
Elios tak bisa melakukan apa-apa dalam posisi terikat ini. Ia bahkan cuma diberi kesempatan bebas tiga kali sehari untuk ke kamar mandi, di waktu yang sudah Arkas tentukan.
Eros tidak memberontak. Pria itu malah menghabiskan harinya dengan tidur sampai kemudian ia terbangun.
Ada seseorang yang datang tanpa suara.
Eris. Elios jelas bisa mengenali kakaknya sekalipun kedua matanya tertutup oleh besi. Hanya Eris yang mungkin bisa diizinkan oleh Arkas datang ke sel ini. Lagipula dari semua orang, saudara kandung Elios setelah Eirene hanyalah Eris.
"Adik bodohku." Suara Eris terdengar samar.
Elios bisa membayangkan dari balik besi penutup matanya, Eris tengah duduk di lantai sembari menghisap asap rempah. Sama seperti yang Elios lakukan saat makan bersama semua istrinya.
"Apa kamu tidak memikirkan harga dirimu bahkan sedikit, Elios?" tanya dia.
Mulut Elios juga tertutup, jadi mana mungkin ia bisa menjawab. Namun Eris pasti sudah tahu apa jawaban Elios.
"Atau kamu memang sengaja ingin menghinakan Eirene?" kata Eris lagi.
Elios bergerak. Agak memberontak saat nama kekasih sekaligus kembarannya disebut.
__ADS_1
"Dia menyuruhmu hidup dengan baik," gumam Eris. "Adik kecil itu meminta agar kamu menjunjung tinggi namamu sebagai Narendra, bahkan jika itu sudah tercabut."
Bahu Elios melemas. Itu seperti sebuah kekuatan sihir. Saat Eris bicara, dengan nada yang sangat tenang, bahkan Elios tidak bisa melawannya.
Dia tidak pernah marah. Tapi dia tidak pernah memberi ampunan.
"Elios." Tiba-tiba sebuah tangan panjang meraih wajah Elios. Eris meraba-raba sampai bisa memegang kedua pipi Elios.
Sepasang saudara yang saling tak bisa melihat itu satu sama lain merasa bisa saling menatap. Mata Eris buta, tapi Elios mengingat jelas bagaimana mata kakaknya saat dia menatap Elios.
Saat Elios melakukan kesalahan.
Batang besi di mulut Elios menghalanginya bicara. Namun suaranya bocor seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Aku tahu. Aku tahu, Adikku, kamu tidak sengaja." Eris mengusap-usap rambut Elios lembut. "Tapi," bisiknya pekan, "nyatanya tetap salah, kan?"
Elios tidak takut pada Arkas. Jujur saja, ia bahkan tidak takut pada Paman Pemimpin. Tapi Elios takut pada Eris. Ia selalu takut pada kakaknya yang ini sampai Elios kerap bersembunyi dibalik punggung Eirene. Elios tak tahu kenapa.
"Elios." Eris masih terus mengusap kepalanya seolah dia menganggap Elios anak kecil. "Bisakah aku mendengar permintaan maaf dirimu? Minta maaflah sudah berbuat salah."
__ADS_1
Benar. Mungkin salah satu alasannya adalah ini.
Eris tidak pernah peduli pada aturan 'Narendra tidak boleh meminta maaf'. Eris berbeda. Eris sering meminta Narendra agar minta maaf dan Elios menjadi salah satu yang paling sering mendengar itu.
"Elios." Eris berhenti mengusapnya. "Aku bisa melihat meskipun buta, jadi jangan khawatir. Aku pun bisa mendengar tanpa ada suara. Minta maaflah dengan benar."
Elios menelan ludah. Ia tidak akan dipukuli jika tidak menurut. Eris juga tidak akan pernah menyakitinya. Tapi itulah yang menakutkan. Eris membuat Elios seperti tidak bernapas sampai permintaannya terwujud.
Dan Elios hanya merasa bahwa hidupnya dalam bahaya jika sampai Eris marah. Perlahan, mulut Elios terbuka di antara besi di antara giginya. Ia tak bisa bicara tapi jika bisa, maka sekarang ia sedang minta maaf.
Maaf. Maaf sudah berbuat salah.
"Senang mendengarmu sadar akan hal itu." Eris terdengar tersenyum. "Tapi sekalipun sudah minta maaf, Arkas tetap menghukummu. Mau bagaimana lagi. Dia Tuan Muda Pertama. Dia berhak melakukannya."
Hal itu tidak akan pernah berubah. Sekalipun Eris tidak pernah berkata setuju pada Arkas, dia juga tak pernah menentang Arkas. Dan ... mata Eris itu ... hilang untuk Arkas.
"Karena hukumanmu tidak bisa dicabut, kurasa sekarang kamu harus menebus kesalahan itu."
Perasaan Elios tidak baik.
__ADS_1
*