
"Ini aneh."
Sierra melangkahkan kakinya masuk ke ruangan paling puncak Kastel Bintang, sebuah kastel khusus yang sejak dua ratus tahun lalu menjadi tempat tinggal wanita Narendra pada umumnya.
Itu adalah kastel di mana anak-anak Narendra lahir, lalu tumbuh besar sebelum mereka dipindahkan ke Kastel Mawar saat sudah berusia tujuh belas tahun.
Dalam ruangan yang Sierra masuki, terdapat ratusan foto dan lukisan anak-anak perempuan Narendra. Semuanya disimpan di tempat ini dan dianggap benda berharga.
Tapi, fokus Sierra tertuju pada altar di sana. Kakinya melangkah menaiki tangga kecil satu per satu, sampai Sierra berhenti di dekat peti kaca bening yang kokoh.
"Kakak."
Dalam peti itu ada hawa dingin yang membekukan bunga mawar bersama mayat seorang wanita cantik berambut silver.
"Kakak Eirene." Sierra menyentuh permukaan peti itu dan cemberut. "Kenapa Kakak Elios berkata gadis itu Kakak, padahal Kakak yang asli ada di sini?"
Tentu saja Sierra bisa mengerti kalau ada alasan kenapa. Tapi, apa pun alasannya, itu kan tidak boleh.
Bagaimana bisa kakaknya dibandingkan dengan orang itu?
"Kakak." Sierra mengguncang kecil peti kokoh itu seolah berusaha membangunkan Eirene. "Kakak, ada gadis jahat coba mengambil posisi Kakak. Dia mengaku-ngaku sebagai Kakak dan tidur di ranjang Kakak Elios. Orang seperti dia tidak layak diampuni."
Sierra tidak suka.
Ia paling tidak suka kalau seseorang coba mengusik apa yang menurutnya tidak boleh diusik.
__ADS_1
Saat Eirene mati, Sierra tidak merasa sedih bahkan sampai detik ini. Ia sedikitpun tidak bersedih, karena Eirene berkata bahwa dia mati atas keinginannya, dia mati karena dia ingin terus menjadi Narendra dan dia mati untuk kehormatan Narendra.
Sierra tak mengerti kesedihan Elios. Tapi, sesedih apa pun, Elios kan tidak boleh menolak kenyataan lalu mengganti Eirene begitu saja.
"Kakak." Anak berusia empat belas tahun itu tertawa keji pada mayat Eirene. "Tolong lihat aku dari sini. Akan kubuat orang tidak tahu diri itu menyesal."
Tidak boleh ada yang mengusik kakak kesayangan Sierra.
*
"Tuan Muda sedang tertidur."
Roxanne tak banyak berekspresi saat Graean memberitahunya di depan pintu, ketika Roxanne mau berkunjung.
"Apa ini soal Tuan Muda yang memanggil saya Eri?"
"Jaga mulutmu, Roxanne. Beliau Nona Muda Narendra. Panggil beliau dengan pantas."
"Maaf." Roxanne sedang berpura-pura tidak tahu siapa itu Eri. "Tapi siapa yang Tuan Muda maksudkan?"
Tatapan Graean mengatakan kalau dia curiga Roxanne cuma berbohong. Tapi, dia tidak punya bukti untuk memastikan itu. Yang memberitahu Roxanne tentang Eirene itu Arkas. Kecuali Arkas memberitahukan padanya, dia tidak akan pernah tahu.
Dan kurasa Arkas memihakku, setidaknya sekarang.
"Ini bukan waktunya membahas itu." Graean menjawab setelah terdiam cukup lama. "Pergilah, Roxanne. Aku sedang lelah."
__ADS_1
".... Baik."
Pintu tertutup rapat meninggalkan Roxanne sendirian di lorong. Itu sangat lucu karena sebelumnya Elios memperlakukan Roxanne seperti kaca, lalu sekarang ia ditinggalkan seperti sampah.
Mungkin kalau tadi Roxanne tidak beranjak, ia bisa menyuruh Elios meminum obat lagi dan dia akan terus menganggap Roxanne sebagai Eirene.
Aku benci ini. Roxanne menatap dingin kekosongan koridor. Aku mulai benci permainan mereka padaku.
Sampai kapan sebenarnya ia harus mengalami hal bodoh ini?
*
Graean hanya duduk memandangi ketenangan di wajah Elios. Demam Elios sudah turun dan tak pernah lagi naik sejak pagi, tapi Elios terus berbaring seolah-olah tubuhnya sendiri belum pulih sama sekali.
"Tuan Muda." Graean berbicara pada keheningan kamar Elios seraya menatap wajah damainya itu. "Tidak bisakah Anda pura-pura tidak mengingat Nona Eirene?"
Graean adalah istri pertama Elios. Dengan kata lain, ia sudah bersama Elios sejak usia Elios tujuh belas tahun—usia pernikahan wajib bagi pria Narendra.
Tentu saja, Graean menikahi Elios dan tahu betul betapa istimewa Eirene. Saat masih hidup, Graean lebih banyak berperan sebagai dayang Eirene daripada istri Elios.
"Kamu senang aku memutuskan ini, kan?" Itu yang Eirene ucapkan diam-diam pada Graean beberapa jam sebelum kematiannya. "Kamu tidak akan memberitahu Eli, karena kamu selalu berharap aku tidak ada. Tapi tidak masalah. Jadi Graean, jaga Eli-ku baik-baik."
Pada akhirnya Elios yang tidak melepaskan Eirene.
*
__ADS_1