Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
30. Bayangan Eirene


__ADS_3

Walaupun Arkas sudah mengizinkan Elios berbaring, dia tidak mengizinkan Elios diberi obat. Dokter hanya datang memeriksa dan memberitahu apa yang menjadi masalah, lalu Arkas menyuruh dokter kembali.


Roxanne memang sudah tahu dari buku bahwa semua Narendra, termasuk Arkas sendiri bahkan Nyonya Besar, mereka tidak berobat saat sedang sakit. Mereka hanya diberi obat saat benar-benar sekarat.


Tapi Roxanne tidak menyangka kalau itu sungguhan. Satu-satunya yang diberikan hanya oksigen tambahan. Bahkan infus Elios langsung dilepas begitu kantongnya habis.


"Roxanne, aku perlu bicara denganmu."


Sekalipun saat ini Roxanne tidak mau bicara pada Arkas, ia patuh mengikutinya keluar.


Mereka pergi ke ruangan lain di sudut lorong yang jauh. Arkas meminta pelayan datang membawakannya teh dan camilan, seolah ini memang waktunya bersantai.


Pemandangan itu membuat sesuatu dalam diri Roxanne bergejolak.


"Apa Anda tidak menyayangi Tuan Muda Elios?" bisik Roxanne lirih. "Anda sangat membencinya?"


Kemarahan di mata Arkas selalu berkobar tanpa kendali setiap kali dia berhadapan dengan Elios.


Kalau memang dia tidak menyukainya, dia membencinya, kenapa Arkas masih membuang-buang waktu datang pada Elios?


"Aku tidak tahu."


"Bohong." Roxanne mengepal tangan di atas pahanya. "Anda cuma tidak ingin menjawab."


"Kalau begitu," Arkas mendorong piring berisi potongan kue cokelat pada Roxanne, "aku tidak bisa menahan kemarahanku pada anak itu. Terserah padamu ingin bilang itu kebencian atau apa pun."


Dia benar-benar tidak mau menjawab.


Roxanne menarik napas, pasrah sekaligus menenangkan diri. Meskipun ia tak sedang nafsu makam, Roxanne tetap mengambil piring kue itu untuk memakannya.


"Berkat Anda, semua orang membenci saya."

__ADS_1


"Aku tahu."


Bahkan sekalipun sudah yakin memang dia tahu, Roxanne masih tak percaya dia benar-benar santai mengatakannya.


"Aku bukan orang baik," ucap Arkas dengan senyum sangat baik.


Meski kemudian, senyumnya berubah dingin. "Aku melakukan segalanya sesuai pertimbanganku sendiri. Aku tidak sengaja merugikan siapa pun, tapi jika itu merugikan dan aku melihat itu tetap harus dilakukan, akan tetap kulakukan."


"Aku orang yang seperti itu."


Harusnya aku tahu tidak ada orang normal di keluarga ini, pikir Roxanne seraya mengalihkan pandangan.


"Lalu, apa yang ingin Anda bicarakan pada saya? Sebisa mungkin saya tidak ingin terlibat dengan Anda lagi."


Arkas sepertinya memang bukan orang berhati lembut sekalipun dia terlihat begitu. Karena sekalipun Roxanne bersikap dingin padanya, dia terlihat tidak peduli.


Sementara satu tangannya memegang cangkir teh, satu tangan Arkas yang lain mendorong sebuah kantong kecil berisi butir-butir obat.


"Itu halusinogen."


"Maaf?"


"Itu narkoba yang membuat orang berhalusinasi."


Arkas menyesap tehnya dengan nyaman, lalu meletakkan cangkir kosong tadi ke piringnya.


"Istriku sendiri yang membuatnya. Dosisnya tinggi, jadi berhati-hati tidak memberikannya pada siapa pun selain Elios. Anak itu menenggak racun sejak masih kecil sebagai Narendra, karena itu obat cukup sulit bekerja padanya."


"Berikan dia sebutir setiap dua belas jam sekali."


Apa yang orang ini katakan?

__ADS_1


Kenapa dia menyuruh Roxanne memberikan Elios narkoba dan apa maksudnya soal menenggak racun?


"Anda ... menyuruh saya membunuh suami saya?"


Arkas langsung mengerjap. Sejurus kemudian dia malah tertawa seolah-olah itu lucu. "Sudah kubilang itu halusinogen. Membuat halusinasi bukan kematian."


Tapi dia mengatakan—


"Itu akan sangat membantu." Arkas meraih garpu, memotong kue dengan gerakan sangat anggun dan terlatih.


Dan juga begitu damai seolah-olah dia tidak sedang menyuruh istri dari adiknya memberi obat diam-diam.


"Roxanne, Eirene mati sepuluh tahun yang lalu."


Perempuan itu tersentak.


"Tapi anak itu sedikitpun belum melupakan saudarinya. Dia belum bisa menghilangkan Eirene dari benaknya, sekalipun sudah sepuluh tahun."


"Maksud Anda, saya harus—"


"Ya, menjadi bayangan Eirene."


Arkas mengulum senyum sedih. "Itu cara menyedihkan tapi itu akan cukup efektif. Untuk sementara berikan itu padanya dan biarkan dia mengira kamu Eirene. Dengan begitu dia pelan-pelan akan menerimamu."


Roxanne cuma bisa membelalakkan mata, mengepal kuat-kuat obat di tangannya.


Bukankah itu sama saja seperti dia berkata Roxanne tidak memiliki nilai untuk menyaingi Eirene?


Sekalipun dia orang mati?!


*

__ADS_1


__ADS_2