
Sementara itu, malamnya Elios berdiri menghadap Arkas dan Eris.
Masalah ini sepenuhnya diembankan pada Arkas. Apa pun keputusannya tentang Elios kedepan, Arkas diperbolehkan memilih apa pun, kematian Elios atau kebebasannya.
"Sepuluh tahun." Arkas bersandar pada kursinya, memilih untuk menatap langit-langit.
Berbagai hal berputar di kepala Arkas sekarang. Kebencian tak terbendung pada Elios, rasa rindu tak tertahan pada Eirene, penolakan terhadap kehilangan, tanggung jawab sebagai Narendra, pengorbanan Eris untuk dirinya dan tangisan Roxanne yang meracaukan sebuah fakta.
"Butuh sepuluh tahun untuk berkata itu bukan salahmu, Elios?"
"Benar."
Entah Elios tahu ataukah tidak memikirkannya, tapi apa dia pikir Arkas percaya kebohongan tolol itu? Sekalipun yang menimbun luka di hatinya itu Eris dan Arkas, Elios tidak akan menghabiskan waktu sepuluh tahun untuk kebohongan.
Dia selalu dan mungkin sampai sekarang meyakini sepenuh hati bahwa itu salahnya. Sekalipun mungkin itu bukan tapi Elios sendiri memutuskan bahwa itu salahnya.
"Aku tidak menyentuh Eri saat belati tertancap di dadanya. Aku bahkan tidak melihat. Bagaimana itu salahku?"
Itu salahnya karena dia sangat menyayanginya. Arkas dan Elios sama-sama memikirkan hal sama. Tapi, Arkas pastinya tidak memikirkan hal yang sekarang Elios pikirkan.
"Kakak Roxanne akan menyiram minyak pada pohon kering bernama Arkas," ucap seseorang sebelum pertemuan ini terjadi.
__ADS_1
Elios menatap Arkas yang masih mendongak ke atas alih-alih melihatnya. Lalu pada Eris yang masih diam di sebelah Arkas. Mereka mungkin tidak akan memperkirakan iblis kecil itu bergerak liar di mana-mana.
"Sanya." Elios bersedia menceritakan bagaimana iblis itu datang padanya. "Kupikir kamu akan terus bersembunyi dibalik Roxanne. Aku hampir percaya bahwa kamu menyimpan rasa sayang pada wanita itu."
Sanya menyeringai. "Awalnya begitu." Dia tidak berbicara sopan. "Tapi Sanya berubah pikiran. Kakak melenceng dari harapan Sanya."
"Tapi kamu tidak membuangnya melainkan menyesuaikan diri padanya?"
"Benar."
Elios menatap iblis itu penuh rasa tertarik. "Gadis kecil yang manis. Kamu datang padaku, membiarkan identitas bahkan niatmu diketahui, sekalipun tahu kalau nanti kamu juga mati di tanganku?"
"Sanya ... sangat senang memikirkan semuanya." Sanya memerah seperti anak kecil yang melihat mainan baru bergerak-gerak misterius. "Sanya senang, Elios, pada apa pun. Kamu ingin membunuh Sanya, Roxanne ingin Sanya mati, Eris memastikan dirinya sebagai malaikat maut Sanya—aneh. Sangat aneh. Kenapa jantung Sanya berdebar antusias?"
Karena dia iblis.
Yah, Elios merasa tidak pantas mengatakannya tapi karena sesama iblis, Elios bisa melihat. Sanya adalah orang gila sungguhan.
Dan orang gila itu sedang melihat segalanya sebagai mainan. Aku cukup senang bermain dengan orang gila sepertinya.
"Arkas." Elios tersenyum persis sama seperti Sanya. "Eri menusuk jantungnya di depanku, bukan kamu."
__ADS_1
Pria itu membatu. Seperti kata Sanya, dia adalah pohon kering yang telah disirami minyak. Sekarang tugas Elios membakar segalanya.
"Dia tahu jika dia melakukannya di depanmu, maka aku yang akan menyalahkan kamu dan memberontak dari Narendra. Akan kubunuh kalian satu per satu sampai dendamku tuntas. Eri pasti tahu dan dia tidak mau. Karena aku kembarnya yang kejam dan emosional, tidak berhati seperti Eri."
Raut wajah Arkas sekarang sudah cukup membuat Elios tidak menyesal membiarkan Sanya. Raut wajah tersiksa dan jauh lebih tersiksa daripada Elios.
"Karena itulah dia memilihku, bukan kamu. Dia berharap kamu mengerti bahwa kematiannya harus diterima. Bahwa keputusan itu yang terbaik, terlepas dari apa pun," ucap Elios semakin memprovokasi.
Semakin dan semakin Elios berbicara, semakin terlihat api membesar di sekitar Arkas.
"Jelas dia tidak berpikir bahwa kakak pertama yang dia andalkan pada akhirnya mengambil keputusan tidak berguna. Mengasingkan kembaran yang Eri cintai cuma gara-gara dia cemburu."
Angin tajam berembus di depan Elios. Kepalanya sedikit mundur dari posisi awal, menatap ujung pedang pajang yang mengarah padanya.
Eris, pria yang mengarahkan pedang itu, tampak siap menebas Elios.
"Kucing kesayangan Arkas selalu menggeram jika tuannya diusik." Elios tertawa. "Kakakku memang fanatik."
Raut kemarahan untuk pertama kali nampak di wajah Eris. "Tutup mulutmu itu, Bocah Sialan."
*
__ADS_1