha keras memenuhi permintaan Elios. Sejak diberi perintah hingga sekarang, ia tak berhenti mengawasi kamar Roxanne agar bisa menyelinap.


Akhirnya ada kesempatan di mana Eris tidak mengunjungi Roxanne.


"Biar aku yang pergi." Diane bergegas pergi setelah melihat Arkas menjauh dari kamar itu, yang berarti dia akan kembali ke bangunan utama.


Mariana mengawasi punggung Diane sambil sesekali melihat Arkas. Sedangkan Diane berusaha agar langkahnya tetap pelan, sampai benar-benar mencapai pintu kamar Roxanne.


Tanpa mengetuknya, Diane menggeser pintu terbuka.


Menyebabkan Roxanne terkejut di dalamnya.


"Diane?"


"Apa yang kamu lakukan di sini?" ucap Diane tiba-tiba. "Hanya kamu yang bebas sekarang dan kamu justru hanya bersantai di kamarmu."


Tentu saja Roxanne tak mengerti tiba-tiba mendapat kalimat semacam itu. Bukankah justru Roxanne yang terkurung dan mereka semua bebas?


"Ada apa?" Roxanne berusaha meresponsnya cepat. "Tuan Muda Pertama menyuruhku beristirahat jadi aku—"


"Roxanne, aku benar-benar takjub pada bagaimana kamu mempertahankan kenaifan itu sampai sekarang."


Roxanne tertegun.


"Sepertinya apa pun yang terjadi, kamu memang lebih suka menjadi dirimu sekarang."


Emosi Roxanne masih belum stabil setelah Eris dan Arkas membuatnya marah. Lalu sekarang Diane malah datang memarahinya seolah-olah segalanya salah Roxanne?


"Apa maksudmu? Katakan saja dengan jelas. Aku harus apa?"

__ADS_1


"Apa lagi? Kamu tidak bisa memikirkan sendiri? Nyonya Graean sudah tidak ada."


Roxanne menatapnya marah. "Sudah kubilang katakan langsung."


"Tuan Muda Elios tidak memiliki pelindung sama sekali di rumah ini. Itu maksud kematian Nyonya."


Tatapan Diane justru sama membaranya dengan Roxanne.


"Nyonya Graean dibutuhkan dalam banyak hal, jika kamu tidak tahu sama sekali. Tuan Muda Elios mungkin adalah Narendra tapi beliau terbuang. Jika harus menyebutnya secara kasar, maka posisi Nyonya Graean bahkan jauh lebih baik daripada Tuan Muda Elios di rumah ini."


"Lalu kenapa kamu berbicara seakan itu salahku? Bukan aku yang membunuh Nyonya!"


Diane menggertak giginya, tak menyembunyikan rasa jijik di sana. "Sejak awal, kamu memang wanita yang seperti ini."


Perasaan Roxanne tak menentu. Kenapa Diane tiba-tiba melakukan ini? Kenapa dia terkesan sangat memvenci Roxanne? Ini bahkan berbeda dari saat dia berkata membenci Roxanne tapi ekspresinya datar.


Dan yang paling membuat Roxanne terkejut, Diane mencengkram kerah gaunnya, berteriak marah.


Roxanne membeku.


"Jika kamu benar-benar ingin menjadi Nyonya, kamu bahkan harus menjilat kaki Tuan Muda sekalipun kepalamu terinjak-injak! Itu yang Nyonya Graean lakukan dan itu perbedaan beliau denganmu!" teriak Diane.


"Aku—"


"Kamu sudah mendapatkan perhatian istimewa dari Tuan Muda Pertama. Sejak awal aku sudah sering memberitahumu, aku selalu datang dan memberimu sedikit saran agar kamu bertahan, tapi yang kamu lakukan hanya bermalas-malasan!"


"Aku terluka!"


"Kamu yang melukai dirimu sendiri!"

__ADS_1


Jantung Roxanne serasa luruh. Ia menjadi pucat menatap Diane yang melotot marah padanya.


"Aku tahu karena aku melihatnya sendiri! Menurutmu aku bodoh, hah? Aku mengawasimu setiap waktu dan aku tahu hubunganmu dengan Sanya! Berhenti bertingkah bodoh!"


Sial, sial, sial.


Jika Diane sampai memberitahu semua orang tentang itu, Roxanne bisa dihukum mati. Ia setidaknya tahu itu, sebab properti Elios pada dasarnya milik Narendra yang dipinjamkan.


Diane mendorongnya sekaligus melepaskan kerah Roxanne.


"Kamu sangat manja dan menyebalkan. Mengerti hal kecil saja tidak bisa. Nyonya Pertama sudah tidak ada dan perbuatanmu bersama Sanya dilimpahkan pada beliau. Padahal kehormatan terbesar Tuan Muda itu terletak pada Nyonya Pertama. Memang dasar perempuan bodoh."


Roxanne mengepal tangannya dengan kepala tertunduk.


Ia tahu harus diam sekarang sebab jika Diane mengancamnya lebih jauh, Roxanne akan dalam bahaya.


"Ada apa?" Roxanne kembali mendongak, berpura-pura seakan kejadian barusan tidak terjadi. "Apa terjadi sesuatu pada Tuan Muda? Jika kamu tidak tahu, aku ingin pergi saat Daniel menjemputku tapi Tuan Muda Kedua melarang."


Diane menatapnya dingin. "Menyadari kamu kesayangan Tuan Muda Pertama juga tidak bisa."


"Apa?"


"Menurutmu Tuan Muda Pertama dan Tuan Muda Kedua benar-benar sebaik itu, datang memberi makan setiap hari pada istri Tuan Muda Elios? Jika kamu benar tidak tahu, Nyonya Medea mengurung kami semua."


"Nyonya melimpahkan kesalahanmu pada kami. Menyebut kami tidak bertanggung jawab dan tidak menjalankan tugas kami sesuai harga. Nyonya bahkan mengancam akan membunuh kami semua karena sudah tidak berguna."


Roxanne menapas napas.


"Hanya kamu yang menikmati semua ini sekarang jadi kenapa sedikit saja kamu tidak bisa berpikir? Lakukan tugasmu."

__ADS_1


*


__ADS_2