Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
101 : PTRI : Pertemuan Aiden dengan Elly


__ADS_3

BRAKK....


Dengan langkah cepat juga lebar, Cecil berjalan masuk dan langsung berbaring di atas tempat tidurnya.


"Aku berhadapan langsung dengannya! Bagaimana bisa dia ada di sini juga?! Apa ini yang namanya hukuman? Seolah-olah dia terus menghantuiku." Racau Cecil.


Sebenarnya tepat dia melihat langsung wajah Raelyn atau Elly, Cecil sudah sepenuhnya cemas dengan keadaan yang ia miliki, takut kalau tatapan mata milik Elly yang begitu tajam itu, seakan menjadi wakil kalau dia sudah mengetahui kejahatan yang sudah Cecil perbuat kepadanya.


DRRTT...


DRRTT...


Handphone miliknya tiba-tiba saja berbunyi, dan orang yang sedang menghubunginya adalah Aiden.


'Kenapa dia menghubungiku? Apa dia sudah selesai dengan pekerjaannya?' Tidak mau berpikir panjang lagi, Cecil langsung mengangkat telepon dari Aiden.


-"Cecil, kau sekarang ada di mana?"- Tanya Aiden, dialah pria yang kini sedang menghubungi Cecil yang sedang dilanda kecemasan itu.


"Kau datanglah ke hotel yang biasa aku datangi." Jawab Cecil dengan nada sedikit ketus.


-"Ada apa? Dari suaramu kau terdengar seperti punya masalah."-


"Makannya, datang kesini." jawab Cecil singkat, lalu memutuskan panggilan diantara mereka berdua.


TUT.


_____________


"........." Di tempat Aiden berada yaitu di sebuah cafe, ia menatap layar handphone nya sediri setelah teleponnya tiba-tiba di matikan oleh Cecil. 'Apa yang terjadi? Tapi reaksi ini, rasanya cukup familiar.'


Ketika Aiden menyesap secangkir kopi pesanannya, Aiden tiba-tiba saja menyunggingkan senyuman tipisnya.


TAK..


Aiden meletakkan kembali cangkir kopinya dan melirik ke arah dimana jendela full glass itu tidak sengaja membuat Aiden melihat sosok yang baginya tidak begitu asing.

__ADS_1


Jelas, dilihat dari rambut asli berwarna coklat yang dimiliki oleh pria bernama Alves, membuktikan kalau tidak jauh dari tempatnya Aiden merasa kalau wanita yang ia harapkan ada di sekitarnya.


Dimana? Walaupun ia tidak tahu dimana sekarang, karena Aiden berpikir kalau wanita yang malam itu bersama dengan Alves tidak ada di dalam mobil, membuat Aiden berpikir kalau wanita tersebut ada di satu tempat.


'Suatu tempat yang membuat Cecil ketakutan, dia-' Aiden kemudian sedikit mendongak ke atas, dan melihat ada satu gedung pencakar langit yang begitu tinggi juga cukup mencolok, 'Ada di hotel Lotusa.'


Begitu mendapatkan pikiran tersebut, Aiden segera mengambil jas hitam yang sempat dia sampirkan di sandaran kursi, meletakkan selembar uang di bawah cangkir kopi, lantas Aiden langsung berjalan pergi.


'Keberuntungan macam apa ini bisa tahu kalau Raelyn ternyata ada di sana juga.' Pikir Aiden, masuk kedalam mobil yang terparkir di depan cafe, Aiden segera melajukan mobil miliknya pergi menuju ke hotel Lotusa.


Sudah begitu lama sekali Aiden tidak bertemu dengan Raelyn.


Hanya karena suatu kesalahan yang pernah ia lakukan kepada wanita itu, Aiden langsung diputuskan begitu saja secara sepihak oleh Raelyn sendiri, maka dari itu tujuan dari dirinya ingin menemuinya adalah untuk membujuknya untuk balikan lagi.


'Aku dari awal memang tidak begitu memandang penampilannya yang culun itu. Tapi aku hanya tidak pernah berpikir kalau saat dia berdandan dan memakai pakaian mahal seperti itu langsung membuat auranya berubah.


Kalau saja aku tahu, aku pasti akan membuat dia terus ada di sisiku dan tidak mengiyakan permintaannya untuk putus denganku.' Pikir Aiden.


_________


Di samping Aiden hendak pergi menuju hotel untuk menemui Raelyn yang kemungkinan besar ada di sana, Alves sendiri sedang berada di sebuah counter.


"Dimana dia? Aku sudah pesan barang padanya." Tanya Alves secara langsung.


Dan barang yang dipesan olah Alves adalah handphone yang sempat ia bicarakan dengan Orson kemarin.


"Kalau beliau, beliau kebetulan sedang Istirahat di cafe seberang Tuan. Mau saya panggilkan?"


Alves menoleh ke belakang, dan tepat di seberang dari counter yang Alves datang memang benar, ada sebuah cafe.


"Panggil dia." Jawab Alves tanpa pikir panjang. 'Padahal jam Istirahat sudah hampir selesai, tapi dia malah masih asik pacaran. Kelihatannya aku salah menempatkan anak itu disini.' Gumam Alves di dalam hati, ia sangat tidak menyukai jika ada orang yang bekerja dengannya, tapi kinerja waktu yang digunakan selalu nya tidak tepat, diantara waktu yang di maksud itu adalah telat.


"Baik, mohon tunggu sebentar." Pinta pegawai counter ini.


___________

__ADS_1


"Orson, kapan Alves pulang?" Tanya Elly dengan wajah polosnya.


Ya, begitu polos, sampai Orson terkadang telena dengan ekspresi wajah Elly yang terlihat kalem itu sebenarnya adalah orang yang memiliki satu sifat yang cukup mengerikan.


Jika ada yang mengusiknya, maka balasan yang setimpal pun akan di dapatkannya.


"Sebentar, aku cari handphone ku dulu." Orson yang tadinya tengah minum air, jadi kelabakan karena ia tidak melihat ada handphone miliknya. "Eh? Handphone ku kenapa tidak ada?" Orson jadi khawatir.


"Apa handphonemu itu ini?" Elly bertanya lagi sambil memperlihatkan handphone lipat milik Orson.


Orson tercekat begitu melihat handphone nya ternyata ada di tangannya Elly.


"Kenapa bisa ada di tanganmu?" Orson bertanya sambil memberikan tatapan menyelidik.


"Itu karenamu tidak waspada, padahal aku mengambilnya dari celanamu tadi." Jawab Elly sambil membuka handphone lipat itu benar-benar sama dengan yang dimiliki oleh Alves, tapi hanya beda warna saja. Jika milik Alves berwarna hitam, maka punya Orson berwarna putih.


'Tadi? Tadi yang dia maksud itu kapan? Apa saat aku sedang minum tadi, atau saat aku membantu mengambilkan sayur yang sempat jatuh di lorong tadi?' Orson pun jadi dibuat berpikir keras, gara-gara ia ternyata bisa jadi kurang waspada dengan Elly yang dari luar kelihatan seperti wanita biasa, tapi sebetulnya Elly mampu melakukan banyak hal diluar pekerjaan dari seorang pelayan biasa.


"Nih, lebih baik kau lebih hati-hati lagi, terutama kepadaku." Elly pun memberikan handphone tersebut kepada pemiliknya dengan senyuman ramah.


Senyuman yang tidak begitu meyakinkan.


Jika orang itu adalah orang biasa, mungkin akan tertipu dengan senyuman yang dilontarkan oleh Elly, tapi tidak dengan dirinya, ia justru menganggap senyuman ramah itu memiliki banyak sekali makna lain.


Dan makna lain itu salah satu diantaranya adalah bahwa orang yang selalu waspada dan kompeten sepertinya bisa menyingkirkan Orson dari posisinya itu.


Ya, Elly bisa saja mengambil alih posisinya Orson sebagai tangan kanannya Alves.


Itulah yang dimaksud dari senyuman itu, sebuah transaksi kode yang cukup memanipulasi mata.


"Kau beritahu Alves kalau makanan yang dia pesan sudah siap."


"Terus kau sendiri?" Orson melirik Elly yang terlihat seperti hendak pergi ke suatu tempat.


"Aku hanya ingin mengecek sesuatu. Aku tidak akan keluar dari wilayah hotel, jadi jika kau atau Alves nanti mencariku, staf di hotel pasti akan tahu." Jelas Elly, benar-benar berhasil memberitahu Orson cara untuk mengantisipasi mereka berdua bertanya kemana perginya, karena Elly sendiri tidak memegang handphone sama sekali.

__ADS_1


"Jangan-jangan kau mau bertemu dengan Cecil ya?"


"Entahlah. Karena aku lebih suka berpikir menemukan tujuanku saat aku sedang jalan, jadi saat ini aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Aku tidak akan lama!" Jawab Elly, dan melambaikan tangannya kepada Orson, sekalipun Elly sendiri dari tadi sudah berjalan menjauhinya bahkan tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.


__ADS_2