
Dan kaca tersebut pun jadi langsung pecah, membuat Orson yang sedang berkendara itu jadi kesulitan untuk menentukan apakah ada yang sedang mengejarnya dari samping kanannya atau tidak.
DORR...
DORR...
"Alves! Siapa mer- uhukk... ekhem...siapa mereka Tuan?"
Terkekeh melihat Elly salah bicara sendiri, Alves menjawab. "Sudahlah, jika hanya ada kita bertiga kau bisa bicara informal saja"
"Tapi di per-"
"Jangan urus soal perjanjian di dalam kontrak. Urus saja sekarang, mereka pasti sedang mengejarku."
"Ya sudah, saat hanya ada kita bertiga, bisa bicara informal." Elly jadi terbujuk dengan perkataan dari Alves ini. "Kalau begitu, siapa mereka? Kenapa malah mengejar-ngejar kita?"
"Hm, mungkin karena yang waktu itu-" Alves menjawab, tapi tatapannya pergi ke arah lain, tidak berani menatap Elly yang sudah berekspresi cukup waspada.
"Waktu itu apa? Apa ini ada hubungannya dengan memburu tikus yang kau bilang waktu itu?"
Alves langsung tersenyum, memang benar, apa yang sudah Alves lakukan beberapa hari yang lalu, membuatnya kembali menjadi seperti seorang buronan.
__ADS_1
"Walaupun mereka menggunakan mobil seperti polisi, tapi sudah jelas kalau mereka bukan berarti polisi betulan." Sela Orson, dia terus mewaspadai tembakan yang akan datang.
DORR..
DORR...
CTAK....
"Pilihan yang tepat kau memilih mobil anti peluru." Puji Alves, dia kemudian membuka sandaran kursi belakang mobil, sehingga secara tidak langsung, sandaran kursi jok mobil itu terhubung dengan bagasi mobil.
"Kenapa aku tidak sadar kalau ternyata alasan mobil ini terlihat jauh lebih berat karena itu." Tatap Elly terhadap tiga buah koper berwarna hitam.
"Bagaimana kau bisa tahu mobil ini lebih berat dari bisanya?" Tanya Alves, dia membuka tutup koper dan memperlihatkan banyaknya pistol dan amunisi yang tersedia.
Elly sebenarnya sudah tergiur dengan pistol-pistol yang terlihat canggih itu.
Baginya, justru desainnya bagus layaknya senjata yang di perkenalkan di dunia Elly di kehidupannya sebelumnya.
Dan hal itulah yang membuat Elly sadar akan adanya kejanggalan yang terjadi, sebab desain-desain dari pistol yang sudah ada di tangan Alves itu cukup mirip dengan senjata yang pernah di perkenalkan oleh Azriel kepadanya, calon tunangannya dahulu.
'Kenapa aku baru sadar kalau desainnya cukup mirip dengan senjata yang biasa dibawa oleh laki-laki itu?' Maka dari itu, Elly pun mengalihkan pandangannya dari senjata tersebut lalu ke wajah Alves.
__ADS_1
Benar, Elly merasakan adanya kesamaan antara Alves dengan Azriel.
Tapi kenapa? Kenapa Elly baru menyadarinya?
"Melihat kau sudah pernah berurusan dengan orang-orang yang lebih kuat darimu sebelumnya, seharusnya kau bisa menggunakan senjata ini juga kan?" terka Alves.
"Tentu, bahkan sebenarnya dari tadi aku sudah ingin memegangnya, ya, setidaknya menggunakannya sekali." Jawab Elly sambil terus saja menoleh ke arah belakang.
"Memangnya kau pernah menembak? Jika tidak pernah, yang ada bahumu akan langsung kena imbasnya juga." Peringat Orson. Sebab dalam hal tembak menembak itu bukan sekedar menarik pemicunya saja, tapi juga ketahanan dari otot tangan dan bahu dalam menahan tekanan dari ledakan akibat peluru yang di tembak.
"Aku belum pernah, tapi aku tahu cara menembak. Memangnya ada masalah dengan itu? Yang akan tanggung resikonya kan aku?" Jawab Elly begitu tegas, karena ia tidak suka jika di remehkan oleh orang lain.
"Kalian ini, jangan ribut di waktu yang tidak tepat seperti ini. Elly-" Alves tiba-tiba saja melempar senjata berupa pistol berwarna silver yang desainnya sedikit panjang. Berkilau, dan membuatnya terlihat lebih mahal.
Di sisi itu juga, ada logo Silver Pyxis.
Dari situ, Elly langsung diam mematung ketika dirinya melihat logo tersebut, sebab logo itu adalah nama perusahaan yang di dirikan oleh Azriel di kehidupan sebelumnya.
Dengan kata lain, Alves yang ini, 'Apakah dia punya hubungan besar dengan Azriel? Kenapa harus di saat-saat seperti ini, aku baru merasakannya? Kenapa bukan dari awal saja aku menyadarinya?' Pikir Elly.
KLAKK....
__ADS_1
Alves berhasil memasukkan magazine kedalam senjatanya, dan dia pun sudah bersiap untuk menggunakannya. 'Apa yang sedang dia pikirkan? Apa dia tidak suka dengan pistolnya? Yang penting kan menembak, jadi tidak masalah kan? Apapun yang dia gunakan?'
'Kenapa mereka berdua malah masih saja sempat-sempatnya saling memandang dengan tatapan seperti itu?!' Orson yang menyadari akan adanya rudal yang akan di tembak ke arah mereka, melihat tepat di perempatan jalan sana ada tikungan yang cukup memadai, Orson langsung banting stir. "Kalian berdua, jangan melamun! Mereka akan menembak habis kita!" Panik Orson, karena dialah yang harus mengendarai mobilnya dengan cara yang cukup ekstrim.