Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
169 : Pencegahan


__ADS_3

KLEK…..


“Apa kau hidup nyaman di sini?”


“Tidak ada kata nyaman di tempat seperti ini.” Jawab Arya pada seorang pria bertopeng yang ada di luar kamar.  “Cepat keluarkan aku dari sini, sebelum dia datang.” imbuhnya. 


“Kau terlalu tidak sabaran.”


“Siapa yang tidak sabar? Aku sudah di sini hampir setengah bulan.”


“Hampir, belum setengah bulan juga. Tapi kau kelihatannya baik-baik saja tuh.” Pria ini pun melihat penampilan Arya seperti seorang tahanan itu. 


“Jika bukan karena dia, mungkin aku sudah babak belur.” Ucap Arya, yang di maksud adalah Elly. 


Jika bukan karena perintah dari Elly untuk tidak menyiksanya, jelas sekarang Arya sudah babak belur. 


“Dia siapa?” Tanyanya, sambil mengeluarkan kunci dari sakunya, karena dia memang berhasil menduplikat kuncinya. 


“Seseorang lah. Tapi sebaiknya jangan sampai bertemu dengan dia lagi, karena kalau bertemu, aku yakin akhir dari rencana ini akah berakhir lebih buruk.” Jawab Arya. 


“Pakai rahasia-rahasaiaan saja. Katakan, siapa yang sebenarnya berhasil membuatmu di jebloskan kedalam ruangan sempit seperti ini?”


“Sempit tapi berkelas. Tidak masalah juga sih, tapi aku merasa pengap juga ada di dalam sana terus. Tapi sebelum aku jawab, apakah bom nya benar-benar akan meledak?” Arya yang berhasil keluar dari kamar tahanan, melihat ke arah atas. Setelah asap di tempat tersebut sedikit berkurang, dan Arya sendiri memakai masker khusus, dia sedikit mendongak ke arah atas, terlihat ada beberapa bom yang memang ada di atas persis. 


“Iya, makannya kita harus cepat.” jawa pria ini, menyuruh Arya ikutan kabur dari sana. 


“Aku tidak tahu sejak kapan ada bom di sana, tapi ini pasti aka jadi pesta meriah juga.” kata Arya. 


Baru juga mau pergi keluar dari tempat ruang bawah tanah itu, satu sosok bertopeng berjubah hitam, tiba-tiba saja muncul di depan mereka berdua. 


“Kalian salah rencana.” kata orang ini, tanpa sungkan dia pun menodongkan senjatanya ke arah mereka berdua dan langsung menarik pemicunya. 


DORR…DORR….


________________


Di dalam sebuah kamar, Aiden sedang berkonsentrasi dengan PC. Sampai kesepuluh jarinya terus bergerak begitu cepat untuk memasukkan segala kata yang harus dia ketik dalam waktu yang cepat. 


Karena apa?


Sebab dia sedang bertaruh dengan waktu serta keberuntungan juga. 


“Aku sudah melakukannya selama ini, apakah mereka berdua sama sekali belum bisa keluar dari sana?” Gumam Aiden. 


Dia saat ini sedang meretas server perusahaannya Alves, untuk mengganggu cctv di semua tempat agar kedua anak buahnya itu pergi dari sana dengan cepat. 

__ADS_1


Tapi, sudah lebih dari sepuluh menit sekalipun, sama sekali tidak ada tanda-tanda dia akan di hubungi bahwa misi mereka berhasil?


“Aiden~ Ibu bawakan makanan untukmu. Dan segelas susu juga.” Tiba-tiba saja, seorang wanita paruh baya sudah masuk kedalam kamarnya begitu saja tanpa sebuah ketukan pintu. 


Wanita ini memegang nampan yang membawa sepiring makan malam untuk anaknya serta segelas susu. 


“Dari tadi kau terus ada di dalam kamar, kau pasti sedang sibuk kan? Jaid Ibu baw- e-ehh!” sampai akhirnya tiba-tiba saja kalimatnya seketika terpotong, ketika salah satu kakinya tanpa senagaja tersandung kabel charger dari PC yang sedang di gunakan oleh Aiden, dan akhir dari peristiwa itu, PC yang sedang di gunakan itu seketika mati.


Aiden yang tadinya sedang fokus itu, seketika langsung melongo. 


“M-maaf.” Dengan senyuman tawarnya, Ibu angkatnya Aiden pun hanya diam mematung sambil tersenyum tawar. 


‘Ibu!’ teriak Aiden di dalam hatinya. Karena gara-gara kabel cahrgernya tercabut, seketika Pc nya jadi mati, dan semua usahanya jadi langsung sirna. 


_____________


Di tempat lain, Alves yang sedang girang karena ada lawan yang sepadan dengannya, sebab membuat dirinya jadi harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melawan si penyusup ini lewat dunia maya, tiba-tiba saja pergerakan jarinya yang tadinya mengetik dengan bagitu cepat itu seketika langsung terhenti begitu saja, saat tiba-tiba saja serangan yang di lakukan oleh pihak lawan, tiba-tiba saja terhenti detik itu juga. 


“Hmm? Kenapa berhenti? Aku pikir tadi sedang paling asik-asiknya.” ucap Alves pada dirinya sendiri. 


“Ada apa?” Tanya Orson, dia sudah membawakan kopi untuk Alves. 


“Tadi lagi seru-serunya, karenaaku bisa menemukan lawan yang cukup kuat. Tapi tiba-tiba saja serangannya sudah berhenti di tengha jalan seperti ini.” Jawab Alves seraya memberitahu Orson dengan tampilan dari serangan nya Aiden itu berhenti beberapa detik sebelum Aiden berhasil menyerang semua server perusahaan. 


“Benar juga. Tapi ngomong-ngomong sebenarnya Elly pergi kemana?”


“Dia menyusul ke markas. Karena ada kemungkinan tahanannya kabur, makannya dia menyuruhku untuk menyerahkan kunci helikoptermu padanya.” jawab Orson. 


“Padahal majikannya ada di sini, tapi kenapa dia begitu sibuk sekali.” gerutu Alves. 


“Karena ini ada hubungannya dengan Arya, orang yang berhasil dia lumpuhkan senidri, jadi mana mungkin dia rela membiarkan hasil tangkapannya kabur begitu saja.” Imbuh Orson, dia duduk santai di sofa sambil menemani kesendirian Alves malam ini. 


“...” Alves terdiam, dan menyeruput kopinya. “Dia memang begitu gigih jika usdah menyangkut musuh yang dia tangkap sendiri.” Gumam Alves, dan melirik ke arah layar pc miliknya itu. 


“Tapi apa dia bisa sampai kesana tepat waktu sebelum mereka berdua kabur?”


“Pasti bisa. itu jadi ciri khas nya, karena dia itu bisa melakuan apapun dengan percaya dirinya.” Jawab Alves lagi. 


Karena dirinya lebih mengenal Elly ketimbang Orson, jelas dia lebih tahu apa yang biasanya Elly lakukan terhadap para tawanan yang Elly tangkap sendiri itu. 


“Tapi tumben, biasanya kau selalu melarang dia pergi untuk melakukan ini dan itu, tapi sekarang?” Orson yang tidak mengerti dengan jalan pikiran dari temannya itu, jadi bingung sendiri. 


“Walaupun aku memang tidak rela, dia masih memiliki kebebasannya sendiri. Jadi aku sengaja melonggarkan batasannya itu, agar dia melakukan apa yang dia mau.”


“Atu ini semua karena ada hubungannya dengan dia yang keluar dengan banyak tadna di tubuhnya?”

__ADS_1


“Diam kau Orson. Lebih baik nikmati saja apa yang kau minum itu, jangan banyak tanya lagi.” Cetus Alves sambil melirik Orson dengan tatapan yang cukup tajam.


“Hmmph~”  


_______________


“Akhh….siapa dia? Beraninya menembakku.” Karena tidak puas hati kakinya di tembak, pria yang membantu Arya keluar dari kamar tahanan itu pun segera menodongkan pistolnya ke arah sosok tersebut dan segera menarik pemicunya. 


DORR..


DORR….


CTAK….


CTAK….


Dengan kemampuannya itu, setiap tembakan itu berhasil di tangkis dengan peluru juga. 


“Asal kalian berdua tahu saja, sekalinya kalian berdua masuk ke lantia bawah tanah di sini, maka tidak ada kata keluar.” ucapnya. 


“Hah! Ok, tidak masalah jika tidak bisa keluar, tapi jika kau berada di sini terus, maka artinya kau akan terkubur hidu-hidup dengan kami bertiga.” tutur pria bermasker ini kepada orang tersebut. 


Sedangkan Arya, dia malah sudah menunduk ke bawah sambil melepaskan maskernya. 


“Arya, kenapa kau malah melepaskan maskernya?!” pekik teman Arya ini, padahal sudah susah payah di bantu, tapi begitu melihat senyuman simpul yang tersungging di bibirnya itu, dia tahu kalau Arya ini akan menyerah. 


“Karena semua ini sudah tidak ada gunanya lagi, dia yang menang dua langkah di depan kita.” Ucap Arya. Karena kakinya kena tembak, dia pun tidak bisa berdiri selain mendongak ke atas dan melihat sosok dari orang berjubah hitam dengan masker ini sudah berada di depan matanya. 


“Jika kau membahas soal Bom, aku akan mematikannya.” Jawabnya, dan sebuah handphone langsung dia keluarkan lalu menekan tombol merah, yang mana hal itu langsung membuat beberapa bom yang terpasang baik di ventilasi maupun atap serata pojokan ruangan itu, yang tadinya lampu hijau tanda bom aktif itu menyala dan hanya tinggal menghitung mundur saja, tiba-tiba sekarang lampur dari bom itu sudah berubah menjadi warna merah. “Lalu Arya, kau bahkan tidak bisa berjalan, apa kau masih ingin bernia untuk kabur dari sini? Dan mengabaikan ucpanku waktu itu?”


“Tawaran apa? Arya, apa kau sudah membuat kesepakatan dengan or-”


Setelah maskernya di buka, wajah dari seorang wanita langsung membuat teman Arya langsung melongo. 


“Wanita?”


“Apa ada yang salah jika aku wanita?” Tatap Elly, dialah orang yang menembak kaki mereka berdua. 


“Aku hanya terkejut! Bagaiman bisa kau secara tidak sungkan menembak kaki orang lain?!” tiba-tiba saja pria ini jadinya berteriak karena kakinya memang merasakan sakit yang luar biasa, dan rasanya dia akan mau mati karena darahnya terus mengalir. 


“Kenapa tidak bisa? Memangnya aturan di dunia ini, hanya kaum pria saja yang memimpin dan wanita tidak bisa menembak, bahkan sampai tepat sasaran seperti ini?” tanya Elly penuh dengan penenakanan, sampai sorotan matanya yang meendahkan itu seakan terasa langsung menusuk ke tubuh mereka berdua. “Aku serius tanya, apakah hanya kalian yang mendominasi dalam hal kekuatan? Apa aku tidak bisa menggantikan pria di luar sana yang bahkan bisa aku beresan dengan mudah?” 


Deretan pertanyaan itu sukses membuat mereka berdua bungkam, dan merasa terintimidasi dengan aura milik Elly ini. 


“Tidak. Hiraukan saja ucapannya, dia hanya tidak tahu kalau ternyata orang yang menjadi lawannya kali ini adalah kau. Tapi bagaimana bisa kau tahu kalau kami berdua mau kabur dari sini?” ucap Arya sekaligus bertanya. 

__ADS_1


__ADS_2