Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
119.


__ADS_3

"Elios bertindak sesuai dugaanmu, yah?"


Eris hanya tersenyum. Walau menyebutnya dugaan juga terlalu membesar-besarkan, tapi setidaknya memang benar bahwa Eris merasa akan ada sesuatu yang terjadi.


"Kamu membuatnya seakan-akan mau membuang Eirene. Jika aku dengar, kurasa aku tidak akan sadar memukulmu." Arkas berucap dingin.


"Aku merasa bersalah pada Eirene harus mengatakan itu, tapi Elios memulainya. Aku harus membalas dengan cara yang sama."


Arkas mengusap wajahnya, diam-diam melirik bentangan langit biru.


"Akan kurobek mulutnya yang menghina Eirene setelah semua selesai."


Mau dia terpaksa atau dialah yang paling terkuka, pada akhirnya Arkas tidak mau mengerti. Ia menolak Elios dan segala hal tentang Elios.


*


"Elios memberontak?" Roxanne mau tak mau terguncang mendengar Sanya tiba-tiba berucap hal aneh.


Padahal baru saja bertemu Elios, tapi sekarang dia mengatakan bahkan Elios kemungkinan akan melawan Arkas dan Eris? Orang yang terkurung di bawah tanah sampai mengamuk dan terluka parah itu?


"Kakak meragukan ucapanku? Tolong tunggu sebentar. Kurasa sebentar lagi." Sanya tertawa kecil pada hal yang dia mengerti sendiri. "Sementara itu, biar kujelaskan kenapa dia memberontak."


Roxanne sudah bilang bahwa ia benci melihat itu. Tawa dan senyum yang membuktikan mereka tahu segalanya ketika Roxanne tidak tahu apa-apa.


Sebelum Sanya bicara, Roxanne memutuskan mendahuluinya.


"Itu semua ulahmu, kan?" Roxanne tidak bisa menahan kebenciannya pada anak ini. "Kamu memindahkan Elios ke kastel utama agar lebih mudah bagi kamu mendorong dia, kan?"


"Oh, ternyata Kakak tahu." Sanya mengerjap seolah dia tidak percaya jika Roxanne bisa berpikir. "Baguslah. Aku sebenarnya tidak terlalu suka menjelaskan segalanya."

__ADS_1


Roxanne mungkin tak punya kekuatan dan keberanian melakukannya tapi demi apa pun, demi apa pun, ia mau membunuh bocah sialan ini.


Dia, Elios, Eris dan semua orang yang menatapnya dengan mata itu, mati saja sekalian!


"Aku sudah bilang pada Kakak akan menjadi rekan paling berguna. Graean juga sudah tidak ada, Mariana bukan lawan Kakak, dan Elios mulai bergerak. Sekarang waktunya Kakak bertindak sebagai Nyonya Utama. Pertama mari kembalikan nama Narendra Elios, lalu setelah itu—"


"Aku malas." Roxanne tidak mau mendengar urusan tolol itu lagi. "Aku malas jadi lakukan sendiri."


Sanya menatap Roxanne tanpa ekspresi. "Aku tidak mengerti kenapa Kakak membenciku dari awal. Padahal sejauh ini, aku yang melakukan segalanya untuk Kakak."


Sesuatu rasanya bergejolak di benak Roxanne berkat kalimat itu.


Benar. Itu benar.


Sanya.


Ibu.


Elios.


Graean.


Diane.


Arkas.


Mereka semua ... mereka semua selalu seperti itu.


Mereka selalu melakukan sesuatu yang sangat hebat dan menguntungkan ... sambil menatap Roxanne dari atas. Dirinya yang jadi alat bermain. Bergerak sesuai dugaan mereka. Bertindak sesuai keinginan mereka.

__ADS_1


Ucapan itu sama saja.


Seperti Sanya yang seolah tidak mengerti kenapa Roxanne benci padanya; Eris yang pura-pura tidak mengerti kenapa Roxanne marah padanya; Arkas yang selalu pura-pura jadi pahlawan di hidupnya; Elios yang menatapnya sebagai Eirene; Diane dan Graean yang menatapnya sinis.


Semuanya sama saja. Di mata mereka, Roxanne tidak lebih dari boneka marionette.


Dan aku tahu itu karena faktanya aku memang bodoh. Roxanne mencengkram kepalanya yang mendadak terasa sakit.


Ia mau berteriak. Menangisi kelemahannya yang menjijikkan. Tapi ... tapi jika begitu, lalu kapan ia benar-benar berhenti jadi boneka?


Roxanne ingin muntah. Perutnya mendadak terasa tidak nyaman memikirkan betapa menjijikan hidupnya ini. Ia hidup, kesana-kemari, mendengarkan berbagai ucapan orang lain sebagai boneka. Bagaimana bisa sampai sekarang ia hidup dengan cara hidup menjijikan itu?


"Kakak?"


Roxanne mendadak tertawa. Tertawa sangat keras sampai Sanya terkejut. Namun itu tak sebanding dengan keterkejutan Sanya saat Roxanne memeluknya.


"Kakak Roxanne?"


"Kamu benar. Kamu benar, Sanya." Roxanne tersenyum bahagia memeluk gadis yang ia benci setengah gila itu. "Kamu yang paling membantuku sejauh ini."


Sanya terus-menerus dibuat terkejut. Tapi Roxanne tak peduli. Tangannya membelai rambut Sanya, menangis dan tertawa bahagia.


"Ayo bunuh semuanya saja," bisik Roxanne. "Elios, Arkas, Eris, Narendra. Semuanya. Semuanya saja."


Sanya harus membunuh mereka semua untuk Roxanne. Karena dia bilang sendiri, dia akan melakukan segalanya untuk Roxanne.


Lalu di saat terakhir, di saat semuanya tidak bisa lagi memandang Roxanne sebagai alat, bocah ini akan ia bunuh dengan tangannya sendiri.


Benar. Itulah cara hidup yang selama ini benar.

__ADS_1


*


__ADS_2