
Elios menatap sekitarannya setelah tertidur selama dua puluh empat jam. Perasaannya tidak nyaman. Elios merasa haus dan sangat pusing.
Tapi yang lebih penting, sejak kamarnya sekumuh ini?
"Graean." Elios tentu hanya memikirkan satu orang yang dapat dengan berani memindahkannya begini. "Graean!"
Pintu kamar terbuka, tapi yang datang bukan Graean. Itu wanita yang Elios lupa namanya tapi cukup ingat dia istrinya.
Entah yang ke berapa.
"Aku memanggil Graean, bukan kamu."
"Mohon maaf, Tuan Muda. Nyonya Pertama sedang beristirahat. Beliau baru kembali satu jam lalu dari pekerjaan."
Cih. Tapi Elios tidak bisa marah jika itu alasannya, karena Graean mengurus bisnis yang Elios tinggalkan.
"Kenapa aku berada di tempat ini?" tanya Elios, walau sebenarnya lebih suka bertanya pada istri pertamanya.
Kamar ini bahkan tidak pernah ada dalam ingatan Elios. Ia jelas tidak pernah tinggal di kamar sekecil dan sesederhana ini.
Gempa macam apa yang datang sampai-sampai Elios dipindahkan ke sini?
"Kalian berbuat sesuka hati hanya karena aku sakit." Elios mengernyit kesal, menurunkan kakinya ke lantai sambil berusaha menahan sakit kepalanya. "Lalu di mana Daniel dan Zack?"
"Mereka belum menginjakkan kaki ke kastel sejak Anda absen dari pekerjaan, Tuan Muda."
Daniel dan Zack adalah tangan kanan Elios sejak dirinya resmi dewasa menurut standar Narendra, yaitu di usia tujuh belas tahun. Walau Elios sudah bukan Narendra, mereka masih bekerja untuknya dan menangani banyak pekerjaan yang tidak bisa ditangani oleh Graean sendiri.
Kalau mereka tidak ada lalu Graean beristirahat, berarti tidak ada orang berguna yang bisa ia tanyai di tempat ini.
"Hah." Elios menghela napas kesal. "Sudahlah. Kembali ke tempatmu."
Wanita itu tidak bergerak.
__ADS_1
Elios meliriknya tak senang. Berpikir bahwa dia sedang berusaha mencari perhatian sebagai istrinya, dan Elios benar-benar tidak mau menangani hal menjengkelkan sekarang.
"Kamu mengabaikan perintah?"
"Saya minta maaf membuat Anda tidak nyaman, tapi ada sesuatu yang saya rasa harus Anda tahu."
"Harus aku tahu, hah?" Elios menghela napas tak percaya. "Sekarang budak berani mengatur hal yang harus kutahu."
"Tolong sekali saja ampuni kelancangan saya, Tuan Muda. Ini mengenai kondisi Anda."
Kening Elios langsung berkerut. Ia beranjak dari kasur dan mendekati wanita tersebut.
Ketika Elios berdiri di hadapannya, ia mulai bisa mengenali wajah itu.
"Maria." Elios mengulurkan tangan ke sudut bibirnya. "Aku ingat sekarang. Ibunda membawamu sekitar dua tahun yang lalu."
Mariana diam membiarkan Elios menyentuh wajahnya.
".... Saya mengerti."
Melihat dia tidak mundur karena itu, berarti memang ada sesuatu.
Elios melipat tangan. Menatap wanita yang baginya tidak penting sejak dia datang hingga sekarang.
Ya, Elios cukup ingat pernah menghabiskan malam dengannya dua kali. Hanya dua kali.
"Apa Anda tidak mengingat sesuatu yang Anda lakukan terakhir kali, Tuan Muda?"
"Tidak," jawab Elios tidak peduli. "Beritahu aku cepat dan berhenti basa-basi."
"Setelah hukuman Tuan Muda Pertama dicabut, Anda tiba-tiba menganggap salah satu istri Anda sebagai Nona Muda."
Elios langsung bereaksi. Tubuhnya sejenak kaku karena terkejut, lalu sejurus kemudian pria itu langsung membuang napas tak percaya.
__ADS_1
"Mengira istriku adalah Eri? Leluconmu tidak lucu."
"Saya tidak melucu, Tuan Muda."
"Tidak, kamu melucu."
Elios merampas rahang Mariana kuat-kuat. Matanya nyalang menatap wanita yang ia anggap baru saja menghina kembarannya.
"Aku ingat aku tidak pernah memberi izin siapa pun dari kalian menyebut Eri. Aku berubah pikiran karena itu. Bagaimana kalau mulutmu saja yang kurobek?"
Mariana menahan ringisan sakit di wajahnya. Kalau sedikit saja meringis, dia merasa Elios akan menganggapnya cuma cari perhatian.
Maka dari itu, Mariana tetap tegas menatap Elios.
"Nyonya Pertama berkata agar merahasiakan siapa itu. Beliau bilang jika Anda menyakiti istri Anda lagi, Tuan Muda Pertama akan memberi hukunan yang lebih sulit."
Keyakinan di mata Mariana membuat Elios mau tak mau ragu. Pria itu melepaskan rahang Mariana, mengerutkan kening ketika samar-samar ia memang mengingat sesuatu.
"Eli, minum ini."
Ia ingat Eirene mengulurkan tangan padanya untuk menyerahkan tablet obat berwarna putih.
Eri tidak pernah memberiku obat sama sekali. Elios melirik Mariana dan berpikir mengenai perkataannya itu.
"Menarik." Elios menyeringai. "Akan kucincang orang lancang itu secepatnya."
Sekarang Elios sudah terbangun dari mimpi sialan itu, jadi sebaiknya dia bersiap.
Beraninya dia berpikir menjadi Eirene ketika dia hanya seekor hama. Siapa pun dia, Elios akan memastikan kematiannya.
Persetan pada Arkas.
*
__ADS_1