Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
50 : PTRI : Benci


__ADS_3

Tidak seperti kebanyakan orang akan memakai mobil untuk pergi ke hotel untuk menghadiri resepsi pernikahan, Alves, Elly, Asena dan Gibran, mereka lebih memilih untuk naik helikopter.


Alasannya cukup sederhana, agar tidak membuang-buang waktu di jalan dan mengantri untuk sekedar masuk.


Tapi ternyata, selain untuk menghindari hal yang tidak perlu itu, mereka berdua jadi di perlihatkan oleh Elly yang sedang membantu Alves menerbangkan helikopter.


'Sebenarnya Alves dapat wanita ini dari mana? Padahal aku sudah membuatnya cantik, tapi dia ternyata malah jadi keren, gara-gara dia terlihat serius untuk mengendari helikopter ini.' Asena tidak bisa mengalihkan pandangannya dari kedua orang yang ada di depan sana.


'Ini sangat menyenangkan, bisa terbang di atas kota seperti ini.' Elly sesekali melirik ke samping kiri. Karena hujan sudah mulai reda, dia jadi bisa melihat lebih jelas pemandangan kota yang bisa ia lihat dari ketinggian seperti itu.


'Dia terlihat menikmatinya. Apa dia suka dengan ketinggian seperti ini? Perlukah aku mengajaknya terjun payung?' Alves yang terlena sendiri dengan keseriusan dari wanita yang duduk di sebelah kirinya itu, tiba-tiba tersenyum tipis.


Tidak butuh waktu lama karena mereka menggunakan helikopter, akhirnya mereka berempat sampai di atas gedung dari sebuah hotel.


'Elly, wanita ini tenyata dia bisa bermain-main dengan helikopter seperti ini.'' Gibran pun jadi sama-sama terpaku dengan keberadaan Elly yang memang berhasil menarik perhatian dair tiga orang yang ada di sana. 'Walaupun Alves menganggapnya sebagai pelayan, tapi dia termasuk beruntung,'

__ADS_1


"Ehem...maaf mengganggu anda sekalian, tapi aku merasa seperti sedang di tatap. Apakah aku benar?" Elly yang tiba-tiba berbicara demiikan dan langsung menoleh ke belakang.


Sontak ketiga orang itu langsung memperbaiki pandangan mereka.


"Kau selalu benar." Sahut Alves, mewakili mereka berdua yang ada di belakang. "Mungkin karena pesonamu, makannya kami bertiga jadi menatapmu terus."


"Jangan menggombaliku." Tegas Elly. Antara malu juga kurang suka.


"Tapi aku suka menggombalimu, merayumu. Mungkin saja kau jadi berubah pikiran, kan?" Ucap Alves dengan senyuman penuh kemenangan.


"Asena, suamimu ada di sini tapi kau malah melihat ke arah pria lain." Rungut Gibran, masih menempatkan telapak tangannya di depan mata Asena.


"Gibran, jangan menutup mataku seperti ini. Kau akan menghancurkan riasanku." Ucap Asena memberikan peringatan kepada Gibran itu. Dia sama sekali tidak memperdulikan dengan ucapannya Gibran tadi.


"Biarin, yang penting kau jangan terlalu lama memandang pria lain di depanku." Balas Gibran.

__ADS_1


'Ah ...aku sungguh muak. Aku ingin sekali menghapus riasan ini.' Berbanding terbalik dengan Asena yang sangat berusaha untuk menjaga riasan wajahnya, maka Elly sama sekali tidak.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang tidak membuatmu nyaman?" Tanya Alves, karena ia menyadari raut wajah Elly yang kurang baik itu.


Elly menunduk, dia ingin memegang wajahnya sendiri, tapi untuk di sentuh sedikit saja, ia merasa jijik sendiri. "Aku benci make up."


"Apa?" Alves langsung melongo mendengar jawaban Elly yang cukup mengejutkan, bahkan Asena sendiri selaku orang yang merias wajah Elly untuk sedemikan rupa cantik dan lebih cantik jelita dari wanita yang lainnya.


Karena di tanyai lagi, lantas Elly pun menoleh ke arah Alves dengan wajah jijik. "Wajahku, aku sama sekali tidak suka, tidak suka aromanya. Ini rasanya seperti aku sedang di tempeli aspal."


"'K-kau, aku kan sudah susah payah meriasmu, jadi itu balasanmu?"


"Aku menghargai usahamu. Tapi ternyata semakin lama aku mengenakan riasan, rasanya aku jadi bertambah tidak nyaman. Aku tidak peduli soal cantik atau tidak. Karena dari awal aku tidak memperdulikan soal itu, selain kenyamanannku." Jelas Elly panjang lebar.


Membuat mereka bertiga jadi diam membisu, gara-gara pernyataan Elly yang sungguh berbeda dengan kebanyakan wanita manapun.

__ADS_1


__ADS_2