Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
93 : PTRI : Hubungan absurd


__ADS_3

“Arshen!”


“Hmm!” 


“Aku memanggilmu tapi kau malah melamun saja. Pasti kau sedang melamunkan Raelyn kan, hayo, kena loh. Ketahuan ini, kau pasti masih memikirkan soal yang kau alami kemarin.” Tuding Warren kepada Arshen. 


“Sembarangan, aku tidak memikirkan apa yang terjadi kemarin.” Tukas Arshen, menyangkal ucapannya Warren. 


“Halah, tidak usah bohong. Padahal aku kemarin juga melihatmu kelihatannya sedang tertekan, ya..punyamu kan di tekan dengan kakinya Raelyn, pasti lumayan. Apalagi saat kau di tuduh sebagai pria masokis, hahahaa….rasanya kemarin aku sudah ingin tertawa lepas.” Ledek Warren lagi, tidak henti-hentinya bercanda dengan Arshen yang kemarin benar-bear jadi korbannya Raelyn alias Elly. 


Dengan kondisinya yang terjadi kepada Arshen kemarin, dia memang jadi terlihat seperti seorang masokis berat, di ikat, dan berikan rangsangan dengan hal aneh yang cukup kasar. 


Sampai Arshen yang saat ini kebetulan sedang minum dari air minum kalengan, tiba-tiba saja tangannya langsung mencengkram kaleng itu dengan kuat, sampai kaleng tersebut penyok. 


“Coba bicara lagi, apa yang tadi kau katakan soalku?” Tanya Arshen, memancing Warren untuk kembali berbicara tentangnya, apa yang terjadi kemarin. 


Tapi karena sekarang ekspresi wajahnya jelas memperlihatkan amarah yang tertahan, dan terlampiaskan kepada kaleng yang tidak bersalah itu, Warren pun hanya menelan ludahnya sendiri. 


Senyuman yang mengembang ke arah Warren bukanlah senyuman biasa, tapi senyuman maut yang bisa merubah Warren jadi daging cincang. 


“T-tidak, aku sudah lupa apa yang terjadi padamu kemarin.” Elak Warren, sudah tidak berani memprovokasi Arshen. 


“Ayo, padahal aku ingin dengar dari mulutmu. Walaupun mulutu mengatakan tidak, tapi kelihatannya otakmu sungguh masih menyimpan memori yang masih segar, ya kan? Aku jadi penasaran server mana yang kau gunakan untuk menyimpan memori itu di otakmu, ya?” Ucap Arshen, perlahan tubuhnya semakin mendekat ke arah Warren, dan Warren sendiri jadi mundur terus ke belakang.


Terus berjalan ke belakang, Warren akhirnya terjebak dengan dinding kaca yang ada di belakangnya. 


Dan di saat itulah, Arshen menempatkan satu tangannya di samping kepala Warren agar Warren tidak pergi dari hadapannya. 


“T-tunggu Arshen, a-aku tidak akan bicara apapun lagi tentangmu.” Memohon kepada Arshen untuk menghentikan perbuatannya, karena Warren sudah cukup takut dengan aura dingin yang keluar dari tubu temannya itu. 


Dan di tengah-tengah ketegangan itu, tiba-tiba Darren yang ada di balik kaca jendela besar itu, langsung menggebrak kaca tersebut dengan keras. 


BRAKK..


“BHAA…!”


“Akkhh!” Warren yang terkejut setengah mati, langsung mendorong keras Arshen dan lari kabur dari mereka berdua. 


“Hahaha, dasar. Ternyata dia setakut itu, memagnya aku ini hantu?” Ucap Darren kepada dirinya sendiri, melihat kepergian dari teman sekaligus saudaranya juga, pergi dengan lari terbirit-birit. 


Sedangkan Arshen, dia hanya diam dengan ekspresi wajah masih tidak puas hati dengan semua yang terjadi kepadanya, baik itu karena ia jadi bahan ledekan, maupun karena ia benar-benar di permalukan langsung oleh Raelyn di depan teman-temannya itu.  


___________


"Pinjam handphone mu." Elly meminta handphone milik Alves.


"Mau kau buat apa?"


"Elly, pakai ini saja, ini jauh lebih bagus." Orson yang sudah tahu niat sebenarnya Elly mau apa dengan meminjam handphone milik Alves, langsung menoleh ke belakang dan akhirnya Elly tertarik untuk mendapatkan barang yang sedang Orson pegang, yaitu kamera.


'Dia- langsung kepancing dengan apa yang dibawa Orson.' merasa iri, Alves pun mengeluarkan handphone nya. "Nih, jika kau mau meminjamnya." Karena merasa tidak mau kalah dengan Orson, Alves pun meminjamkan handphone miliknya kepada Elly.


Tapi sayangnya Alves terlambat, karena Elly lebih suka dengan pemberiannya Orson.


"Tidak jadi, aku lebih suka ini." Jawabnya dengan singkat. "Orson, bagaimana caranya menggunakannya?"


"Mudah, kau hanya tinggal tekan ini untuk mengambil gambarnya, dan ini tombol ini untuk mengatur lensanya. Lalu ini dan ini bisa kau gunakan untuk memilih gambar apa saja yang sudah kau ambil."


"Hoo~ Mudah ya," Karena Elly paham, Elly pun mencoba melakukan pemotretan yang pertama, yaitu dengan menjadikan Orson sebagai model pertamanya.


CKREK.....

__ADS_1


"Coba lihat." Orson yang penasaran jadi berdiri lebih dekat di samping Elly dan melihat hasil gambar yang baru saja Elly ambil.


"Bagus juga." puji Orson."Coba lagi."


"Hmm..." Elly pun menyetujuinya, jadi ia pun kembali mencoba mengambil foto dan model keduanya adalah Alves.


CKREK....


"Hahaha, Alves, kau seperti orang yang sedang marah saja, apa kau iri karena aku lebih dulu menjadi modelnya?" ledek Orson.


Alves jadi terdiam karena Orson memang benar, model pertama yang seharusnya di gunakan itu adalah dirinya, bukan Orson.


"Sini, jangan ngambek lagi, aku akan membuatmu jadi model paling hot." Ucap Elly, kembali mengarahkan kameranya ke arah Alves.


Tapi ketika Alves hendak di potret, pria ini malah tiba-tiba saja langsung berjalan ke arah Elly, merebut kamera dan melemparnya ke Orson, setelah itu Alves tiba-tiba saja langsung meraih pinggang Elly.


BRUKK...


"Orson, ambil gambar kita berdua." Seringai Alves.


"Ok,"


"......." Elly menatap serius Alves, dan balasannya adalah Alves malah tersenyum kepadanya.


"Kau tadi mengatakan kata Hot, ya kan? Kalau begitu aku akan melakukannya." Ucap Alves, membalas tatapan mata Elly, sampai di detik berikutnya pelukan itu berakhir dengan sebuah ciuman.


CUP...


Tanpa menghilangkan kesempatan, Alves dan Elly pun saling menautkan bibir mereka berdua, dan Orson lah yang kini berperan sebagai fotografer mereka berdua.


'Ini seperti aku sedang membuat foto prewed, apa aku salah berpikir? Tapi mereka berdua memang terlihat cocok.' Setelah berpikir demikan, Orson langsung menekan tombol kamera dan...


Dengan background di atas kapal, sesi pemotretan pun berlangsung terus menerus dengan gaya yang membuat Orson sendiri langsung iri, karena ada beberapa yang cukup vulgar.


"Apa kalian berdua sedang menyiksaku ha?" Tanya Orson, saat ia harus memotret Alves sedang menindih tubuh Elly, sedangkan Elly sudah merangkul belakang leher Alves, dengan posisi itu mereka berdua pun kembali berciuman.


CUP...


Kecupan singkat tapi dengan mendapatkan gambar yang bisa di lihat selamanya, Alves tentu saja puas dengan hal itu.


"Itulah, salahmu sendiri jomblo." Balas Alves.


"Bukannya kau juga jomblo?" Sela Elly.


'Sebentar lagi tidak. Aku akan membuatmu benar-benar jatuh cinta kepadaku, dan di saat itulah hubungan kontrak itu sudah pasti tidak akan ada lagi.' pikir Alves.


Tidak menggubris apa yang barusan Elly tanyakan, pose berikutnya adalah mereka berdua yang masih saling berhadapan dengan Alves sebagai orang yang menindih tubuh Elly, tangan kanan Alves langsung meraih paha Elly yang terekspose itu, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menahan berat tubuhnya, sedangkan wajahnya alias mulutnya, ia gunakan untuk mencium area leher Elly, membuat dua orang yang terikat kontrak ini jadi memainkan permainan mereka sendiri untuk saling memenuhi kebutuhan mereka berdua.


Yang satu ingin mendapatkan uang dari Alves, sedangkan Alves sendiri karena ingin bisa membuat kenangan tidak terlupakan saat bersama dengan Elly.


Sebuh hubungan absurd yang tidak terelakan.


CKREK....


"Kau sudah berhutang banyak kepadaku." Kata Elly sambil menahan jilatan yang mendarat di permukaan kulit lehernya.


"Tenang, aku punya banyak uang, bahkan kau tidak bisa menghabiskan semuanya. Jadi lakukan saja keinginanku." Sahutnya.


Sekarang pose mereka berdua, Alves sedang menciumi perut Elly, dan Elly sendiri mengusap kepala Alves.


CKREK....

__ADS_1


'Sebenarnya kenapa aku bisa punya teman seaneh dia? Mereka berdua punya hubungan atas dasar kontrak, tapi di sini aku jelas melihat mereka berdua sudah seperti pasangan suami istri.


Apalagi dengan posenya itu, bukannya terlihat seperti Alves sedang mencium anak yang masih berada di dalam perutnya Elly?' Hanya dengan melihat pemandangan yang di sajikan oleh mereka berdua, Orson pun jadi tersenyum tawar pada dirinya sendiri, sebab ia untuk pertama kalinya menghadapi situasi dimana ia melihat ada hubungan aneh yang di jalin oleh sahabatnya itu. 'Sudahlah, asal anak itu terlihat senang, dan punya banyak uang untuk membayar Elly untuk melakukan banyak hal kepadanya, aku tidak mempermasalahkannya.'


"Kau semakin me*sum Alves." Cibir Elly melihat pahanya kini malah di cium.


"Tidak usah banyak berisik, toh aku yang membayarmu juga."


Yang di katakan oleh Alves pun benar. Selama ada uang, maka tidak ada masalah apapun yang perlu di khawatirkan.


Dan pose selanjutnya yang harus di foto, Alves yang sudah duduk di lantai langsung di duduki oleh Elly, sehingga kedua tubuh itu pun jadi saling berhadapan satu sama lain, dan akhirnya pose wajah saat saling menatap serta pose terakhir dari mereka berdua yang berciu*an pun berhasil Orson ambil.


CKREK...


"Umphh.." Elly sudah mulai memberontak untuk lepas dari ciu*man itu, tapi Alves sama sekali tidak mau melepaskannya, dan yang ada adalah kedua tangan Alves semakin memeluk tubuh Elly, dan Elly yang sudah sempat mendapatkan oksigen, langsung membalas pelukan Alves dengan melingkarkan kedua tangannya di belakang leher Alves, dan ciu*man pun kembali terjadi dan terlihat semakin intim.


"Hei, hei, apa kalian tidak kasihan kepadaku?" Protes Orson, masih memperhatikan dua orang yang sedang mengganas di depan sana.


"Jika sakit mata, pergi saja dari sini." Jawab singkat Alves, dan kembali menautkan bibirnya.


CUP...


'Padahal sudah mau sampai seperti ini, tapi dari tatapan matanya tadi, Elly kelihatan masih belum memiliki perasaan kepadaku.' Pikirnya.


Karena sudah seperti itu, Alves pun mengganti posisinya, dengan kembali mencium dadanya Elly dan Elly sendiir jadi menjambak rambutnya.


CKREK...


Foto terakhir yang Orson ambil.


"Phuahh....." Setelah lelah dari pergulatan mereka berdua, Alves dan Elly pun langsung melepaskan diri.


"hah...hah...hah...." Mereka berdua tepat di lantai dek kapal. Sambil memandangi langit yang begitu biru bersih, mereka berdua sedang tidak ingin melakukan apapun.


"Oroson, kapan sampainya?" Tanya Elly.


"Sebelum aku mengatakan sampai, sebaiknya kalian berdua harus lihat itu dulu." Orson menunjuk ke arah pulau yang ada di depan mereka bertiga.


Alves dan Elly pun melihat ke arah pulau yang sudah tidak begitu jauh lagi.


"Yah~ Tidak akan ada orang lain selain kita." Gumam Alves kurang suka karena sudah ada orang yang lebih dulu sampai di pulau tersebut.


Padahal niatnya ingin bisa bermain bebas di pasir putih yang sedang kelihatan itu itu, tapi semua itu hancur sebab ada banyak orang di sana.


"Jadi mau bagaimana?" Tanya Orson meminta pendapat dari mereka berdua.


"Pulang." Alves dan Elly.


"Eh, baiklah." Karena kesenangan mereka bertiga sudah sirna, Orson pun kembali masuk kedalam kapal dan hendak berputar balik.


Namun di saat hendak akan balik arah, Orson baru menyadari kalau di belakang saat ia melihat radar, ada kapal tidak jauh dari mereka.


TEETTTT........


Suara klakson kapal yang begit kuat sukses membuat mereka bertiga terkejut setengah mati, sampai akhirnya kegelapan yang basal dari kapal yang begit besar itu berhasil melahap seluruh bagian kapal yang mereka bertiga naiki.


"Orson! Cepat pergi dari sini!" Pekik Alves.


Orson dengan cekatan langsung menaikkan kecepatan dari mesin baling-baling kapal.


"Elly cepat pegangan!" Perintah Alves

__ADS_1


__ADS_2