
'Tch....padahal aku tidak melakukan apapun kepadanya, kenapa jadi menuduhku seolah aku juga bersalah? Kan salah dia, punya penampilan udik seperti kemarin. Dan sekarang, mentang-mentang dia bersama dengan Tuan, dia jadi seenaknya seperti itu.
Padahal aku sudah berusaha bekerja dengan baik, sampai aku sama sekali tidak memiliki kesalahan apapun, tapi hari ini, aku jadi di beri peringatan seperti itu oleh Tuan. Aku jadi sangat kesal!'gerutu wanita ini, sama sekali tidak bisa menerima, kesempurnaannya dalam melayani atasannya itu, harus ternodai dengan tuduhan dan peringatan dari sang Tuan itu sendiri.
TING...
"Hei, hei, kenapa ini, kenapa wajahmu di tekuk seperti itu?" Pintu lift yang terbuka itu, memasukkan satu orang pegawai laki-laki tampan kedalam Lift, menemani wanita ini.
"Hanya kesal saja," Ketusnya, dia sedang tidak ingin di ganggu lagi dengan godaan pacarnya ini, sebab di dalam lift saja tangan dari pria itu sempat mendarat di pant*tnya. "Hei, tanganmu itu, ini masih jam kerja." Peringatnya, sambil menepis tangan yang jahil itu.
"Pelit sekali kamu." Rungutnya, karena tidak di perbolehkan menyentuhnya, padahal hanya di bagian bawah sana.
"Bukan pelit, tapi ingat situasi, ini itu di jam kerja, kau mau hubungan kita ketahuan?" imbuhnya lagi.
TING...
Sampai di lobi, mereka berdua sama-sama keluar dari lift, dan diantara itu semua sebenarnya di CCTV, ada seseorang yang dengan mudahnya sedang mengawasinya.
_______________
"Apa yang sedang kau tonton?" Tanya Alves.
"Berita, soal pernikahan kedua aktris itu."" Melihat Alves berjalan mendekatinya, Elly yang tadi sedang melihat rekaman CCTV, buru-buru membuka halaman lain yang sudah di siapkan lebih dulu sebelum ketahuan kalau ia baru saja meretas server perusahaan milik Alves untuk mengamati apa saja yang ada di dalam gedung.
Setelah menghampirinya, Alves benar-benar melihat Elly memang sedang menonton Ytb, ada siaran langsung yang meliput pernikahan kedua artis terkenal.
"Nanti malam, apa kau mau ikut denganku?"
"Pergi kemana?"
"Kesuatu tempat yang akan kau sukai." Laki-laki ini tersenyum senang melihat wajah penasaran milik Elly.
__ADS_1
'Dia selalunya seperti ini.' Pikir Elly. Dia sungguh tidak ingin pergi, karena dia lelah, tapi apa yang di tawarkan oleh Alves kepadanya itu seperti sebuah pancingan besar yang akan membuatnya suka. "Huft~ Baiklah. Kapan? Biar aku bisa menjadwalkan waktuku."
Belum juga tahu akan pergi kemana, tapi Elly merasakan adanya sesuatu yang akan berlangsung cukup panjang.
"Jadwal untuk keberangkatannya jam enam sore. Sekarang aku harus kembali ke tempat rapat, jam setengah empat kita pulang, saat itu kau bisa istirahat sebentar, dan di jam lima, kita berangkat untuk melakukan sesuatu terhadapmu." Jelas Alves.
Kali ini Alves sudah berencana untuk membawa pergi Elly ke pesta resepsi yang akan di adakan malam nanti. Acaranya berlangsung di dalam gedung, dan Alves sengaja membawanya untuk menemukan rasa penasaran milik Elly yang terlihat senang saat menonton pernikahan dari kedua aktris yang sedang terkenal di seluruh media.
"Aku pergi rapat dulu. Karena Orson tidak akan ada di tempatnya, kau jaga ruanganku, siapapun tidak ada yang di perbolehkan masuk, mengerti?"
"Mengerti," Jawab Elly dengan anggukan patuh.
'Dia seperti anj*ng kecil.' Kekeh Alves lalu pergi keluar.
KLEK.
"Kemana ya? Tapi jam lima itu, melakukan sesuatu kepadaku itu apa?" Gumam Elly, dia sama sekali tidak bisa menebak apa isi pikiran dari laki-laki itu.
Baru juga lima di tinggal tiba-tiba telepon kantor yang ada di atas meja samping komputer milik Alves berdering.
-"Nona Elly, bisakah anda mengambilkan flashdisk yang saya simpan di laci meja milik Bos?"-
Ternyata yang meneleponnya adalah Orson, asisten pribadi Alves, sekaligus sekretarisnya.
'Di laci?' Dengan telepon masih tersambung, Elly mencoba membuka laci. Dia melihat ada lima buah flashdisk di dalam laci dengan bentuk gantungan kunci karakter. 'Dia ternyata suka yang seperti ini ya? Lucu,' Merasa geli hati melihat flashdisk itu punya karakter lucu. "Aku sudah menemukannya, tapi ada lima buah. Yang mana?"
-"Yang warna hitam."-
"Berarti yang bentuknya seperti ranting pohon ini ya?" Hanya ada satu flashdisk saja yang mempunyai warna hitam dan bentuknya seperti ranting pohon.
Sangat lucu, padahal Alves terlihat seperti bukan orang yang menyukai hal kecil remeh temeh untuk anak-anak.
__ADS_1
-"Iya."-
"Aku akan mengantarnya."
-"Antarkan di lantai tiga puluh, di ruang rapat nomor 3, saya akan menunggu anda di luar."-
Setelah selesai berbicara, Elly meletakkan ke empat flashdisk itu kembali ke dalam laci, sedangkan satunya lagi dia bawa untuk dia antarkan ke si pemilik.
_____________
DRAP...DRAP....DRAP.....
Dengan langkah separuh berlari, Elly pergi menyusuri koridor megah itu dengan mata terus memperhatikan setiap papan nama yang menggantung di atas pintu.
Tapi karena ia akhirnya melihat ada Orson yang sedang berdiri di depan pintu, Elly lebih menguatkan langkah kakinya untuk berlari lebih cepat agar bisa cepat sampai.
"i-ini." Elly langsung memberikan flashdisk itu ke Orson dengan nafas tersengal--sengal.
"Padahal anda tidak perlu berlari seperti itu," Tegur Orson, tidak menyangka kalau barangnya akan sampai dengan cepat kurang dari tiga menit saja.
"Tapi yang namanya rapat tapi ada yang ketinggalan kan butuh yang cepat-cepat." Sela Elly dengan senyuman cerahnya, karena dia bisa menangani misi dengan cepat!
"I-iya juga. Terima kasih atas bantuan anda," Orson meninggalkan Elly dengan senyuman geli, karena ia mendapatkan pengalaman baru melihat ada wanita yang begitu antusias sekali saat di berikan perintah seperti itu. "Silahkan kembali ke kantor Bos,"
"Iya." Dengan senyuman sumringah, Elly bisa merasakan rasa bangga karena ia baru saja menyelesaikan misi paling mudah untuk mengantarkan barang milik majikannya.
Tapi saat Elly hendak berbalik, satu teriakan pun langsung terdengar dari ruang rapat.
"Orson! Bukan ini yang aku minta! Kenapa kau malah memberikanku flashdisk yang salah! Warnanya memang hitam tapi yang satunya lagi. Aku sudah memberikannya nama, cari dan ambil!" Pekik Alves, sampai Elly sendiri tiba-tiba saja jantungnya jadi ikut berdebar sangat kencang.
Padahal yang baru saja kena semprot itu adalah Orson, tapi yang jadi merasa bersalah adalah Elly sendiri.
__ADS_1
'J-jadi dia kalau marah akan seperti itu?' Ekspresi Elly pun jadi pusat pasi karena teriakan dari Alves membuat kakinya tiba-tiba saja jadi gemetar sendiri. 'K-kenapa kakiku gemetar seperti ini! Yang di marahi kan orang lain, tapi kenapa aku yang ikut takut!'
Kelabakan karena dirinya yang mengambilkannya flashdisk itu ke Orson, atas permintaan dari Orson sendiri, Elly pun langsung kabur dari sana.