Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
25 : PTRI : Pencuri bertopeng


__ADS_3

Elly melirik kearah Orson, tapi kembali menatap pada wajah utama di dalam lift ini.


"Ya, dia pelayanku." Jawab Alves, mewakili keterdiaman Elly.


"Saya pikir anda kekasih Bos."


Mereka berdua terdiam, dan saling memberikan tatapan mata untuk menuntut sebuah penjelasan sekaligus alasan.


Jika Alves punya tuntutan agar Elly memberikan alasannya, "Memang kau mau apa jika aku memberitahu permasalahanku padamu?"


Dan Elly punya tuntutan kepada Alves untuk menjawab pertanyaannya tadi.


'Kenapa suasananya jadi canggung seperti ini? Aku jadi merasa seperti ada di dalam medan perang saja. Bagaimana Bos dapat pelayan macam ini? Lihat itu, tatapan matanya saja cukup berani untuk ukuran seorang pelayan.' Gerutu Orson. Karena Orson sendiri sudah bosan dalam suasana tegang itu, Orson akhirnya menjawab rasa penasaran Elly. "Pilot yang kami tunggu, ternyata sedang sakit, dan penggantinya sedang dalam perjalanan kemari. Tapi dianya akan terlambat datang."


Alves hanya diam saja, karena yang penting Orson tidak membeberkan permasalahan utama miliknya.


Sudah puas dengan jawaban yang Elly terima, Elly sudah tidak lagi bersilang tangan di depan dada, dan hanya mempertahankan tubuhnya bersandar ke dinding kaca dari lift tersebut.


"Aku hanya ingin tahu saja." Jawab Elly, karena dari tadi Alves terus saja menatapnya dengan ekspresi yang cukup datar.


TING...


Lift akhirnya sampai ke tempat tujuan.


Alves dan Orson buru-buru keluar.


"Berapa lama lagi dia datang?" Tanya Alves lagi.


"Delapan menitan." sahut Orson.


TAP.....TAP.....TAP.....


Alves dan Orson yang mendengar suara langkah kaki selain mereka berdua, dibuat menoleh ke belakang.


"Kenapa kau mengikuti ku?" Alves tidak habis pikir, kenapa Elly terlihat seperti kucing yang terus mengibaskan kegemasan itu agar terus ikut di belakangnya seperti ekornya seperti itu.


"Kan aku anak buahmu juga." Jawab Elly singkat.


Mendengar jawaban yang cukup membuat Alves sendiri sudah geram, dia langsung memberhentikan langkah kakinya, mengusap wajah tampan nya dengan kasar, lalu berbalik ke belakang.


"Iya, tapi apa yang mau kau lakukan sebagai anak buahku juga?" Tanyanya.


"Kau butuh pilot kan?"


"Tapi aku sendiri bisa membawanya, jadi aku sudah tidak butuh pilot lagi." Jawab Alves detik itu juga.


"Tapi aku sebagai pela-"

__ADS_1


"Ok .., Ok.. Kau pelayanku, Jadi seharusnya kau ada di rumah saja. Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk Istirahat, bukan berkeliaran mengikutiku seperti ini?" Dengus Alves.


Padahal kemarin Elly sudah mengiyakan akan istirahat di rumah, tapi apa sekarang? Wanita ini kini ada di depan matanya.


Elly mengatupkan mulutnya, dan mengambil langkah mundur, sebab dia kali pertamanya melihat wajah Alves yang kesal itu.


"Aku tidak akan mengikutimu. Pergi saja sana." Kata Elly, sebelum dia memilih pergi menjauh dari Alves.


'Aduh Bos, kenapa Bos malah seperti orang yang sedang membentaknya. Kan Pelayan anda jadi takut seperti itu.' Benak hati Orson.


"Ayo pergi, kita tidak akan menunggu pilotnya datang, biar aku yang mengendarai helikopternya." Ucap Alves seraya menggulung kemeja hitam yang dia pakai itu.


'Ini sebenarnya bagaimana situasinya? Padahal beberapa saat tadi, Bos dan wanita itu seperti sepasang kekasih, tapi kali ini kalian berdua jadi bertengkar karena masalah pelayan anda tidak boleh ikut campur. Ya ..., benar sih. Tidak ada yang boleh ikut campur dalam urusannya yang kebetulan ini sangatlah berbahaya. Jadi sebagi perwakilan, nanti kalau bertemu lagi, aku akan meminta maaf kepada wanita tadi.' Ucap Orson di dalam hati.


Setelah itu, Alves dan di ikuti Orson, mereka berdua pun naik ke dalam helikopter, meninggalkan Elly sendirian.


"Bos, apa anda tidak keterlaluan berkata dengan nada seperti itu?"


"Memangnya nadaku seperti apa?"


"Nada rendah dengan eskpresi dingin, anda itu seperti suami yang sedang memarahi Istrinya loh. Kasihan kan, dia? Lihat it-" Orson yang baru saja menunjuk ke area pintu masuk yang ada di depan sana, tiba-tiba tangannya bergeser menunjuk ke arah pagar pembatas. Dimana sekarang Elly sedang berdiri di depan persis pagar pembatas. "K-kalau itu tidak ada pagar pembatas, saya pasti akan mengira pelayan itu akan bunuh diri." Imbuhnya.


Alves hanya meliriknya sekilas sebelum dia mengerjakan tugasnya untuk mengendarai helikopter berwarna hitam itu agar terang ke udara.


'Ini bukan seperti tugas dinas dimana kau bisa saja ikut denganku, jadi lebih baik kau tidka ikut campur dengan urusanku, Elly.' Pikir Alves.


"Aku pikir dia butuh bantuanku. Sepertinya dia memang pria yang serba bisa dalam segala hal, sepertiku." Gumam lirih Elly sambil mencengkram pagar pembatas itu, dan menatap ke area bawah, dimana semua mobil melaju ke sana kemari, dan semua manusia yang sedang berjalan pun jadi terlihat seperti seekor semut. 'Aku hanya berguna untuk pekerjaan ringan, ya?' Pikir Elly.


Karena tidak ada apapun yang bisa dia lakukan di sana, Elly pun memutuskan pergi.


*


*


*


Di dalam lft.


Dua orang berpakaian OB, tiba-tiba mengunjungi lantai 65. Padahal setelah jam delapan, tidak ada satu pekerja di bagian kebersihan yang di perbolehkan datang ke wilayah itu selain staf karyawan yang di panggil secara khusus oleh Alves.


Lantas apa yang dilakukan oleh kedua pria dengan seragam berwarna biru muda, yang menjadi identitas posisi mereka berdua bisa masuk ke lantai 65?


"Apa semua persiapannya sudah selesai?" Tanya pria ini kepada rekannya yang sedang berdiri di sebelahnya sambil membawa ember dan alat pel.


"Sudah, aku sudah menyiapkan alat-alatnya." Dia memperlihatkan ember yang tidak berisi air, tapi saat alat pel itu di angkat, ada satu kota berwarna hitam di sana.


"Ok, misinya adalah selagi orang itu pergi karena pengalihannya berhasil, kita akan punya banyak waktu untuk membobol brankas nya."

__ADS_1


TING.


Lift yang membawa mereka berdua pun berhasil sampai di lantai 65.


Karena suasana kosong dan cukup sepi, mereka berdua masuk tanpa ada kendala apapun.


Tepat di depan dua pintu yang cukup besar, mereka berdua segera mengganti sarung tangannya dengan sarung tangan medis. Semua itu agar tidak ada sidik jadi yang tertinggal, saat mereka berdua melakukan aksinya.


"Ayo." Ajak laki-laki ini kepada temannya itu.


KLEK.


Ruangan yang begitu luas itu mereka berdua masuki.


Tidak seperti kebanyakan kantor yang akan terlihat mewah dan memperlihatkan banyak barang-barang yang menjadi jati diri si pemilik, maka lain hal dengan ini. Setelah mereka berdua membuka pintu masuk, di ujung sana sudah ada meja kerja pemilik dari kantor yang sedang mereka berdua susupi.


"Sesuai dengan informasi, brankas nya ada di dalam kamar."


"Iya, tapi aku sama sekali tidak melihat ada kamar disini. Tapi aku benar-benar gerah, apa aku boleh melepaskan topengku ini?" Tanyanya.


Di sebabkan untuk menghindari adanya pengenalan wajah, mereka berdua pun sebenarnya menggunakan topeng, dengan membuat wajah merek berdua seperti orang tua.


Padahal di balik topeng itu, mereka masih muda.


"Apa kau bodoh, untuk apa repot-repot pakai topeng ke sini, tapi kau mau memperlihatkan wajahmu yang asli." Desak pria ini, tidak suka dengan permintaan dari rekannya itu.


"Iya ..., iya. Jangan marah gitu juga."


"Makannya, jangan banyak ini dan itu saat kita sedang kerja. Cepat, sebelum orang itu menyadarinya." Pria ini pun mencoba meraba-raba dinding kantor milik Alves untuk menemukan kamar tersembunyi yang ada di dalam sana.


"Ketemu."


Pria ini langsung menoleh ke belakang, dan melihat temannya yang sedang berdiri di tepi jendela full glass itu, menemukan sebuah tombol yang tersembunyi karena ada tirai besar yang menghalangi tombol itu.


Berhasil membuka pintu kamarnya, mereka berdua pun masuk.


Tapi apa yang mereka berdua dapat saat masuk kedalam kamar, mereka berdua justru melihat ada seorang wanita tidur di atas tempat tidur degan wajah pulas.


'Siapa dia? Ini diluar rencana, kenapa ada wanita tidur disini?' Karena merasa ada penghalang yang menghalangi jalannya untuk mencuri, pria ini pun sudah menyiapkan satu botol kecil di dalam saku nya.


Itu adalah obat tidur, dengan sekali semprot, sudah pasti orang yang terkena, akan langsung tidur dengan durasi yang lama.


Makannya, pria ini pun berjalan menghampiri wanita yang tidak lain adalah Elly.


Saat sudah ada di samping tempat tidur persis, pria ini pun mengulurkan tangannya untuk menyemprotkan obat tidur itu ke wajah Elly.


"Sebaiknya kau tidur saja sayang. Jangan sia-siakan tenagamu untuk berteriak." Pesan terakhir pria ini sebelum ujung jari telunjuknya menekan alat semprot itu.

__ADS_1


"Sayang?" Elly langsung membuka matanya lebar-lebar, membuat kedua orang itu langsung terkejut dengan tatapan mata Elly yang cukup berani itu.


__ADS_2