
"Roxanne, bagaimana kondisimu?"
Roxanne tersenyum pada Mariana. "Sudah sangat baik. Maaf merepotkan, Maria."
"Tidak. Tidak masalah. Kita saling membantu, sudah kubilang." Mariana menyingkirkan keranjang buah kosong yang dua hari lalu dia bawa dan menggantinya dengan keranjang buah penuh. "Omong-omong, kudengar malam ini kamu meminta melayani Tuan Muda. Tanganmu sudah baik-baik saja?"
"Iya." Roxanne menunduk pada tangannya yang masih harus disangga. Tapi rasa sakit juga nyeri dari luka di sana sudah hilang. Walaupun baru dua minggu berlalu, setidaknya ia sudah bisa bergerak bebas.
Lagipula kalau tidak bersama Elios, Roxanne lebih banyak sendirian di kamar ini. Ia bosan beristirahat terus-menerus bahkan jika satu per satu istri Elios datang mengajaknya bicara.
"Baiklah. Akan kusiapkan gaun yang tipis dan mudah dipakai. Diane juga akan membantumu mandi."
"Ya, terima kasih."
"Sama-sama." Mariana berlalu setelah semua urusannya selesai.
Roxanne merasa aneh karena justru tidak sabar bertemu Elios.
*
"Anda baik-baik saja, Tuan Muda?"
Tatapan Elios kosong memandangi langit-langit kamarnya daripada memandangi Diane yang tanpa busana. Jam sudah menunjuk ke pukul lima sore. Ini sudah jam makan malam bagi Narendra dan seharusnya Elios bangun untuk bertemu Roxanne.
Katanya dia akan menunggu Elios agar makan bersama.
"Tuan Muda."
"Pikiranku sedikit kacau." Elios duduk, menoleh pada Diane yang mengulurkan air padanya.
Ketika gelas itu ada di tangannya, Elios justru mencengkram erat. Genggaman yang terlalu erat hingga gelas itu retak, lalu pecah begitu saja.
"Ah, sial. Aku sedang marah sekarang."
Diane buru-buru menyingkirkan selimut bersama pecahan gelas itu. Justru kalau Elios terlihat tenang lalu dia berkata marah, maka emosinya sedang sangat tidak stabil.
__ADS_1
Sangat.
"Perlu saya pergi sekarang? Lebih baik Anda beristirahat."
"Tidak. Kemari." Elios mendekap tubuh Diane di pangkuannya. Meremas berbagai tempat dengan kuat seolah melampiaskan rasa marah itu.
"Sentuh aku," bisik Elios.
Perintah yang membuat Diane kaku.
Tangannya bergetar menyentuh tubuh Elios. Pelan-pelan meletakkan bibirnya di kulit bahu pria itu, membelainya dengn lidah.
Suara napas Elios terdengar berat. Itu berarti dia sedang bergairah.
Napas Diane ikut memberat. Tangannya yang semula bergetar kini justru mendekap Elios erat. Ia mengecup setiap sudutnya, membelai dan merayu agar Elios mengeluarkan desahannya walau sedikit.
"Aku jadi sering tergoda padamu." Elios berbisik di ubun-ubunnya. "Lakukan saja. Rayu aku dan lampiaskan rasa cemburumu."
Diane hanya diam.
Elios menyeringai saat merasakan Diane tersentak. Hanya sesaat setelah iru, Diane mencium Elios seolah tak yakin jika ada hari esok.
Dia merenggut setiap hal yang dia inginkan. Melampiaskan apa yang selama ini dia sembunyikan. Menampilkan wajah yang sangat jujur bahwa dia menginginkan Elios lebih dari apa pun.
Dan setelah semuanya selesai, Elios membiarkan wanita itu duduk di pangkuannya dan memeluk Elios sesuka hatinya.
"Apa yang membuat Anda marah?"
Elios baru menyadari kalau tangannya terluka gara-gara gelas tadi. "Roxanne."
"Roxanne?"
"Aku hanya berpikir menunggu dia jatuh hati sepenuhnya itu sangat membosankan tapi aku juga harus melakukannya dan itu menyebalkan. Emosiku jadi tidak stabil seperti remaja."
"Saya rasa Roxanne sudah cukup jatuh ke tangan Anda."
__ADS_1
"Belum sedalam dirimu, kan?"
Harus sangat dalam. Elios tidak mau hanya cinta sesaat. Harus benar-benar sangat dalam dan untuk semua itu Elios harus menunggu meskipun ia kesal menunggu.
*
Dioris datang tanpa suara di belakang Eris tapi cukup membuat pria itu sadar.
"Bagaimana?" tanya Eris yang sibuk mengelus Simon, kucing kesayangannya di pangkuannya.
"Belum ada keanehan yang terlihat, Tuan Muda."
"Sama sekali?"
"Sama sekali. Mulai dari Sanya, Mariana, Diane, bahkan istri-istri yang lain tidak bertingkah mencurigakan. Mereka justru hidup rukun bersama."
Eris mendongak sekalipun tak bisa melihat hamparan langit. "Jadi maksudmu selain dari 'keanehan' hidup rukun mereka, tidak ada petunjuk lagi?"
"Benar."
"Aku sepertinya terlalu meremehkan Elios." Eris mengerang samar. "Dioris, apa saranmu?"
"Maaf, Tuan Muda, saya tidak ingin terlibat hal apa pun diluar tugas saya sebagai pengawal Nona Eirene."
Eris tidak terkejut. Sejenak pria itu diam memikirkannya, mempertimbangkan langkah yang perlu dilakukan mewaspadai Elios dan Sanya.
Nampaknya Eris tidak bisa lagi membendung pemberontakan kecil mereka. Tapi Eris memikirkan ... haruskah ia menyelamatkan Roxanne?
"Aku tidak ingin dia bersedih." Eris bergumam.
Hanya ....
"Baiklah." Eris menghela napas. "Terus awasi dan jangan lakukan apa pun."
*
__ADS_1