Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
41. Diam!


__ADS_3

Elios nampaknya benar-benar sedang sakit sampai dia langsung tertidur lagi. Tempat dia membawa Roxanne adalah padang rumput kecil di samping Kastel, tepat di bawah sebuah pohon raksasa yang melindungi mereka dari sinar matahari pagi.


Setelah meminta pelayan menggelar tikar di sana, Elios langsung berbaring, meletakkan kepalanya di pangkuan Roxanne kemudian terlelap nyaman.


Roxanne hanya diam memandangi wajahnya. Sepertinya masih belum bisa terbiasa sekalipun sudah melihat wajah Elios lebih dari satu bulan terakhir.


Kurasa semakin dipikirkan semakin masuk akal kenapa dia memilih saudarinya sendiri.


Elios terlalu tampan. Terlalu sampai itu rasanya bisa menjadi masalah besar. Dengan kepribadian buruk dan kekejaman tanpa ragu itu, dunia nampaknya lebih aman kalau dia bersama saudarinya saja.


Walau menyalahi norma, rasanya semakin dilihat, yang cocok dengan pangeran ini memang cuma bidadari secantik Eirene.


"Hah." Roxanne mendesahkan napas lelah, menyandarkan punggungnya pada batang pohon untuk ikut beristirahat.


Kepalanya mendongak ingin menikmati hamparan langit, tapi justru dibuat membeku akan keberadaan seseorang di atas sana.


Eh? Apa itu? Dia orang?


Roxanne hampir saja beranjak karena terkejut, kalau tidak segera sadar Elios bisa kaget. Tapi Roxanne tetap melotot ke atas, yakin betul bahwa yang ditatapnya sekarang memang manusia.


Orang itu balas menatapnya juga.


Tidak. Jangan lihat. Mari abaikan karena dia menakutkan.


Roxanne buru-buru menunduk, pura-pura memejamkan mata seolah sedang tertidur. Entah siapa itu, tapi Roxanne punya firasat buruk.


*

__ADS_1


Sekembali di kamar, Roxanne merasa sangat tidak nyaman. Ia mulai berpikir bahwa orang itu berada di sekitarnya dan bukan hanya duduk di atas pohon secara kebetulan.


Tiap kali Roxanne memejamkan mata, ia berpikir orang itu akan datang.


Roxanne tidak akan merasa takut jika dia hanya seseorang biasa. Tapi, mata yang menatapnya itu bukan mata tanpa emosi.


Ada kemarahan di matanya, seolah Roxanne melakukan sebuah kesalahan besar, dan dia terus berpikir mau menyakiti Roxanne.


Pada akhirnya Roxanne malah mimpi buruk. Ia memimpikan malam di mana Elios mencekiknya kuat, meninggalkan bekas yang baru benar-benar hilang belakangan ini.


Dan tentu, Elios menyadarinya.


"Eri." Elios tampak khawatir. Buru-buru menyingkirkan gelas air di tangannya setelah dia minum obat dari Roxanne. "Eri, ada apa? Kamu bermimpi buruk?"


Roxanne berusaha bernapas susah payah. Melirik sekitarannya ketakutan.


Sialan!


"Eri, ada apa? Eri."


Kepala Roxanne sakit hanya karena memikirkannya.


Napasnya malah semakin memburu.


Saat Roxanne dijual, ia sungguh sudah bersiap menjadi istri seorang pria badjingan. Roxanne sudah siap harus jadi benda pelampiasan hormon, yang digunakan cuma saat dia sedang bermafsu, lalu diabaikan saat dia sudah selesai.


Roxanne bahkan juga siap jika ia punya anak dari pria badjingan itu. Dipaksa terus dan terus melahirkan seperti pabrik.

__ADS_1


Roxanne sudah siap.


Tapi!


Segala sesuatu di sini lebih gila dari sekadar menjadi wanita pemuas dan mesin anak!


Suami gila yang tidak menyentuhnya tapi mencekiknya, suami gila yang terbayang-bayang pada adik kandungnya sendiri, lalu istri-istri lain suaminya yang mengabaikan Roxanne seolah ia angin, lalu sekarang orang asing yang nampaknya juga membenci Roxanne.


Sekali saja, demi Tuhan, sekali saja! Sekali saja bisakah ia mendapatkan kenyamanan hidup Eri yang selalu Elios gumamkan itu?


"Eri—"


"Diam!" Roxanne tanpa sadar sudah berteriak. "Diamlah sebentar! Diam! Aku lelah mendengarmu!"


Elios tersentak. Dia membeku seolah-olah dia tak percaya jika Eirene-nya membentak. Tapi Roxanne tidak peduli karena sekarang kepalanya sangat sakit.


Kenapa berpura-pura harus sesulit ini? Hidupnya sudah sulit dan ia malah semakin sulit karena berpura-pura jadi si Pemilik Hidup Termudah Yang Termulia Eirene Narendra itu?!


"Eri, kamu marah?"


"Haruskah kamu bertanya lagi?!" Roxanne mengepalkan tangannya di atas selimut, benar-benar ingin meledak. "Eri, Eri, Eri, Eri! Diamlah dan berhenti menyebut nama menyebalkan itu! Diam!"


Jelas saja Roxanne akan dalam masalah besar jika Elios sadar. Tapi Elios yang baru saja menenggak obat pemberian Roxanne hanya bisa melihat wanita itu sebagai Eirene-nya.


"Aku bersalah." Elios meminta maaf dengan patuh. "Baiklah, aku diam. Dinginkan dirimu, Eri."


Setelahnya Elios berbaring membelakangi, semata agar Eirene-nya tidak terusik.

__ADS_1


*


__ADS_2