
Semua terasa gelap.
Roxanne tidak bisa merasakan apa-apa selain kegelapan.
Tapi secara perlahan, ada banyak perasaan yang membanjir dalam dirinya. Sesuatu yang mungkin selama ini dia berusaha untuk menahan, lalu hancur setelah dia membodohi dirinya sendiri dan mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Kata orang, menjelang kematian, kita akan memahami manusia seperti apa yang selama ini kita sudah jadi.
Entah benar atau tidak, tapi Roxanne hanya bisa melihat dirinya sebagai seorang manusia yang gagal.
"Tanpa harga diri," ucapnya dalam benaknya. "Tanpa keluarga, tanpa orang yang bisa kukasihi. Mungkin juga tanpa mimpi atau apa pun."
Lucu, kan? Roxanne sudah hidup lebih dari dua puluh tahun, tapi dia bahkan tidak punya sesuatu semacam itu.
Keinginan untuk dirinya sendiri, Roxanne baru sadar dia tidak punya. Selama ini Ibu cuma mendoktrin Roxanne agar hidup. Sesederhana dan semenyedihkan itu.
Hidup saja, tidak peduli caranya bagaimana.
"Tapi kalau dipikir-pikir," Roxanne membayangkan dirinya tengah melihat bayangan dirinya sendiri di sudut berbeda, "hidup tanpa tujuan itu jauh lebih buruk dari kematian."
Roxanne merasa cuma mau tertawa. Kembali terlahap dalam kegelapan yang begitu dalam.
Entah berapa lama. Mungkin rasanya selamanya Roxanne berada di sana sampai tiba-tiba perasaan sakit muncul.
Sakit secara fisik yang terlalu halus untuk disebut sakit, tapi juga tidak bisa disebut mati rasa.
"Roxanne?" Suara itu membelai telinganya. "Coba buka matamu jika bisa. Roxanne."
__ADS_1
Roxanne menuruti suara itu dan berusaha keras membuka matanya. Dia disambut oleh wajah Arkas yang menatapnya seolah khawatir.
Ya, mungkin hanya seolah-olah.
"Roxanne, kamu bisa berkomunikasi?" Arkas melambaikan tangan di depan matanya. Mengetes bagaimana mata Roxanne mengikuti gerakan itu. "Kamu bisa memberitahuku berapa jari tanganku yang tegak?"
Roxanne hanya diam. Membuat Arkas menarik tangannya dan beranjak.
"Segera periksa dia kembali."
Tatapan Roxanne susah payah bergeser. Ada cukup banyak orang di sekitarnya, tapi ada satu orang saja yang Roxanne cari.
Sanya.
Gadis itu berdiri di samping Diane, menatap Roxanne tanpa ekspresi. Tapi, entah kenapa Roxanne bisa mengerti makna tatapannya.
"Aku tidak berbohong." Itu yang terdengar di kepala Roxanne dari tatapan Sanya.
Tapi Roxanne tidak bersuara. Dia juga tidak tahu kenapa. Mungkin karena kondisinya belum memungkinkan.
Lepas itu, dokter pergi membisikkan sesuatu pada Arkas dan pria itu mengangguk pelan.
"Kamu bangun setelah tiga hari koma." Arkas kembali duduk di kursi sebelah tempat tidur. "Itu cukup cepat dibanding perkiraan, tapi kurasa tubuhmu menyimpan trauma karena terluka parah. Untuk sekarang, tutup matamu dan istirahatlah."
Tiga hari? Roxanne sempat berpikir dia tidak sadar sebulan saking sakitnya tubuh ini sekarang.
Tapi syukurlah hanya tiga hari.
__ADS_1
"Tuan Muda." Suara Nyonya Medea terdengar dari kejauhan. "Karena Roxanne sudah membuka mata, ada baiknya Anda beristirahat juga. Anda menjaganya selama tiga hari penuh sendirian. Saya khawatir justru Roxanne menyusahkan Anda."
"Bibi, jangan katakan hal semacam itu. Nyawa adik iparku sama berharganya dengan nyawaku. Memastikan dia baik-baik saja adalah tugas Tuan Muda yang tidak berharga ini."
"Tuan Muda."
Arkas tersenyum, namun matanya menatap Roxanne. "Cepatlah pulih. Aku merasa terganggu dengan kejadian semacam ini menimpamu. Mengerti, Roxanne?"
Mulut Roxanne terus terkunci. Hanya diam melihat Arkas beranjak pergi, nampaknya memang sudah sangat lelah menemani Roxanne selama tiga hari.
Tapi ... di mana Elios?
"Semuanya keluar."
Baru saja Roxanne memikirkan hal itu, sebuah suara yang dia tunggu terdengar. Sosok Elios dengan pakaian megah dan penutup mata bersulam mawar emas datang mendekat.
Dia duduk di tempat Arkas. Bersamaan dengan semua orang keluar sesuai perintahnya.
Bibir Roxanne akhirnya bergerak. Meski tanpa suara, dia berusaha memanggil Elios.
"Kamu mengalami hal buruk." Elios meletakkan tangannya di atas kening Roxanne, tapi hanya berupa sentuhan samar.
Tak mengusik perban di sana apalagi luka yang masih sangat segar.
"Istriku, aku membuatmu mengalami hal menyedihkan sekali lagi. Kamu pantas marah padaku."
Ah, Elios.
__ADS_1
Dia masih saja berakting.
Padahal Roxanne sudah lelah, tapi kenapa dia tidak?