Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
113


__ADS_3

Cinta adalah hal yang jauh dari Roxanne. Sejak dulu sekali, ia mungkin tak pernah tahu apa itu cinta sebenarnya.


Mungkin itu sederhana. Hanya tentang menyukai seseorang lalu menghabiskan waktu bersama.


Mungkin juga rumit. Tidak sesederhana menyukai seseorang dan selalu menghabiskan waktu bersama.


Mana pun, Roxanne tak tahu sebab ia tak pernah memiliki kesempatan seistimewa itu untuk mencintai seseorang.


"Kadang-kadang, aku merasa perutku teraduk-aduk dari dalam." Itu yang Eris katakan semalam. "Saat aku memikirkan orang yang aku cintai, saat aku memikirkan aku tidak bersamanya lagi, rasanya aku menjadi gila untuk segala hal."


"...."


"Karena itu, Roxanne, apa tidak bisa aku dan kamu berbagi cinta bersama?"


Aku selalu merasa kalau semua orang Narendra itu gila, tapi kurasa Eris adalah yang tergila. Dalam berbagai hal.


Dia yang tingkahnya paling normal, sekilas, namun jika diperhatikan lebih dalam justru dialah yang paling sulit dipahami.


Gara-gara dia, Roxanne jadi tidak bisa menemui Elios. Entah sedang apa dia.


Yah, setidaknya yang pasti adalah dia memikirkan Eirene, bukan Roxanne.


*


Perasaan menjijikan itu merayap di sekujur tubuh Elios. Perasaan yang ia benci. Perasaan yang muncul setelah kematian Eirene.

__ADS_1


Perasaan tak bernama itu bukan mencekiknya, tapi berlarian kesana-kemari seperti angin yang berputar-putar mengelilingi Elios.


Elios membencinya. Elios membenci sensasinya.


"Aku bersalah," gumam Elios ketakutan. Tangan dan kakinya terus memberontak dari belenggu. Ia kini berharap penutup mata itu dilepaskan agar kegelapan ini hilang.


Akal sehatnya semakin terkikis.


"Aku bersalah, aku bersalah, aku bersalah, aku bersalah, aku bersalah." Mulut Elios terus mengulangnya gemetaran. "Aku berbuat salah. Aku mengakuinya. Aku berbuat salah."


Jadi menjauh. Tolong menjauh. Segala hal menjijikan dan tak bernama ini, tolong menjauh.


Sementara itu ....


"Bagaimana?" Zack ikut bergumam. "Ini lebih lama dari biasanya."


"Aku hanya bisa berpikir menyuruh Roxanne menjadi Eirene sebentar."


"Maksudmu memberi Elios obat lagi?"


Daniel mengangguk. Tapi ... sebenarnya dia sendiri tak yakin apa Arkas dan Eris akan membiarkannya.


Bahkan Eris sekarang menahan Roxanne, jadi kalaupun Elios diberi obat itu juga percuma. Menyuruh istrinya yang lain sebagai pengganti mungkin bisa, tapi setelah itu Elios pasti akan menggila untuk alasan berbeda.


"Itu lucu, kan?" Daniel tertawa kecil. "Elios adalah yang paling terluka karena kepergian Eirene, tapi dia yang disalahkan. Di sisi lain, Arkas yang menyalahkan Elios juga bisa dimengerti karena bagaimanapun Eirene mengakhiri hidupnya untuk anak mereka, anak Elios."

__ADS_1


Dan Eirene yang mengakhiri hidupnya juga tidak bisa disalahkan, setidaknya bagi Daniel, sebab dia sudah melakukan hal yang benar. Melahirkan anak dari saudaranya berarti menciptakan sejarah baru yang akan diteruskan ke keturunan selanjutnya dan selanjutnya dan selanjutnya.


Tapi, bukankah kalau tidak ada yang salah maka berarti tidak ada yang bisa bertanggung jawab?


*


"Kondisi Elios sepertinya tidak baik, Roxanne."


Roxanne mendongak pada pria yang mendekati ranjang untuk pertama kali cuma demi mengatakan itu.


"Lalu? Anda mau menyuruh saya pergi menemui Elios?" balas Roxanne.


Tapi sesuai dugaan, Eris menggeleng. "Aku hanya memberitahumu agar nanti kamu tidak merasa aku merahasiakan sesuatu."


Roxanne sudah lama merasakannya tapi mungkin ini pertama kali ia mengatakan dengan jelas. Ia benci orang yang pikirannya tidak bisa ditebak.


Eris, Elios, Arkas, Sanya, Diane, Graean; mereka semua yang bisa membaca Roxanne tapi Roxanne tidak bisa membaca mereka, itu sangat menyebalkan.


"Kamu tidak ingin bertanya lebih detail? Kurasa kamu mengkhawatirkan Elios," kata Eris.


Roxanne tak sadar langsung berucap, "Aku harap kalian mati saja."


Walau saat sadar, Roxanne tidak menyesal. Apalagi ketika Eris, untuk pertama kali, nampak sangat terkejut.


*

__ADS_1


__ADS_2