Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Aku Menyayangimu


__ADS_3

"Kekuatan orang bodoh adalah dia bisa merusak kesempurnaan dari orang cerdas," ujar Sanya sesaat setelah duduk di kursi seberang Askala. "Kakak Roxanne memang berbakat jadi orang bodoh."


"Tapi sepertinya kamu cukup menyukai orang bodoh itu."


"Ya, karena Sanya membenci kesempurnaan seperti Arkas dan Eris."


Askala meraih cangkir tehnya dan tersenyum diam-diam saat menyesap minuman itu. "Sanya, kurasa aku mulai mengerti tentangmu. Akhiran ini, semuanya masih termasuk bagian rencanamu?"


"Rencana tiba-tiba, ya." Sanya menyeringai. "Sanya sempat terusik sesaat tapi di tengah perdebatan tadi, Sanya berpikir ini akhir yang cukup memuaskan."


Askala terkekeh. "Sepertinya aku mengakuimu sebagai Narendra dengan kecerdasan itu. Terlebih sepertinya kamu juga sudah tahu apa yang akan Eris dan Arkas lakukan."


"Kakak Roxanne tidak cocok mendampingi Eris, ya. Eris terlalu kolot dan Sanya yakin satu-satunya yang Eris pikirkan sekarang adalah wanita diluar Narendra memang tidak sepantasnya masuk ke lingkungan Narendra. Lalu Arkas setuju dengan hal itu dan akan menyetujui perceraian seluruh istri Elios kecuali Diane," jelas gadis kecil itu seolah semuanya adalah pikiran dia sendiri.


Lalu Sanya menambahkan, "Tapi Sanya rasa Mariane ingin tetap tinggal."


"Dan kamu sengaja membiarkan itu agar Kakak Roxanne-mu tersayang bisa meninggalkan keluarga ini?"


Sanya tersenyum. "Ya. Sanya akui satu-satunya yang tidak masuk perhitungan Sanya hanyalah kenyataan Sanya terlalu menyukai Kakak."


"Lalu bagaimana denganmu?"


"Sanya?"


"Perhitungan tentang dirimu sendiri." Askala bertanya penuh rasa tertarik. "Gadis kecil, menurutmu hanya kamu yang licik dan tahu cara berpura-pura semua sudah berakhir? Menurutmu aku tidak tahu bahwa kamu akan menunggu Roxanne pergi dari keluarga ini agar kamu bisa memulai lagi rencanamu?"


Sanya tersenyum dingin. "Sanya sudah bilang Sanya menari untuk diri Sanya sendiri."


"Siapa bilang aku pergi?"


Dua orang yang menikmati pembicaraan mereka itu terpaksa berpaling, tak menyangka Roxanne akan masuk bersama Dioris yang mendorong kursi rodanya.

__ADS_1


Askala mengangkat alis pada pernyataan Roxanne.


"Kamu jelas ingin pergi, kan? Kamu meminta jadi manusia dan tidak ada istri Narendra yang menjadi manusia. Mereka ternak. Patuh pada Narendra, tunduk pada Narendra, mati dan hidup mereka ditentukan oleh Narendra."


Roxanne mengangguk. "Aku tahu."


Kedua orang itu jelas heran dengan respons Roxanne. Itu seharusnya bukan 'aku tahu'. Kalau dia tidak ingin pergi lalu kenapa dia repot-repot berbicara tentang menjadi manusia?


"Kakak—"


"Aku dikelilingi oleh orang-orang seperti kalian," ucap Roxanne menatap keduanya. "Orang bodoh tidak pintar berpikir sendiri, tapi orang bodoh sangat pintar meniru."


"Apa?" Askala mengerutkan kening bingung.


"Sanya, apa yang aku dapatkan dari persidangan tadi?"


Sanya memiringkan wajah karena sungguh tak paham maksud Roxanne bertanya. "Kebebasan?" jawabnya ragu padahal itu jelas.


"Apa yang Kakak bicarakan?"


"Elios mau membunuhku karena kesalahan yang aku buat padanya sejak di kastel itu. Dan Elios mau membunuhmu setelah dia membunuhku." Roxanne meraih tangan Sanya. "Sekarang Elios sudah bukan Yasa dan istri-istrinya boleh memilih. Aku memilih menjadi istri Eris agar Elios tidak menyentuhku."


Sanya tercengang. "Tapi bukankah—"


"Kamu mengendalikan aku," tekan Roxanne pada gadis itu. "Kamu mengendalikan aku, Elios, dan banyak orang yang kamu inginkan. Menurutmu aku tidak belajar satu dua hal? Aku tidak bisa jadi genius, Sanya, tapi aku bisa jadi korban yang dikasihani."


Askala tertegun saat seluruhnya terkumpul menjadi satu. Jangan bilang perempuan ini ....


"Kamu yang bilang, bukan?" Roxanne tersenyum. "Arkas adalah orang yang tangannya harus kupegang agar bertahan, dan Eris adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Kamu yang memberitahuku, Sanya."


Roxanne tidak seperti Sanya atau siapa pun yang pintar memikirkan langkah demi langkah. Jadi Roxanne cuma melakukan banyak hal spontan lalu merangkainya menjadi satu.

__ADS_1


"Sanya tidak bisa." Gadis itu menarik tangannya dari Roxanne. "Kakak, Sanya harus—"


"Kamu yang membawaku sejauh ini." Roxanne menatap lurus satu mata gadis itu. "Kamu berpikir aku akan diam dan membiarkan kamu mati sendirian? Aku butuh kamu karena semua orang di keluarga ini terlalu menakutkan untuk orang sebodoh aku."


"Sanya tidak bisa!" teriak Sanya tiba-tiba.


"Sanya tidak suka menari untuk orang lain! Sanya tidak suka! Segala sesuatu harus Sanya lakukan untuk Sanya sendiri! Kakak bukanlah orang seberharga itu untuk Sanya melupakan semuanya demi Kakak!"


"Sanya—"


"Sanya tidak mau!"


"Aku menyayangi kamu."


Tubuh Sanya mendadak beku.


"Sanya." Roxanne meraih wajah anak itu agar berpaling dan menatapnya. "Aku tidak membencimu. Aku menyayangimu. Aku menyayangimu sebagai adikku dan aku menyadari pada hari aku membuka mataku lagi."


"Tapi Kakak—"


"Membencimu? Kupikir begitu. Karena kamu sangat pintar sementara aku tidak." Roxanne memeluk Sanya dengan kedua lengannya. "Tapi ternyata tidak. Aku menemukan sesuatu yang kucintai pertama kali darimu."


Bukan dari Eris ataupun Elios. Roxanne mencintai anak iblis yang menjadikannya boneka permainan.


Karena dalam kesendirian dan keterpurukan, hanya anak ini yang selalu datang mencarinya, sekalipun itu cuma untuk memanfaatkan Roxanne sebagai boneka lagi.


Dan Sanya, saat dia sendirian, yang dia pikirkan hanyalah Roxanne.


Itu membuat Roxanne sadar bahwa ia hanya bisa memiliki Sanya agar hidupnya bahagia.


*

__ADS_1


__ADS_2