
Elios selalu menyalahkan dirinya sendiri, sampai detik ini. Tapi akal sehat bekerja bahkan ketika hati mengatakan hal lain.
Pada kenyataannya Elios menolak penyalahan itu. Bukan salahnya. Itu bukan dirinya. Bukan ia yang membunuh Eri-nya. Jika Elios pelakunya, kenapa Elios melakukan hal yang menyiksa diri sendiri?
Tapi Arkas menyalahkan Elios. Karena Arkas tak bisa menerima kematian Eirene sebagaimana Elios tidak menerimanya. Lalu Eris ... memilih Arkas ketimbang Elios.
"Nernia merencanakan pemberontakan karena dia ingin Kakak menjadi kepala keluarga utama." Elios membiarkan kegilaan lain itu menguasainya. Ia harus gila untuk mengungkapkan semua ini di depan kakaknya yang menakutkan.
"Lalu kakak yang menilai itu akan menyulitkan Arkas langsung membunuh Nernia. Agar tidak ada satupun orang yang mengganggu kekuasaan Arkas."
"Nernia adalah pengkhianat, Elios. Jangan bicara seakan-akan ada kehormatan baginya."
"Ya, dia pengkhianat. Aku mengakuinya. Lagipula aku tahu dia cuma ingin jadi Nyonya Utama. Bukan karena dia merasa Kakak lebih pantas."
Eris mengerutkan kening. "Sampai sekarang aku belum menangkap apa hubungannya."
"Benarkah? Bukannya itu mudah? Kakak selamanya kehilangan mata Kakak demi Arkas. Kehilangan istri Kakak demi Arkas."
Sejak dulu begitu. Cara Eris mengemban tanggung jawabnya adalah memastikan kesempurnaan untuk Arkas, bahkan jika harus mengorbankan semua miliknya sendiiri.
"Lalu saat Eri pergi, saat Kakak tahu aku rusak tidak berbekas, saat Kakak sebenarnya bersimpati—Arkas menyalahkan aku dan Kakak mendukungnya. Demi Arkas."
__ADS_1
Eris mendengar Elios tanpa emosi di wajahnya.
"Baik Arkas ataupun Kakak tahu aku tidak bisa bertanggung jawab!" Elios tiba-tiba berteriak dengan seluruh kemarahannya. "Aku ingin mati menyusul Eri dan meninggalkan dunia busuk ini tapi Arkas tidak ingin dan Kakak membuatnya jadi kenyataan! Doktrin di kepalaku, rasa bersalahku, rasa sakit menjijikan dan mimpi buruk itu, semuanya Kakak tanamkan karena Arkas menginginkannya!"
".... Lalu?" Eris melepaskan tangannya dari Elios. "Dengan marah dan mengatakan hal jelas itu, kamu merasa aku akan melepaskan kamu?"
"Tidak. Aku hanya ingin menjelaskan bahwa Kakak—ah, tidak. Kamu, Eris, akan mengorbankan apa pun demi Arkas. Karena seperti Eri, kamu keras kepala dan mementingkan Narendra di atas segalanya."
Itu benar. Eris rela melakukan segalanya demi Arkas. Tapi, itu bukan benar-benar untuk Arkas. Eris itu hanya kolot. Dia seperti penganut agama yang fanatik terhadap agamanya itu sampai-sampai dia rela melakukan apa pun.
Eris mendengarkan Arkas, menebak keinginan Arkas dan mewujudkannya bukan karena Arkas istimewa. Tapi karena aturan Narendra berkata Arkas adalah penguasa mutlak dan Eris menurutinya.
"...."
"Aku keturunan Narendra, lahir dari Nyonya Narendra resmi dan ayahku, Narendra murni. Eri, kekasihku, kembarku, itu anak perempuan Narendra yang sangat berharga."
Elios mengepal tangannya kuat-kuat.
"Eri mengakhiri hidupnya sendiri atas pilihannya sendiri. Aku mau membiarkan anak itu lahir karena dia tetap Narendra. Tapi Eri yang menolaknya.".
"Apa sekarang kalian Narendra sekarang sedang menyangkal harga nyawa anak Narendra? Aku mau membesarkan anak itu tapi Eri membawanya pergi. Lalu sekarang kalian menyalahkan aku tanpa alasan sama sekali?! Begitu caramu hidup sebagai Narendra, hah?!"
__ADS_1
Tidak. Sejak dulu sekali, Narendra diajari untuk sombong namun bijaksana. Narendra diajari untuk berkuasa tapi berkasih sayang. Narendra bukan keluarga monster bahkan jika di dalamnya memiliki banyak keanehan.
Karena itu ... karena itu sebenarnya mengurung seseorang tanpa alasan, menyingkirkan seseorang tanpa alasan tidak akan pernah dilakukan oleh mereka yang mencintai Narendra.
"Elios." Eris menyebut nama adiknya pelan. "Baru saja kamu menuduh Eirene sebagai pendosa?"
"Ya, dia pendosa." Elios mengepal tangannya semakin kuat. "Dia membunuh Narendra. Bukan anak yang jadi di perut ternak seperti istri-istri Narendra, tapi anak antara Narendra dan Narendra. Dia yang membunuhnya bukan aku."
"Jadi begitu." Eris mundur. "Bebaskan dia. Pengurungan Elios mulai sekarang dicabut."
Daniel dan Zack segera datang membuka seluruh belenggu di tubuh Elios. Akhirnya setelah sekian lama, Elios bisa berdiri. Pria itu terhuyung lemah. Merasa tubuhnya tidak terbiasa lagi bahkan berdiri. Tapi ....
"Jadi selama ini Eirene pendosanya? Dia yang mengotori nama Narendra." Eris bergumam. "Kalau begitu, Adikku, mayat pendosa harus diberikan pada peliharaan pemimpin, kan?"
Elios tersentak. Tapi jika ia mundur di sini, Eris akan langsung memberinya hukuman dua kali lipat.
"Terserah." Elios berlalu. "Buang dia sesuka kalian."
Elios pasti akan mendapatkannya. Mayat kekasihnya yang Arkas kurung di Kastel Bintang.
*
__ADS_1