
Suara rintihan di susul dengan suara benturan juga tembakan menjadi kahir dari kinerja tiga orang secara bersamaan.
"Ahww...!" Rintihnya.
Lebih tepatnya ada dua orang yang sedang merintih kesakitan.
Elly serta Arya sendiri.
"Itu hampir saja." Alves menghela nafas kasar setelah dia berhasil mendorong tubuh Elly. Alves melakukannya juga untuk menyelamatkan Elly dari peluru.
Alves berhasil, dan sekarang dia pun jadinya menindih tubuh Elly.
"Ahw ..., Alves kau sungguh berat. Aku tidak bisa bernafas." Protes Elly kepada Alves.
Alves yang sadar dengan posisinya sudah menindih tubuh Elly yang kecil juga terlihat rapuh itu, dengan buru-buru Alves segera mengakat tubuhnya.
Namun karena posisinya lantai di bawahnya itu licin karena air hasil dari vas bunga yang sempat pecah, Alves pun tergelincir dan kembali menimpa tubuh Elly dengan serta merta.
BRUK....
"Ahww ...!" Teriak Elly sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Alves membelalakkan matanya, karena wajahnya langsung menghantam buah dengan begitu saja. Itulah alasan kenapa Elly berteriak sambil mengepalkan tangannya, karena tentu saja itu sakit!
Tanpa sepatah kata, Alves buru-buru bangkit dari atas tubuh Elly.
"Kau gila, ini sangat sakit." Elly protes kepada Alves. Karena saking sakitnya, Elly memiringkan tubuhnya ke kanan dan memegang buahnya yang sakit itu.
Alves jadi kehilangan kata-katanya melihat Elly untuk pertama kalinya sampai merintih kesakitan dengan ekspresi yang cukup buruk itu.
"A-aku tidak sengaja." Hanya kalimat itu saja yang tiba-tiba bisa keluar dari mulutnya.
Elly yang tidak menggubris itu segera berdiri tanpa mau mendapatkan bantuan dari Alves yang kebingungan harus apa dan bagaimana untuk menangani rasa sakit yang dimiliki oleh Elly itu.
'Lagi sakit-sakitnya, dia justru menubrukku dan menghantam dadaku. Sakit sekali.' Kutuk Elly di dalam hatinya.
Setelah Elly berdiri, Alves pun ikutan berdiri.
Tapi Alves yang tiba-tiba sadar dengan tujuannya itu, buru-buru pergi masuk kedalam kamar tersembunyinya.
__ADS_1
KLEK.
"Hih!" Tama yang sedang menunggu Arya selesai bertarung, pada akhirnya tertangkap basah oleh pemiliknya sendiri.
"Ternyata disini juga ada pencurinya." Kata Alves sambil berjalan menghampiri Tama dengan langkah cepat dan Lebar.
Hingga Tama yang sudah ketakutan itu, refleks mundur ke belakang.
"Berikan barang yang kau curi itu." Alves menagih hasil curian Tama.
Antara takut juga khawatir, Tama yang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk bela diri, tiba-tiba ingat kalau dia membawa cairan itu.
"Apa kau juga ingin aku merebutnya dengan menggunakan kekerasan?" Ancam Alves kepada Tama.
"Kalau kau berani!" Dan seketika itu, Tama mengeluarkan botol semprot, dan mengarahkannya kepada Alves yang hendak menyerangnya.
CESS.....
Tapi karena efeknya langsung ampuh saat itu juga, Alves merasakan matanya menjadi buram. Apa yang ia lihat, termasuk Tama sendiri, dia sama sekali melihatnya dalam posisi penglihatan cukup samar.
"Tidur saja baik-baik dan kau tidak akan mengingat apa yang terjadi kepadamu itu." Kata Tama, dia pun langsung berlari keluar dari kamar.
BUKHH....
Karena pukulan itu terkena hidungnya, Tama pun langsung mendapatkan mimisan, dan akhirnya tumbang juga.
BRUKK.....
"Wajah di balas dengan wajah." Kata Elly, setelah berhasil memberikan satu tinju kepada Tama yang hendak kabur itu.
"Kau sangat kejam." Ucap Arya dengan ekspresi wajah terpampang cukup jelas, karena tepat di bagian perut tama, sudah terluka cukup lumayan akibat lemparan Elly.
Karena sebuah pena runcing, hasilnya itu menjadi senjata yang cukup mematikan untuk Arya sendiri.
"Dia itu, tidak suka jika mendapatkan ... Pukulan di wajah." Imbuh Tama.
Elly memutar-mutar bagian pergelangan tangannya, akibat merasa sakit setelah menggunakan tangannya itu untuk meninju dan intinya melakukan banyak perkelahian dengan satu orang yang kini sudah sepenuhnya di lumpuhkan.
"Siapa yang peduli dengan itu?" Sudut mata Elly pun menatap Arya yang kesakitan di bagian perut dengan tatapan merendahkan.
__ADS_1
Karena terlihat wajah dari pria itu sungguh tersiksa, Elly pun mengambil botol yang berisi obat tidur yang masih di pegang oleh Tama.
Berhasil merebutnya dari orang yang sudah tumbang, Elly berjalan menghampiri pria yang satunya lagi, lalu berjongkok di depannya persis sambil berkata : "Makannya, jangan jadi orang jahat. Kena Imbasnya kan?"
Mendengar nasihat dari Elly, Arya pun sedikit mendongak ke atas, untuk menemukan wajah Elly yang benar-benar terlihat cukup dingin.
"Aku sudah tahu konsekuensinya, kok."
Elly terdiam sesaat, sebelum dia akhirnya mengangkat tangan kanannya dan menyemprotkan cairan dari obat tidur itu ke wajah Arya.
Sampai Arya perlahan menutup matanya dan tumbang juga.
BRUK.
"Hahh...!" Elly akhirnya bisa bernafas lega.
Dia segera duduk ke lantai begitu saja dengan kedua kaki sedikit terbuka, kedua tangannya menyangga tubuhnya yang sedikit di posisikan ke belakang sambil menengadah ke arah atas, untuk melihat plafon dari kantor milik Alves yang ternyata cukup menarik di mata, karena terlihat seperti adanya bintang yang berkelap-kelip.
'Dengan tubuh selemah ini, aku tidak akan bisa bertahan lama jika tiba-tiba ada situasi yang membuatku harus bertarung.' pikiran itu pun kian melayang untuk mengulas masa lalunya sendri, sampai akhirnya Elly yang merasa tubuhnya lelah, langsung merebahkan dirinya di atas lantai juga. "Lelah." Gumam Elly dengan mata sudah terpejam.
_________________
"Hah?!" Alves tiba-tiba saja membuka matanya.
Langit malam dari jendela kamar yang sama sekali tidak di tutup itu pun jadi pemandangan pertama yang di lihat oleh Alves.
'Aku ..., kenapa aku tertidur? Bukannya aku datang kesini untuk menangkap penyusup? Tapi kenapa aku justru tidur di tempat tidur?' Lalu ketika dia merasakan adanya suhu dingin yang menyapu kulitnya, Alves pun membuka selimutnya.
Dengan cepat, Alves menutup kembali selimutnya setelah dia melihat kenyataan yang ada di balik selimut tersebut.
'Kenapa aku tidak memakai apapun?' Alves memegang selimut itu agar menutup rapat area bawahnya.
"Uhmm ..." Suara dari lenguhan tidak jelas itu, membuat Alves menoleh ke samping kanannya, apalagi setelah adanya satu tangan yang tiba-tiba jatuh dan mendarat di atas perutnya, sontak Alves mengerjapkan matanya beberapa kali.
'E-Elly. Dia tidur di sampingku? Apakah dia yang memindahkan tubuhku dan melepas semua pakaianku?' Tuding Alves terhadap Elly.
Dimana rupanya keberadaan dari wanita yang jadi pelayannya itu ada di sebelahnya?
Dan sedang tidur bersama di tempat tidur yang sama dengan Alves sendiri?
__ADS_1
"Hahaha...." Alves tiba-tiba saja tertawa. Dia sungguh merasakan hati yang cukup menggelitik melihat Elly yang hanya ber status pelayannya saja, malah tidur dengan majikannya? 'Dia hanya pelayan, tapi tidur dengan Tuan nya sendiri? Apa yang sebenarnya ada di otaknya? Apa hanya aku saja yang berpikir kalau wanita ini benar--benar jadi seperti Istri.'