
Arkas spontan berdiri melihat tindakan Eris.
"Tarik pedangmu, Eris," perintahnya.
Pria itu tidak bergerak. Dia tetap mengangkat pedangnya pada Elios.
"Eris!"
Elios malah menyeringai. "Kakak ingin menebasku karena ucapanku bisa mengusik keyakinan Arkas, kan? Benar, harus seperti itu agar dia kokoh. Seperti saat Kakak mencabut mata Kakak sendiri agar Arkas tidak memikirkan kematian Nernia."
"Eris." Arkas menggeram. "Adikmu sudah berbuat banyak masalah jadi setidaknya dengarkan aku. Tarik pedangmu. Menjauh dari Elios."
"Memangnya ucapanmu pernah sampai ke telinga Eris?" ejek Elios. "Sebaiknya yang diam kamu, Arkas."
Elios menyentuh ujung pedang yang mengarah padanya. "Orang ini tidak sedang mempertimbangkan aku adiknya, Ibunda akan bersedih atau kamu menolaknya."
Eris tidak memasang ekspresi saat merasakan ujung pedangnya menggores ujung telunjuk Elios.
"Kakak, kamu diam sebab berpikir begini kan: agar Arkas tidak ragu pada kepemimpinan, Elios yang bicara kenyataan harus mati, tapi jika kematian Elios juga mengguncang Arkas, itu juga akan merepotkan."
Eris memang berbahaya. Dia fanatik yang bisa melakukan apa saja untuk kepentingan dari keyakinannya. Tapi, dia juga sangat sederhana dan mudah dibaca. Makanya sekalipun besar kemungkinan dia menebas Elios tanpa ragu, itu tidak akan terjadi selama Arkas tidak bisa menerimanya.
Keyakinan Arkas tidak boleh tergores. Arkas tidak boleh berpikir keputusannya salah lalu merasa tidak pantas. Orang ini akan menebas adiknya, merobek istrinya, mencungkil matanya demi hal itu.
"Tebas aku." Elios menarik tangannya dari pedang itu, berganti menyerahkan keningnya. "Kalau tidak, aku sudah siap memuntahkan banyak kenyataan yang bisa membuat Arkas goyah."
__ADS_1
"Eris." Arkas jelas panik. "Berhenti bercanda. Ini perintah dariku, menjauh."
"Tapi—"Elios mengabaikan Arkas, "—aku akan diam jika nama Narendra-ku kembali."
Mata Elios terpejam bersamaan dengan Eris mengayunkan tangan. Tapi Elios terpejam bukan karena ia siap terbebas. Itu hanya karena ia tahu Arkas pasti akan menahannya.
Bahkan meski dia harus merelakan tangannya teriris.
"Aku bilang mundur." Arkas menggeram marah. Bersamaan dengan tendangan mendarat di perut Eris. "Kamu membuatku mengulang berbagai kalimat. Eris, sekalipun Putra Kedua, aku berhak menganggap tindakanmu barusan itu kesalahan."
Elios menahan seringai.
"Pergilah. Nama Narendra sudah bukan milikmu, tapi hukumanmu resmi dicabut. Sekarang jangan buat masalah dan muncul di wajahku untuk sementara."
Elios berlalu tanpa bicara, tak menuntut soal nama Narendra. Sejak awal, ia tak mau mengembalikannya. Elios tahu Arkas tidak akan mengembalikan nama itu, tapi Elios sengaja mengucapkannya agar Eris menebas.
Rahang Eris ternoda karenanya.
"Aku sedang tidak siap menerima kematian siapa-siapa." Arkas menjatuhkan wajahnya ke bahu Eris. "Kalau benar kamu ingin menjaga kepercayaan diriku sebagai pemimpin, tahan pedangmu. Pada siapa pun itu."
Eris menghela napas. "Karena itulah Elios memanfaatkan kamu, bodoh."
"Biarkan. Tidak seperti semuanya menjadi kemenangan Elios saja."
".... Baiklah." Eris melepas pedangnya dan meraba kedua tangan Arkas yang terluka. "Maaf melukaimu, Kakak."
__ADS_1
*
"Elios." Daniel langsung menyebut namanya dengan nada menegur ketika Elios keluar. "Aku sudah tahu sejak kecil kamu ini gila, tapi sengaja memancing permusuhan Eris, otak di kepalamu tertinggal di penjara, hah?"
"Kamu sudah menjawabnya sendiri. Aku begitu karena aku gila."
"Elios!"
"Memang benar," Elios berhenti berjalan dan menoleh pada kedua temannya, "menjadi target Eris itu seperti tinggal menunggu kematian."
"Tapi, pada akhirnya dia akan mengarahkan pedangnya padaku, mau aku diam atau berteriak. Untuk Eri, aku memberontak dan Eris pasti membunuhku. Jadi daripada menunggu, lebih baik aku maju sendiri dan menjadikan Tuan Muda Pertama Yang Tersayang itu sebagai tameng. Mengerti? Aku gila tapi tidak bodoh."
"Aku mengerti sampai sejauh itu." Zack menyela. "Tapi apa jaminan jika nanti malam Eris tidak datang membunuhmu? Yang terpenting bagi dia pasti kematian orang yang mengganggu Arkas."
"Bukankah karena itu aku repot-repot memancing Eris?"
Kedua orang di depannya tersentak menyadari.
"Sanya sudah menyiram minyak lewat Roxanne dan barusan aku melempar api pada Arkas. Menurutmu selama Arkas terbakar, Eris akan meninggalkan dia?"
Sampai mental Arkas cukup siap menerima kematian 'demi dirinya', Eris tidak akan mengganggu Elios. Dia hanya akan mengawasi dan memastikan dia bisa membunuhnya.
"Dan bukannya aku punya Roxanne?" Elios menyeringai. "Boneka cantikku yang dikendalikan iblis. Akan kubakar dia bersama iblisnya itu."
Jadi mau apa pun yang terjadi, tujuan Elios tidak berubah dan langkah Elios tidak akan melenceng.
__ADS_1
*