
Di sisi lain, Sanya yang berada di kamar Elios menggantikan Roxanne juga mendengar cerita serupa.
Untuk menyesuaikan rencana mereka atas kedatangan tokoh antagonis baru, tentu saja Sanya harus sangat mengenal siapa Askala ini.
"Dia berbeda jauh dari Arkas. Askala itu emosional dan sungguhan gila secara emosional." Elios bercerita sembari mengisap rokok rempahnya. "Dia pernah melukai Eri karena cemburu."
"Heeeh. Jadi orang itu mudah dipancing melalukan hal berbahaya, yah?" gumam Sanya.
"Tepat. Yah, mungkin dia versi diriku yang lebih buruk."
"Sanya jadi penasaran melihatnya."
"Cara tercepat menggunakannya adalah Arkas sendiri. Dia benci Arkas perhatian pada seseorang selain dirinya. Entah perhatian pada adik atau siapa pun."
"Jadi karena itulah Askala datang? Karena Kakak Roxanne menjadi adik kecil baru Arkas?"
"Sudah jelas. Tapi melihat dia masih cukup tenang, berarti Askala masih cukup waras. Tinggal buat dia gila dengan sedikit bumbu drama."
Elios tertawa mengingat kenangan lama. Hari di mana mengamuk karena cemburu. Askala mencakar lengan Eirene sampai lukanya tak hilang bahkan setelah bertahun-tahun. Elios datang saat Eirene sudah menahan darah dari lengannya dan Askala ditahan oleh pengawalnya.
Yang paling menyedihkan, ketika Arkas datang, dia lebih dulu memerhatikan Eirene. Sebenarnya itu karena Eirene terluka sementara Askala tidak. Tapi Askala menanggapinya berbeda.
"Aku sudah tahu itu." Askala bergumam marah pada Arkas. "Kamu membenciku, kan?! Kamu membenciku sejak lama kan?! Katakan saja langsung! Ayo beritahu aku!"
__ADS_1
Elios keluar dari kamar itu sambil mendekap Eirene, sayup-sayup mendengar Askala berteriak putus asa.
Dia tidak mau menerima bahwa Arkas menolak perasaannya. Dia menolak kenyataan Arkas hanya menganggapnya adik.
"Dia kesayangan Paman Pemimpin, jadi bahkan Eris tidak bisa menyentuhnya." Elios terkekeh.
Sanya memiringkan wajah. "Bukannya kamu akan dalam masalah jika Askala mengganggu Roxanne? Bagaimana jika pemimpin Narendra mengusirmu karena istrimu mengganggu anaknya?"
"Sanya, berhenti pura-pura bodoh. Arkas itu memikirkan kalian semua jadi dia tidak akan membiarkan masalah apa pun antara Askala dan Roxanne terdengar ke telinga Paman. Lakukan saja dengan bebas."
"Kamu yang menyuruh Sanya." Sanya menyeringai. Nampaknya dia punya ide khusus tentang Askala sekarang.
*
Pelayan hanya bisa melihat, dua orang pria pengawal juga melihat, tapi tidak ada orang yang menghentikan Askala meremas tangan Roxanne.
Tangan kanan yang sudah sembilan puluh persen sembuh setelah patah. Yang sebentar lagi bisa digunakan normal dan seharusnya tidak boleh terluka.
"Ada apa? Aku hanya memegangmu."
Bibir Roxanne bergetar. Ia mau menangis bukan karena takut melainkan sakit. Sakit sekali. Rasanya malah jauh lebih sakit daripada saat patah. Tapi kalau Roxanne menangis atau bereaksi keras, ia akan dalam masalah besar.
"Jika Kakak melawan Askala, Kakak tidak akan dibela bahkan oleh Arkas. Jadi apa pun yang terjadi tutup mulut Kakak dan bersikap baik padanya." Begitu ucap Sanya padanya kemarin.
__ADS_1
Jangan melawan. Jangan pernah melawan. Roxanne sendiri sudah melihat bagaimana Askala menguasai Arkas jadi jangan melawan.
"Aku bertanya padamu." Askala mengangkat sesuatu dari tangannya. "Kenapa gelang Arkas ada di kamarmu?"
Roxanne tak bisa bernapas akibat rasa sakit. Tapi sekuat tenaga ia membuka mulut, tahu harus menjawab.
"T-tuan Muda ... meninggalkannya." Terdengar jelas Roxanne berbicara sambil menahan napas. "T-tidak sengaja hh ... saat menengok saya."
Ekspresi Askala menjadi gelap. "Tidak sengaja?"
Gawat. Roxanne terbiasa merawat Elios yang gila dulu jadi ia tahu ekspresi itu.
"Kenapa Arkas harus menengok kamu?" Askala tiba-tiba mendorongnya, melempar gelang Arkas ke lantai dan berteriak. "Kenapa Arkas harus peduli padamu?!"
Roxanne terhempas ke lantai. Tangannya yang diremas kuat rasanya kembali patah hingga ia menjerit. Pengawal Askala tiba-tiba menahan perempuan itu yang nampak ingin menginjak Roxanne saking marahnya.
"Padahal hanya istri Elios! Padahal hanya orang biasa tapi kenapa Arkas harus peduli padamu?! Tidak ada yang butuh padamu! Tidak ada yang butuh kamu hidup di sini!"
Tapi sebelum sesuatu yang buruk benar-benar terjadi, pintu tiba-tiba terbuka, disusul seruan dari seseorang.
"Roxanne!"
*
__ADS_1