
"Buka pintunya." Perintah Alves, menyuruh salah satu anak buah nya itu untuk membukakan pintu gudang untuk mereka berdua masuki.
"Baik Bos." Dengan ekspresi wajah yang senang, mereka pun membukakan pintu tersebut, dimana rupanya pintu besi besar yang dari luar terlihat berkarat dan sama sekali tidak menarik untuk di pandang, ketika pintu itu di buka, rupanya ada pintu tambahan yang di buat lebih bagus dan canggih?
Elly mengernyitkan matanya, karena Alves rupanya menggunakan tempat terbengkalai seperti ini untuk berkamuflase itu cukuplah lumayan.
Tapi dari pada itu semua, Elly melihat semua anak buah yang ia lihat, terlihat ada kalung yang melingkar di leher mereka semua.
'Apa dia menganggap mereka sebagai anj*ing penjaga? Hanya saja, itu memang cara yang sangat krusial untuk mendeteksi kebohongan. Mencegah adanya kejadian yang kedua kalinya, dia malah menempatkan mereka semua dalam posisi bukan seperti manusia.
Alves, Ariel, aishh...., orang di kehidupan sebelumnya ini, dia bukan orang yang ceroboh, dingin dan selalu memasang kewaspadaan tinggi. Tapi karena sudah bercampur aduk dengan jiwa Alves yang asli, dia jadi punya sisi lain yang tidak aku ketahui.' Tatap Elly terhadap Alves yang masih berdiri menunggu pintu di buka.
"Ngomong-ngomong, Bos, selamat ya."
"Saya juga mengucapkan selamat pada Bos, anda akhirnya mau melepas masa lalu anda dengan hal baru."
Dua orang anak buah Alves yang berdiri di samping kanan dan kirinya, berbicara dan berbisik kepada Bos nya itu.
"Kalian berdua diamlah, nanti dia mendengar." sahut Alves.
Dengan raut wajahnya yang datar, Elly membatin. 'Walaupun kau berbisik, aku masih bisa mendengarnya.'
"Tapi sepertinya Nona juga sudah mendengarnya."
"Bos, bagaimana anda bisa secepat ini mendapatkan wanita? Padahal anda juga belum lama ini memutuskan pertunangan anda."
"Tentu saja aku nemu di pantai, karena cantik, jadi aku ambil saja dari sana." jawab Alves dengan lugas di susul dengan senyuman bangganya.
'Dia sedang menyombongkan diri. Tapi apa yang dia katakan? Kenapa aku terdengar seperti barang yang di pungut di pantai? Aku akui kalau aku memang terdampar di pantai, tapi dia membuat ceritanya itu jadi terkesan aku ini sesuatu-' belum juga selesai berpikir, ia kembali di perdengarkan percakapan diantara mereka bertiga yang terdengar menggebu-gebu.
"bos ba-"
"Jangan panggil aku Bos, tapi Tuan, apa kalian masih saja belum mengerti?" Tegur Alves, karena kata Bos itu terdengar kurang epik.
"AH, iya, iya. Maksudku Tuan, anda hebat, anda berarti punya keberuntungan besar, Jadi kira-kira kapan Tuan dan Nona akan kawin?"
CTAS.....
Akal sehat Elly seperti terputus setelah mendengar kalimat yang begitu kasar?
Ya, itu memang cukup kasar, dan yang mengatakannya justru adalah anak buahnya Alves sendiri.
"Jangan terlalu berharap, walaupun dia sudah menerimaku, mana mungkin dia ingin cepat-cepat kawin denganku." Ledek Alves dengan senyuman simpulnya, seakan ucapannya itu begitu ringan untuk di katakan, tanpa memikirkan pihak yang sedang di bicarakan.
Ucapannya itu pun semakin membuat Elly semakin kesal. "Apa maksudmu kawin? Memangnya aku ini binatang?" Protes Elly, tidak terima dengan julukan itu.
Padahal maksudnya, Elly menolak keras untuk menyangkut pautkan soal hubungan itu dengan Alves.
"Lalu apa maksudnya menerimamu?" Elly bertanya lagi karena belum mengerti.
"Itu-" Salah satu anak buah Alves menunjuk ke satu barang yang sedang di pegang oleh Elly.
Lantas Elly pun melihat barang yang di pegang nya itu, sebuah handphone lipat pemberian Alves.
__ADS_1
"Ini apa? Memangnya apa hubungannya antara handphone dengannya?"
"Kalau anda penasaran, kenapa tidak di buka saja?" tawar pria ini, sambil menunggu reaksi yang akan di perlihatkan oleh Elly.
Dan Elly yang cukup penasaran, sebab ia belum membuka handphone nya, ia buka.
Dia menyalakan handphone nya, dan tidak lama kemudian, Elly langsung mengernyitkan matanya lagi, saat tampilan pertama dari handphone tersebut punya animasi sendiri, dimana animasi dari tampilan layar handphone nya memperlihatkan nama mereka berdua yang di tautkan dengan dua ekor kupu-kupu.
Dan setelah menyala, yang mengejutkannya, tema yang di gunakan justru adalah wajah chibi mereka berdua?
'Bagaimana bisa dia punya pikiran seperti ini?' batin Elly.
"Bagaimana? Kau suka kan? AKu sendiri yang mendesain khusus tema bawaan handphone mu." Kata Alves, menyela semua pikirannya Elly tadi dengan senyuman penuh dengan kemenangan.
Para anak buah Alves yang penasaran pun langsung mengerubungi Elly seperti semut, dan mencoba melihat hadiah khusus macam apa yang sudah di tanam di dalam handphone itu.
"Itu bagus, kenapa wajah anda sekalian jadi seimut itu?"
"Hahaha, Nona pasti senang, lihat wajah anda yang imut itu, ada di setiap tempat di aplikasi tersebut."
"Tuan anda benar-benar hebat, bisa memberikan hadiah lain paling lain diantara yang sangat lain. Ini pertama kalinya, anda membuat hadiah semacam ini. Dan apalagi ini benar-benar cukup di gunakan sebagai awal lamaran anda pada Nona."
'Apa? Lamaran?' Elly menatap serius Alves yang berdiri di depannya.
"Dari wajahmu pasti bertanya-tanya ya kan? Kenapa aku malah memberikan barang itu sebagai lamaran?" tanya Alves, ingin mengkonfirmasi apa yang di tangkap oleh Elly atas apa yang sedang terjadi kali ini. "Apalagi di sini."
Di tempat dengan ruangan yang serba putih bersih, deretan lampu LED berwarna putih yang terpasang di deretan langit-langit ruangan itu, serta dinding yang di penuhi dengan senjata berteknologi tinggi yang di adaptasi dari kehidupan sebelumnya, di pamerkan di depan matanya Elly.
Bahkan ketika ada salah satu orang yang menekan tombol di layar tab yang di pegangnya, tiba-tiba saja ada lemari yang muncul di dari dalam lantai.
"Jangan panggil aku Tuan." Perintah Alves, senyuman tipis itu terus menghiasi bibirnya.
Ekspresi wajah Elly yang nampak memperlihatkan keterkejutannya itu, menjadi pemandangan mereka tersendiri.
"Panggil aku Alves." tatap Alves.
Elly terdiam sambil membalas tatapan matanya Alves. Dan dengan melanggar peraturannya sendiri, Elly pun akhirnya memanggil namanya langsung. "Alves, kenapa kau melakukan ini?"
"Apa kau sedang bertanya karena tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu?" Tanya balik Alves.
Sebagai sesama orang yang memiliki jiwa dari masa lalunya, mereka berdua pun saling melihat satu sama lain, seolah mereka berdiri dan saling bertukar pandang dengan tubuh mereka yang asli.
"Aku sudah pernah mengatakan kepadamu, kalau kau harus menungguku. Dan kau akhirnya datang kepadaku, kan? Saat di pantai? Kau menghampiriku dengan caramu sendiri." ucap Alves.
Samar-sama Elly memiliki ingatan soal dirinya yang terdampar di pantai, dan jika di hubungkan dengan akhir dari percakapan mereka berdua saat di kehidupan sebelumnya, Elly merasa kalau ia memang seperti mengharapkan hal itu terjadi.
Karena kesendirian yang sangat tidak di inginkan nya, ketika ia merasakan dingin dan gelapnya setelah ia di tembak mati di tangan nya Azriel, semuanya terbalas untuk hari ini.
Benar..
Satu harapan untuk bisa dipertemukan lagi di tempat dan waktu yang berbeda, saat itu menjadi harapan di ujung kematiannya, kepada pria yang sangat jarang ia temui.
Azriel, pria di depannya itu adalah tujuan dari diri Elly bisa ada di dunia ini.
__ADS_1
Apakah ini memang semacam takdir yang sudah di atur?
Azriel, pesan terakhirnya di masa lalu, kini sedang di tepati nya. Itulah yang sedang di kerjakan dari laki-laki ini.
"Mungkin saja itu sebuah kebetulan." Sangkal Elly. Entah kenapa ia tiba-tiba mengatakan itu tanpa Elly pikir panjang.
"Tidak ada yang namanya kebetulan." Sela Alves detik itu juga. "Lagi pula takdir pada dasarnya sudah di tentukan, dan takdirmu bisa berada di sini adalah karena kau ingin bisa mendapatkan kesempatan terbebas dari kehidupan kelam di masa lalumu. Lalu soal aku menembakmu waktu itu, karena aku sengaja mengabulkan keinginanmu, serta keinginanku juga.
Jadi, apa kau masih beranggapan kalau aku ingin melamarmu itu tanpa sebuah alasan yang mendasar?
Apa kau masih mencoba ingin menyangkal perasaan yang sudah pernah aku katakan padamu sebelum ini?
Apa kau tidak percaya dengan apapun yang aku lakukan selama ini adalah karena aku ingin bisa lebih dekat denganmu tanpa ada yang mengganggu dan mengekang kita berdua lagi?
Jawab, apa kau masih menganggap aku ini tidak pantas untukmu?" ucap Alves panjang lebar.
Semakin banyak bicara, Elly yang menjadi objek dari lawan bicaranya itu pun jadi semakin terpojok.
'A-apa yang dia katakan?! Kenapa dia terlihat seserius itu?' Elly semakin panik dengan semua penjelasan Alves yang begitu pajang lebar itu, di gunakan untuk memojokkannya.
Dan yang di bahas oleh Alves sebenarnya adalah cerita dari masa lalu mereka berdua di kehidupan lalu mereka, jadi tentu saja ketika di dengar oleh para anak buahnya itu, akan ada perbedaan persepsi yang terlintas di dalam pikiran mereka.
"Woah, berarti Bo-"
PLAK...
Karena di anggap salah satu rekan kerjanya yang mau bicara di tengah perbincangan kedua orang majikannya itu cukup mengganggunya, tanpa segan mereka menyeret orang yang masih penasaran dengan pembicaraan mereka berdua, dan memilih untuk segera pergi dari sana dan menutup pintunya demi memberikan banyak waktu untuk dua orang tersebut.
"Elly, tidak , tapi Everlyn, apa kau masih menganggap kalau aku ini hanya bicara omong kosong saja?"
Satu pertanyaan yang tertuju kepada Elly pun jadi semakin membuat Elly jadi terjerat dalam arus hubungan mereka berdua saat ini.
"Aku-" Elly lantas melipat handphone nya, menggenggamnya dengan erat, dia sedang berusaha untuk menjawab.
Tapi, mulut yang ingin bicara itu, terasa sedang di beri lapisan lem, sehingga Elly pun jadi terlihat terdiam dan termenung saja.
"Apakah berat jika kau menjawabnya sekarang?" Tanya Alves lagi.
'Sebenarnya perasaan macam apa ini? Apakah ini yang namanya perasaan berdebar karena jatuh cinta yang sudah menyatu dengan tubuh milik Raelyn ini?' Pikir Elly dengan keras. 'Atau karena sebelum aku masuk kedalam tubuh ini, pemilik aslinya masih punya kesadaran untuk menyukai anak itu, makannya aku jadi tertular dan sama-sama berdebar karena aku menyukai sisi lain dari Alves yang punya jiwa Azriel ini?'
Mau di pikir bagaimanapun, Elly pun jadi semakin bingung sendiri.
Tubuhnya memang sudah menyukai sosok dari pria ini, dan Elly sendiri perlahan tersentuh dengan ucapan yang di ucapkan oleh pria ini, karena di dalam tubuh itu rupanya memang bersemayam jiwa milik Azriel.
Karena pemahaman itu, Elly jadi bingung.
Perasaan cinta? Suka? Yang harus di ajarkan kembali oleh pria yang bisa menarik perhatiannya, kini akhirnya di menangkan oleh pria ini?
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu." Elly semakin menggenggam erat handphone lipatnya itu. "Yang terakhir saja aku di khianati seperti itu, yang kedua, dari tubuh ini, nasibnya juga hampir sama, dan ketika kau mengatakan itu, aku jadi lebih takut jika aku menggunakan perasaanku lagi untuk mencintaimu, aku akan terluka lagi seperti dua perasaan yang nasibnya sama ini." Jawab Elly.
Elly begitu bingung, karena di satu sisi Elly di kehidupan sebelumnya, ia di khianati oleh calon suaminya, dan di dunia ini, tubuh asli yang Elly diami juga merasakan pengkhianatan yang mirip, hal itu pun menjadi trauma untuk Elly yang sekarang.
Dua perasaan yang bercampur menjadi perasaan yang sama-sama menyakitkan itulah yang menjadi kendalanya untuk menjawab apakah ia memnag benar-benar akan menerima pernyataan dari pria ini atau tidak.
__ADS_1
Sekalipun Elly sendiri sudah pernah tidur bersama dengannya, itu bukan menjadi standar dirinya harus menerima hatinya atau tidak, itulah yang Elly prinsipkan di dalam dirinya.