Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
92


__ADS_3

"Nyonya."


Roxanne langsung membuka matanya ketika mendengar suara Dwi. Pria itu mengetuk pintu samping yang juga merupakan jendela, mengarah langsung ke halaman depan.


Seluruh bangunan Narendra selain bangunan utamanya memang berdesain sangat sederhana. Seperti rumah Jepang dengan pintu geser dan lantai kayu, tapi bercampur dengan sentuhan arsitektur semi-modern.


"Dwi." Roxanne berusaha keras untuk duduk. "Masuklah."


Pria berambut panjang itu tersenyum dengan mata tertutup rapat. "Maaf mengganggumu, Nyonya. Aku membawakan apel yang baru saja datang dari perkebunan. Arkas yang memintanya."


"Benarkah? Terima kasih." Roxanne menyambut sangat senang kedatangan pria yang sudah dia anggap teman itu.


Sedikitpun Roxanne tak sadar, karena keramahan dan kehangatan Dwi, beberapa petunjuk identitasnya bertebaran.


Kenyataan Dwi tidak menggunakan kata Anda ataupun Saya, kenyataan Dwi itu tidak menggunakan panggilan Tuan pada siapa pun—jika Roxanne teliti, dia pasti akan curiga.


Namun keramahan dan ketulusan Dwi membuatnya samar. Yang Roxanne lihat hanyalah pria tampan buta dengan senyum lembut nan tulus.


Tentu saja Roxanne juga tidak akan sadar bahwa hanya dia satu-satunya istri Elios di sekitar sini. Atas perintah Dwi—atau lebih tepatnya Eris, sang Tuan Muda Kedua, semua istri Elios dipindahkan ke bagian tengah.


Agar tidak ada yang mengganggu pertemuan mereka.


"Apel hijau." Roxanne mengambil garpu di piring itu dan menusuk sepotong apelnya. Karena tangan kanan Roxanne patah, jadi ia harus menggunakan tangan kiri. "Rasanya manis tapi asam menyenangkan."

__ADS_1


"Sangat nyaman di lidah, benar?" Dwi tersenyum. "Ada sangat banyak perkebunan Narendra di negara ini. Kami membudidayakan buah-buahan khusus untuk stok makanan sehari-hari, jadi buah-buahan kami selalu segar."


Roxanne mendengkus. "Setidaknya kekayaan Narendra memang menggoda."


"Narendra tidak membanggakan kekayaan, Nyonya." Dwi tertawa kecil. "Kami mengumpulkan harta hanya untuk bertahan hidup dan menjalani kehidupan kami."


"Harta sebanyak ini untuk bertahan hidup?"


"Tentu saja. Apa Nyonya tahu bahwa tidak pernah ada Narendra yang membeli pakaian?"


Roxanne membulatkan mata. "Lalu pakaian mereka dari mana?"


"Tentu saja dibuat. Perhiasan, pakaian, bahkan sesuatu sesederhana sepatu dan sandal rumah, semuanya dibuat khusus untuk Narendra. Kami menganggapnya pelanggaran jika membeli sesuatu dari luar."


Roxanne berpikir itu karena ia diberi perhiasan bekas dari jaman dulu.


"Bicara soal itu, Nyonya."


"Hm?" Roxanne memakan apelnya lahap. Rasanya memang enak dan kaya akan air. Jika dibuat jus, pasti rasanya menyegarkan.


"Aku juga datang memberitahu kondisi Elios."


"Aku sejujurnya tidak mau tahu," jawab Roxanne jujur.

__ADS_1


Eris tertawa renyah. "Aku merasa Nyonya akan mengatakan itu, tapi bagaimanapun Nyonya boleh memutuskan setelah mendengarnya."


Roxanne memiringkan wajah. Memang ada apa lagi dengan Elios?


"Lalu? Memang kenapa, Dwi?" tanyanya mau tak mau.


"Arkas sangat benci kenyataan Elios berada di kastel ini."


"Karena Eirene?"


"Benar." Dwi tersenyum. "Karena itu jugalah Elios pasti diperlakukan seperti anjing di tempat ini."


Eh?


"Sekarang ini, tanpa diketahui oleh siapa pun, termasuk ibundanya, Elios terkurung di ruang bawah tanah sebagai tahanan yang disiksa."


"Maksudnya dia disiksa?"


"Tidak dalam arti dicambuk," jawab Dwi tenang. "Tapi dia hanya diberi makan roti manis yang keras, dibuat khusus hanya untuk dia saja. Kudengar air untuknya hanya segelas setiap hari. Dan dia hanya boleh pergi ke toilet tiga kali dalam sehari semalam, dalam kurun waktu lima menit saja. Itu juga termasuk siksaan sangat berat."


Roxanne tertegun.


*

__ADS_1


__ADS_2