Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
33. Anjing Setia


__ADS_3

Bibir Roxanne mendadak kering. Ia merasa harus mengakhiri sandiwara ini atau dirinya akan tenggelam.


Ini salah. Bukan karena moral atau karena penyesalan melainkan karena Roxanne sendiri.


Dadanya tak menyukai ini.


"Tuan Mu—"


"Ada apa?!" Pintu tiba-tiba terbuka kasar dan Graean muncul dengan pakaian tidurnya, tampak tersengal. Dia sepertinya berlari tergesa-gesa. "Suhu Tuan Muda meningkat, ada a—"


Graean tak bisa meyelesaikan ucapannya karena tersadar sesuatu.


Wanita itu mematung melihat Elios tengah terisak-isak seperti anak kecil. Lebih terkejut lagi Elios memegang tangan Roxanne yang beberapa waktu lalu menjadi sasaran benci Elios.


"Ada apa?" Graean berjalan masuk, datang mendekati mereka. "Tuan Muda, apa yang terjadi? Kenapa Anda—"


Sentuhan Graean di lengan Elios langsung ditepis kasar.


"Menjauh dariku!" Elios begitu murka dan langsung mendekap Roxanne. "Eri, jangan melihat siapa pun. Cukup lihat dan dengarkan aku saja."


Eri. Nama itu tampaknya familier bagi Graean sebab ekspresinya mendadak pucat.


"Tuan Muda, dia bukan Nona Muda Eirene. Dia Roxanne."


Detik berikutnya Graean justru terkesiap oleh tatapan mata Elios. Meski dalam kondisi sakit dan sesak napas, dia menatap Graean seolah ingin memecahkan tempurung kepalanya.


"Padahal aku sudah berulang kali mengulang," gumam Elios seperti iblis. "Padahal sudah berulang kali aku beritahu!"

__ADS_1


Graean tersentak. Bagi dia yang sudah mengenal Elios lebih dari sepuluh tahun lalu, Graean tahu bahwa Elios benar-benar sedang berpikir Roxanne adalah Eirene.


Apa yang Elios ucapkan, Roxanne tidak mengerti tapi Graean sangat mengerti.


Elios selalu memberitahu semua orang untuk tidak masuk ke kamarnya saat dia bersama Eirene.


"Saya berbuat salah." Untuk sekarang, Graean tidak mau membuat Elios semakin sakit. "Tolong nikmati waktu Anda."


Graean berjalan pergi, menutup pintu rapat-rapat hingga Roxanne tertegun.


Bahkan aku tidak ditegur. Roxanne menatap tak percaya. Aku duduk di kasur Tuan Muda tapi tidak ditegur. Padahal Graean tahu aku bukan Eirene.


Jadi semaha kuasa itulah Eirene?


"Eri." Ekspresi Elios menjadi sangat lembut seolah tadi dia tak ingin membunuh siapa pun. "Maaf. Maafkan aku. Padahal kamu tidak suka keributan."


"Eri." Suara Elios mendadak seperti merintih. "Kenapa hanya diam? Apa aku berbuat salah? Ah, kamu cemburu pada Sierra? Eri, sudah kubilang sekalipun aku menyayangi Sierra, itu berbeda darimu. Sierra adik kecilku yang manis, dan kamu segalanya. Jangan marah."


Roxanne menggigit bibirnya gelisah. Ia tahu seharusnya berhenti tapi segalanya terlihat sangat manis sampai tak bisa diabaikan.


Cukup jadi Eri, segalanya akan berbeda, kan?


"Eri, bicara padaku. Cepat bicara. Ada apa? Kamu kesal pada Kakak Pertama lagi? Eri. Eri."


Roxanne tersenyum dengan air mata di pipinya. "Elios."


Ya, mulai hari ini ia adalah Eri.

__ADS_1


"Kamu sedang marah." Elios langsung terlihat putus asa seolah-olah kematian ada di depan matanya. "Kamu pasti marah besar. Apa penyebabnya? Apa Ibunda memaksamu minum jahe lagi? Aku akan bicara pada Ibunda sekarang. Ibunda selalu mendengarku kan, seperti katamu. Tunggu sebentar."


Elios beranjak dari kasur tanpa menyadari dia di mana dan mungkin mengira dia masih berada di dunianya sebelum Eirene pergi.


Tentu saja, kenyataan berbeda.


Nyatanya dia sakit.


Elios yang baru berdiri langsung terhuyung, nampak sesak napas oleh demamnya yang naik.


"Aneh." Elios bergumam parau. "Eri, badanku panas. Apa kamu sakit juga? Di mana dokter? Kamu harus minum obat saat sakit. Kamu berbeda," racau Elios semakin tak jelas.


Roxanne berusaha mengembalikan tubuh Elios ke kasur sambil ia mengingat apa yang Arkas katakan kemarin.


Benar juga. Ada alasan kenapa Elios bereaksi begitu.


"Kamu harus mengingat hal penting ini, Roxanne." Itu yang Arkas katakan. "Eirene dan Elios punya nama panggilan khusus. Mereka melarang siapa pun, bahkan aku juga Ibunda mereka, memakainya."


Eri untuk Eirene dan ....


"Eli." Roxanne mengusap air mata dan keringat dari wajah Elios. "Aku tidak marah. Jadi tidurlah."


Eli. Nama yang sangat kekanakan untuk seseorang seperti Elios.


Tapi kenyataan dia tersenyum atas panggilan itu menandakan kalau Elios seperti anjing yang akan menjulurkan lidahnya jika dipanggil oleh Eirene.


*

__ADS_1


__ADS_2