
Azriel kembali di buat terdiam, ia sama sekali tidak mampu untuk menjawab bahwa pertunangan tetap di lanjutkan, dan pertunangan itu bukan lagi di tunjukkan untuk Everlyn lagi.
“Everlyn, sebenarnya aku tidak ingin bertunangan dengannya.”
“Kenapa, padahal dia anak asli mereka, kau seharusnya senang, ya kan? Karena dengan menyetujui pertunangannya maka kau juga akan mendapatkan timbal balik yang lebih, daripada aku.”
“Jika aku bilang cinta, bagaimana?”
“Cinta? Di dunia ini itu sudah tidak ada lagi kata cinta. Yang ada hanyalah saling memanfaatkan.” Jawab Everlyn.
“Apa kau benar-benar lelah hidup di dunia ini?” Tanya Azriel secara tiba-tiba.
“Ya, aku sudah lelah, bahkan dari rutinitas ini, rasanya aku sangat ingin sekali bunuh diri.”
“Kau serius mengatakan itu?”
“Hmmm, aku serius. Daripada aku di depan keluar dengan posisiku sebagai anak pengganti di keluarga angkatku, lebih baik aku menghilang dari dunia ini. Lebih baik…lebih baik begitu, hiks…hiks…” Everlyn perlahan jadi memeluk Azriel, mencengkram baju coat hitam miliknya dengan kuat, dan memeluknya dengan lebih erat.
Takut, sedih, dan sebagainya, ia merasakan kehancuran di dalam dirinya sendiri, sebagaia orang yang sebenarnya tidak memiliki apapun, menjadi memiliki kemewahan, tapi semua itu adalah titipan untuk orang yang seharusnya ada di posisinya.
Dia kembali lagi menjadi orang yang bukan siapa-siapa lagi.
Daripada mendengar kalau ia adalah seorang anak pengganti, Everlyn justru memilih hal yang lebih baik dari itu, yaitu meninggalkan semua kemewahan itu sekarang juga, setidaknya ia tidak akan mendengar segala perkataan pedas yang sudah muak Everlyn dengar.
“Everlyn.” Panggil Azriel. Dengan ekspresi wajahnya yang cukup datar, Azriel mendorong sedikit tubuh Everlyn agar melepas pelukannya, setelah itu Azriel pun meraih wajah Everlyn dan menatap mata hitam Everlyn dengan begitu lekat.
“Ada apa? Apa ini perpisahan diantara kita?” Tanya Everlyn dengan bingung. Bahkan tangisannya antara air matanya sendiri dengan air hujan yang sudah membasahi tubuhnya itu juga membuat Everlyn bingung mana yang benar mana yang salah.
“Apa kau percaya kepadaku?”
“Apa maksud yang kau katakan itu?”
“Aku tanya lagi, apa kau mempercayai semua yang aku katakan?” Tanya Azriel dengan penuh harap.
Melihat hal itu, Everlyn jadi tidak tahu harus menjawab bagaimana dan seperti apa. “Entahlah. Aku tidak tahu Azriel, aku tidak tahu harus apa dan mau apa lagi. Jadi jika kau tanya percaya atau tidak, aku hanya bisa jawab seadaannya tanpa aku pikir panjang.
Aku percaya.”
“Kau kau mau menungguku? Tidak, tapi menemuiku?”
“Menemuimu? Menunggu? Kau sendiri saja ada di sini, apalagi yang aku tunggu?” tanya Everlyn bimbang, sekaligus tidak tahu apalagi maksud dari apa yang diucapkan oleh Azriel.
“Bukan soal waktu yang ada di sini, tapi waktu yang akan datang.”
__ADS_1
“Baiklah, hanya menunggu, aku juga sudah terbiasa menunggu, jadi tidak masalah. Dan menemuimu? Aku juga yakin bisa menemuimu juga.” Jawabnya.
“Apa kau mau aku ada di sisimu juga?”
“Apa?” Everlyn langsung membulatkan matanya dengan begitu sempurna. “Tapi kau-”
“Karena kita tidak punya waktu untuk saling merasakan apa yang namanya cinta, di waktu selanjutnya aku pasti bisa membuatmu merasakan apa yang namanya itu cinta. Bukan kepada orang lain, tapi kepadaku.” Ungkap Ariel begitu tiba-tiba.
“Apa maksud yang kau katakan sih?”
“Tidak ada, tapi aku harap kau hanya percaya dengan apa yang aku katakan saat ini.” Jelas Azriel lagi. “Setidaknya agar kita bisa keluar dari sini.”
‘Apa yang dia kaakan sih, aku tidak mengerti sama sekali.’ Pikir Everlyn.
“Untuk membuatmu lebih percaya, apakah aku harus melakukan ini kepadamu?” Tanya Azriel, ia perlahan menundukkan kepalanya, memegang wajah Everlyn, Azriel pun semakin lama makin mendekatkan wajahnya kearah Everlyn, sampai kedua bibir mereka berdua menyatu.
“Umph…” Everlyn perlahan menemukan rasa aneh, pertama kali mendapatkan ciuman dari seorang pria yang bahkan Everlyn sendiri tidak tahu bagaimana untuk membalas cintanya, karena ia sudah lebih dulu merasakan cinta tapi kepada orang lain dan cinta itu pun sudah hancur bersama dengan segala usaha yang ia gunakan untuk membeli pesawatnya sendiri.
“Everlyn, maafkan aku.” Ucap Azriel sesaat sebelum akhirnya Azriel meraup kembali bibir itu lagi, menciumnya dan merasakan sensasi lembut manis, sampai secara tiba-tiba sebuah tembakan langsung menghancurkan segala nikmat yang ada itu menjadi sebuah rasa sakit.
DORR…
“Ukhh…!” Everlyn terbatuk begitu ia mendapatkan luka tembakan yang langsung bersarang di dalam tubuhnya. “A-Azriel?” Rasa sakit yang tidak bisa lagi ia ungkapkan dengan tangisan, membawa Everlyn secara spontan memanggil nama pria di depannya itu dengan nada bergetar sebelum akhirnya tubuhnya yang sudah tidak kuasa menahan tubuh dengan jiwa yang perlahan pergi membuat tubuh Everlyn langsung jatuh dan berguling sampai tercebur ke dalam laut.
BYUUR….
Sampai rasa sakit di dada terus menyebar sampai ke seluruh tubuhnya, setelah ia mendapatkan tembakan di bagian dada persis.
“Uhuk…” Everlyn terbatuk, dan samar-samar melihat adanya pil yang sempat di selisipkan masuk kedalam mulutnya saat ia berciuman dengan Azriel. ‘Obat apa itu?’
Karena Everlyn tahu ia akhirnya mendapatkan kematian di tangan Azriel sendiri, Everlyn pun meraih kembali pil obat tersebut dan memakannya, atau setidaknya ia memasukkannya ke dalam mulutnya lagi, sebelum ia terseret masuk ke dalam laut yang lebih dalam lagi.
‘Dingin, dan sakit.’ Detik hati Everlyn.
__________
“lly!”
‘Suara siapa itu? Dan dadaku kenapa sesak, sakit!’
“Elly! Bagun Elly!”
Suara yang awalnya terdengar cukup samar, perlahan menjadi jelas. Suara dari milik dari orang yang baru saja memanggil namanya, dan dada yang terasa sakit karena ada tekanan berulang kali, sampai bibirnya yang tiba-tiba di raup begitu ganas, dan hembusan nafas yang langsung masuk ke dalam tenggorokannya, membuat Elly akhirnya tiba-tiba saja terbatuk.
__ADS_1
“Uhukk…uhukk..” Batuk itu membuat Elly membuka matanya dengan mulut mengeluarkan air yang sempat mengisi paru-parunya.
Ekspresi wajah Alves yang begitu lega saat melihat Elly bisa mengeluarkan air dan bisa membuka matanya, langsung membuat Alves memanggu kepala Elly. “Elly?”
“Hm? Ada apa? Tadi itu apa, dadaku rasanya sakit. Tulangku rusukku terasa seperti hampir patah saja.” Ucap Elly tanpa sadar sukses membuat Alves jadi terdiam dengan ocehan itu.
Ya, ocehan yang setidaknya bisa berguna, mengartikan kalau Elly masih hidup.
“Alves, kenapa raut wajahmu jelek seperti ini?” Elly meraih wajah Alves yang memperlihatkan rasa khawatirnya kepadanya.
Mengusap waah itu dan melihat mata Alves yang memerah.
Iris matanya memang berwarna merah, namun ia seperti baru saja menangis?
“Sebentar, Alves, apa kau menang-”
CUP…
Tangan yang tadinya di gunakan untuk mengusap wajah Alves, langsung Alves kecup.
“Wahh…, dia Tuan muda Alves yang itu? Kalau begitu siapa wanita yang di selamatkannya itu ya?”
“Wah, ini berita besar, ternyata-”
“Ternyata Tuan Alves sudah punya wanita pengganti Nona Asena.”
Mendengar banyak orang mulai berkumpul dan membicarakannya, Orson memberikan kode kepada anak buah kapal untuk memberikan mereka berdua handuk.
“Tapi bukannya tadi aku tenggelam ya? Aku pikir, aku akan mati lagi.”
“Jangan katakan itu, aku tidak akan pernah mengampunimu jika mati. Kau tidak punya hak untuk mati, karena masa hubungan kita masih belum berakhir. Jadi jangan pernah mengatakan soal mati, apalagi di depanku.” Jelas Alves.
‘Tapi yang barusan aku lihat di dalam mimpi tadi, apakah …, apakah aku mati karena tertembak?’ Karena tiba-tiba saja teringat dengan apa yang terjadi terakhir kali pada dirinya sebelum ia mati dan bereinkarnasi, Elly jadi memegang dadanya.
Perasaan dari rasa sakit saat di tembak, tiba-tiba saja masih bisa ia rasakan.
“Ada apa? Apa jantungmu sakit?”
“Ya, jantung sakit karena aku di khianati.”
DEG…
‘Apa jangan-jangan ingatannya muncul?’ Detik hati Alves.
__ADS_1
“Tuan, ini handuknya.” Salah satu orang anak buah kapal datang dengan dua buah handuk, yang langsung disampirkan di kedua bahu Alves, dan sisanya digunakan untuk menutupi tubuhnya Elly.
Setelah tubuh Elly ditutupi, Alves langsung membawa Elly di dalam gendongannya dan pergi dari sana tanpa ada satu pengunjung pun yang mengetahui seperti apa wajah Elly yang sebenarnya.