Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Caraku Terlalu Brutal


__ADS_3

Elios mengepal tangannya menatap Diane. Ini diluar perhitungannya. Selama ini Eris tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada istri Elios selain Roxanne dan Sanya. Faktanya hawa keberadaan Diane begitu tipis untuk Eris sadar dia berharga bagi Elios.


Seharusnya tidak. Seharusnya itu rahasia mereka berdua. Sanya bahkan tidak tahu.


"Tuan Muda." Diane berusaha berbicara pada Eris. "Bisakah saya mengucapkan sesuatu pada suami saya?"


"Lakukan," jawab Eris tenang tapi tangannya tetap di leher Diane.


"Jangan pedulikan saya," kata Diane pada Elios di antara tangisan tertahan. "Lakukan apa pun, Tuan Muda. Apa pun. Jangan pedulikan saya."


Elios menelan ludah. Menatap Roxanne dan Diane bergantian.


Elios tak mau membunuh Roxanne sekarang. Tidak sama sekali. Dia harus bangun dulu dan menjerit dulu, baru dia boleh mati. Karena itu sebenarnya dia bukan sandra.


Dia sandra saat Diane tidak ada. Namun sekarang berbeda.


"Tuan Muda." Diane menatapnya. "Lakukan yang Anda mau."


Dia berkata dia baik-baik saja lehernya patah.


Benar. Seharusnya baik-baik saja. Eris cuma berhalusinasi mengenai siapa Diane bagi Elios. Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya wanita menyedihkan yang mencintai Elios bertahun-tahun lalu cukup senang karena akhirnya dapat kesempatan memiliki Elios.


"Elios." Eris memanggil nama adiknya tapi mengulurkan tangan pada Dioris yang langsung memberinya belati tajam. "Ibu berkata dia lelah dengan pembunuhan antar Narendra jadi aku akan membuatnya senang. Ayo berhenti saling membunuh."

__ADS_1


"Kupikir tidak perlu membunuhmu. Cukup istrimu saja."


Itu provokasi. Sama seperti Elios memprovokasinya. Jika Elios percaya maka ia kalah.


"Kalau begitu, Diane," Eris melepaskan leher Diane, lalu memberinya belati, "tusuk jantungmu. Aku tidak akan membunuh anak itu jika kamu melakukannya."


Elios terbelalak.


Tidak. Ia tak mau melihat hal itu lagi. Ia tak mau melihat seseorang berlutut menusuk jantungnya lagi. Kalau ada seharusnya Roxanne! Seharusnya itu Roxanne!


"Anda bersumpah?" balas Diane, yang justru menerima belati itu.


"Atas nama Ibu dan Ayahku, aku bersumpah." Eris mengangguk pasti. "Lakukan. Aku akan mengembalikan nama Narendra pada Elios jika kamu melakukannya."


"Diane." Pupil Elios bergetar.


Dan tepat seperti dugaan Eris, Elios meninggalkan sisi Roxanne. Datang merebut belati dari tangan Diane untuk memeluknya.


"Jangan pergi juga," bisik Elios putus asa. "Jangan tinggalkan aku juga. Eri dan Graean sudah pergi. Jangan kamu juga."


"Kurasa sekarang kamu sudah mengerti bahwa aku bukan lawanmu, Bocah." Eris berjalan menuju ranjang di mana Roxanne masih terlelap nyenyak.


"Kurung Elios di kamarnya yang lama, tak masalah bersama Diane," perintah Eris tegas. "Lalu, jangan beritahu Arkas mengenai apa pun."

__ADS_1


"Baik, Tuan Muda."


Untuk sekarang Eris rasa ini cukup meredam Elios. Walau sejujurnya Eris tidak percaya bahwa ia sungguhan berhasil.


Mengenai Diane, itu hanya dugaan Eris semata dari informasi Dioris. Eris tak pernah benar-benar percaya bahwa Elios jatuh cinta lagi pada istrinya, selain Graean.


"Aku tidak bermaksud bersikap baik setelah semuanya," gumam Eris saat tangannya menggenggam Roxanne. "Aku ingin membunuhnya karena banyak kesalahan yang dia lakukan pada keluarga ini, dan padamu juga, Roxanne. Tapi tidak masalah kan kalau sebentar saja kubiarkan dia bersama Diane?"


Tentu saja, orang koma adalah orang koma. Dia tidak mungkin menjawab.


"Mungkin Ibu benar." Eris menumpukan keningnya pada tangan Roxanne. "Mungkin caraku terlalu brutal."


"...."


"Kamu tidak ingin bangun, memberitahuku sesuatu? Seperti 'kamu saja yang mati, dasar pria buta sialan' atau sesuatu? Roxanne?"


Eris bernapas lemah. Tertawa muram karena hening dan bau darah di sekitarannya.


"Bangunlah," pelas Eris putus asa. "Aku merindukanmu."


Ia sekarang sangat ingin mendengar suara Roxanne.


*

__ADS_1


__ADS_2