
"Dia terlihat marah." Arkas bergumam memandangi udara kosong yang dilewati Roxanne saat pergi. "Tapi dia menerimanya tanpa banyak bicara lagi."
Arkas menyandarkan punggungnya pada sofa dan menghela napas. Matanya memandangi langit-langit dengan pikiran mengawang-awang.
"Eirene." Arkas menutup wajahnya dengan lengan. "Kakakmu yang mana sebenarnya yang benar?"
Entah Arkas berbuat salah ataukah justru Elios. Entah saat ini ia menjalankan semuanya sesuai keinginan Eirene atau tidak.
Tapi Arkas harap adiknya tetap tersenyum seperti biasa di sana.
*
Bukan tidak pernah Roxanne berpikir telah mengambil jalan hidup yang salah.
Bukan tidak pernah Roxanne berpikir bahwa ia bisa melakukan hal berbeda dari semua yang telah ia lakukan sejauh ini, sejak dulu.
Tapi pada akhirnya Roxanne tidak mengikuti suara itu. Bisikan bahwa ada hal lain yang lebih menyenangkan, lebih bebas dan lebih menghargai.
"Karena aku selalu berpikir tidak punya waktu." Roxanne kembali mengepalkan tangannya yang menggenggam obat itu. "Aku selalu berpikir mencari jalan lain berarti menunggu lebih lama untuk hasil."
Dan berusaha tanpa hasil itu sangat menyebalkan. Mencari kebebasan dari perbudakan yang tidak pasti ke mana arahnya itu menyebalkan.
"Apa itu, Roxanne?"
Jelas Roxanne terkejut seseorang melihat obat di tangannya, memecah pikirannya. Tapi dengan cepat Roxanne berbohong tanpa meninggalkan jejak kecurigaan.
__ADS_1
"Obat tidur." Roxanne tidak boleh terlalu panik. "Tuan Muda Pertama bilang aku harus menjaga Tuan Muda jadi untuk sementara jangan sakit."
Kebetulan, di sekitar kelopak mata Roxanne menghitam karena kurang tidur. Jadi itu alasan yang cukup pas.
Walau dengan begitu pula ia akan tampak seperti diberi perhatian khusus oleh Arkas.
"Aku mengerti." Diane berlalu seolah cuma itu yang mau dia katakan.
Roxanne menatap punggung Diane dalam diam. Sebenarnya di awal Roxanne tidak terlalu peduli pada siapa pun termasuk Diane. Tapi, setelah semua orang memusuhinya, ia jadi mengerti bahwa seharusnya pertemanan itu dijaga.
Paling tidak untuk keuntungan pribadi.
"Diane—"
Bukan jaga diri, tapi jaga nyawamu, kah?
Kalau dipikir lagi, hubungan antar saudara pun dibiarkan di kediaman ini. Orang sakit tidak diberi obat, seorang suami mau membunuh istrinya tapi istrinya yang mendapat kebencian.
Berarti mungkin saja jika semua istri Elios punya hak membunuh Roxanne.
"Aku sempat ragu." Roxanne menatap obat di tangannya lekat-lekat. Mengakui bahwa ia sempat tidak mau memakai benda ini dan merasa sangat tak pantas melakukannya.
Tapi, pada akhirnya Arkas tidak bicara tanpa berpikir. Dia tahu bahwa Roxanne tak punya siapa pun. Jadi kalau ia tak menjadi seseorang yang memiliki si Pemilik Segalanya, Roxanne akan terlahap sendirian.
"Lucu sekali," gumam Roxanne yang mendadak ingin tersenyum. "Apa pernah ada yang menyukaiku sebagai diriku sendiri? Sampai-sampai harus jadi orang lain."
__ADS_1
Sepertinya sejauh ingatan Roxanne itu tidak pernah.
"Aku tahu kamu tidak bersalah, Eri." Roxanne berjalan melintasi lorong kosong sendirian. "Tapi maaf karena aku membencimu."
Orang yang tidak punya segalanya tidak punya pilihan selain membenci orang yang punya segalanya.
Itu rasanya sudah hukum dunia.
"Nyonya." Roxanne mengetuk pintu kamar Elios dan meminta izin pada Graean.
Setelah dia menunjukkan kemarahan, Roxanne tak berani berbicara padanya kecuali memanggilnya Nyonya.
"Kamu bisa beristirahat," gumam Graean saat dia duduk di sisi ranjang Elios. "Aku yang akan menjaga Tuan Muda malam ini."
Sepertinya kalau Roxanne memaksa ia bakal membuat kesan sangat menyebalkan.
Roxanne menerimanya dengan patuh, menarik diri dari ruangan yang tidak menerimanya itu. Tapi Roxanne tak kembali ke kamarnya.
Ia berdiri di dekat pintu kamar Elios, diam hingga pagi menjelang.
Tidak ada yang menyuruhnya melakukan itu. Tidak pula ada yang menyuruhnya melakukan apa-apa.
Roxanne tidak terlihat oleh mata siapa pun, karena ia budak Elios yang tidak patuh.
*
__ADS_1