
Di antara keheningan malam selepas keberangkatan Arkas, seorang pria duduk di tepi jendela, mendengarkan suara malam dari telinganya.
Sayup-sayup dapat terdengar keramaian dari terbangunnya seluruh Narendra atas kabar kebakaran di Kastel Yasa, tempat anak terbuang Narendra menetap.
"Kamu membuat terlalu banyak masalah, Elios." Pria itu bergumam sendiri. "Dasar anak keras kepala."
*
Tidak ada sesuatu yang sempat dibawa dari dalam kastel ketika kebakaran tadi, jadi tentunya tak heran jika Roxanne hanya bisa berbaring di rerumputan.
Diane dan Naviah, istri lain Elios, duduk menemaninya tanpa sedikitpun membiarkan Roxanne sendirian.
Mereka terus diam di sana sampai pelan-pelan api padam sendiri, karena tak lagi ada bangunan yang bisa dibakar.
Kastel Elios berdiri di atas padang rumput luas. Selain ini pegunungan, juga mereka dikelilingi oleh tembok tinggi. Api tidak bisa menyebar ke mana pun selain membakar habis kastel saja.
Api sudah semakin reda ketika dua helikopter berputar di atas mereka lalu mendarat di atas padang rumput.
Dari salah satu helikopter, Arkas turun dan bergegas datang menghampiri mereka.
"Kalian baik-baik saja?" Pria itu langsung mengecek satu per satu istri Elios. "Di mana Roxanne? Diane? Naviah? Sanya?"
__ADS_1
Dia bahkan langsung menyebut semua nama yang tidak dilihatnya.
"Di sini, Tuan Muda." Diane bersuara sekaligus berdiri. "Kami menjaga Roxanne sesuai perintah Tuan Muda Elios. Semua baik-baik saja."
"Begitu? Syukurlah. Pertama, pindahkan Roxanne ke helikopter. Istriku akan menanganinya." Arkas menatap wanita di sampingnya. "Rawat Roxanne dan pastikan kondisinya."
"Baik, Tuan Muda."
Roxanne harus patuh. Kondisinya memang tidak baik dan belum cukup bisa dibawa duduk lama. Tapi Roxanne masih coba melihat bagaimana Arkas memerhatikan mereka.
Dia terlihat cemas. Arkas bahkan mendatangi Mariana untuk melihat sendiri luka bakar di tangannya.
Arkas sungguh-sungguh peduli pada istri Elios, tapi dia tidak mencari Elios.
*
Tapi Arkas tidak mencarinya untuk alasan khawatir. Pria itu terlihat marah dan kesal. Dan saat Elios menghampirinya ....
Pukulan mendarat di wajah Elios, disusul tendangan dan kemudian pukulan lalu tendangan lagi. Empat serangan yang membuat Elios berlutut.
"Menjijikan." Arkas biasanya sudah cukup emosi hanya melihat wajah Elios. Tapi sekarang itu seperti berkobar tiga kali lipat. "Aku begitu sering datang memastikan masalah di sekitarmu. Pertama membahayakan istrimu, lalu istrimu terluka lagi dan sekarang kastilmu terbakar? Elios, hidup dalam rasa malu juga ada batasnya."
__ADS_1
Elios malah tertawa. "Setidaknya kamu punya alasan memukulku, kan? Jadi sebenarnya kamu senang."
Jelas saja provokasi itu membakar Arkas yang sejak awal marah padanya. Tapi sebelum ada pukulan baru, Pemimpin Keluarga menghentikannya.
"Aku tidak melihat Graean." Pria paruh baya itu menatap sekitaran. "Di mana istrimu, Elios?"
"Ah, maksudnya wanita pengkhianat itu?"
Daniel dan Zack memahami Elios sebaik mereka memahami diri sendiri. Seperti kata Elios tadi, kejadian ini akan sepenuhnya dilimpahkan pada Graean.
"Besar kemungkinan Nyonya Graean—tidak, Graean yang meledakkan kastel, Tuan." Daniel membuat suaranya seakan-akan menyimpan amarah pada Graean. "Sebelum kebakaran terjadi, Tuan Muda Elios dan Graean terlibat pertengkaran."
"Pertengkaran?" Arkas mengernyit tak percaya. "Graean? Menentang Elios?"
"Memang sulit dipercaya tapi itu yang terjadi, Tuan Muda. Graean sepertinya tidak puas sebab pekerjaan belakangan hanya dilimpahkan padanya. Tuan Muda Elios menghabiskan banyak waktu bersama Nyonya Roxanne, karena itu Graean sedikit cemburu."
Aku mengenal Graean, gumam Arkas dalam dirinya. Dia lebih mementingkan Elios dibanding dirinya sendiri. Wanita itu berkhianat, katanya?
Tapi, sialnya itu masuk akal.
Kecemburuan biasa terjadi dan Graean adalah istri Elios yang menerima pendidikan Narendra. Artinya, dia punya kekuatan dan kegilaan melakukan hal sebesar ini.
__ADS_1
Itu hanya mustahil menurut siapa pun. Bukan mustahil dilakukan.
*