
Elios tak tahu kapan sebenarnya ia bisa berhenti memimpikan Eirene. Tapi setiap saat, Elios tak bisa berhenti memikirkannya dan terus menyebut namanya bahkan dalam tidur.
"Eri."
Elios merindukannya.
"Eri."
Elios ingin memeluknya. Menciumnya. Melakukan berbagai macam hal dengannya.
"Hah." Elios menghela napas begitu terbangun dari mimpinya. "Kenapa harus di saat seperti ini?"
"Aku juga bertanya-tanya tentang itu," timpal seseorang.
Elios tersentak. Mendadak jadi tegang mendengar suara Eris di dekatnya, yang berarti dia datang saat Elios sedang tidur.
"Bisa-bisanya kamu menikmati mimpi 'kotor'mu itu di ruang hukuman. Menyebut nama Eirene berulang kali, aku hampir mencabut jantungmu," kata Eris.
Mulut Elios yang tak lagi tertutup kini bisa membalasnya. "Bagaimana aku bisa lupa pada kekasihku sendiri, Kakak? Tentu aku mengingatnya kapan saja."
"Berhenti menyebut Eirene kekasihmu di depanku. Kamu tahu aku tidak menyukai hobi aneh itu."
"Baiklah." Elios tersenyum. "Lalu, ada apa? Kakak tidak datang padaku tanpa alasan, kan?"
__ADS_1
"Aku datang untuk memberitahu sesuatu."
"Hal yang secara langsung Kakak bawa." Elios bergumam. "Sepenting apa itu?"
"Tidak penting, mungkin saja. Atau penting, tergantung padamu," jawab Eris.
"Hm?"
"Mengenai istrimu, Roxanne."
"Kakak tahu aku tidak menganggap istriku penting," ucap Elios setengah tertawa.
"Aku akan tidur dengannya."
Tubuh Elios secara alami menegang kaku. Matanya masih tertutup oleh besi hitam, tapi Elios mendongak seolah-olah mencari wajah Eris untuk ditatap secara langsung.
Bahkan Arkas yang menghina Elios tidak sampai meniduri istri Elios sekalipun tahu itu akan sangat menghina.
"Tidur dengan istriku?" Elios berucap dingin. "Kakak bernafsu pada istriku?"
"Entahlah. Aku tidak tahu wajahnya jadi aku tidak bisa memastikan dia secantik Nernia atau tidak."
"Lalu kenapa?"
__ADS_1
"Aku datang memberitahu apa yang akan kulakukan, bukan menjelaskan alasannya." Eris terdengar beranjak pergi. "Hanya itu saja. Tidurlah lagi."
Roxanne .... Elios harus bertemu dia sekarang juga. Dia tidak boleh terlibat jauh dengan Eris.
*
"Nyonya, Tuan Muda Elios meminta Anda berkunjung ke selnya."
Roxanne terkejut pagi-pagi ia didatangi oleh Daniel yang menyampaikan pesan tersebut. Terlebih perasaan Roxanne sebenarnya tidak baik setelah kemarin bertengkar dengan pria kurang ajar itu mengenai Eirene.
Sekarang Elios memanggil?
"Tuan Muda Pertama mengizinkan?" tanya Roxanne memastikan. Setahunya, Arkas tidak mengizinkan itu kemarin-kemarin.
Daniel menatap wajah Roxanne. "Saya datang menyampaikan keinginan Tuan Muda Elios Desnomia Yasa, Nyonya Roxanne Yasa. Tolong tanamkan dalam diri Anda identitas itu."
Hah? Tiba-tiba membawa Yasa setelah semuanya? Maksudnya tidak peduli apa kata Arkas, Elios bukan Narendra jadi dia meminta Roxanne yang juga bukan bagian dari Narendra, berhenti menuruti perintah Arkas yang seorang pemimpin Narendra?
"Aku—"
"Tindakan tanpa izin di tanah Narendra sudah terhitung pengkhianatan." Suara itu menyela Roxanne yang kesulitan berbicara.
Tentu saja Roxanne berbalik, melihat Dwi datang dengan pakaian tradisional Narendra. Itu membuat Roxanne ingat pada Elios, tapi Dwi memakai pakaian yang lebih sederhana.
__ADS_1
"Yasa adalah nama hina." Dwi berjalan pasti, lalu berdiri tepat di depan Roxanne seolah menghalangi Daniel darinya. "Mengapa orang dengan nama hina itu bersikap seenaknya di tanah Narendra?"
".... Saya hanya menjalankan perintah Tuan Muda Elios, " kata Daniel, mendadak gugup.