Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
181 : Melepas status


__ADS_3

"Kenapa kau memaksaku untuk datang sih? Padahal aku sudah bilang aku ingin tidur." protes Felix, karena dia akhirnya di seret pergi bersama dengan Warren dan Darren.


"Kan jika tidak ada kau, tidak ramai." Senyuman milik Warren langsung melebar saat dia melihat banyak makanan mewah dan bahkan ada juga yang terlihat seram, gara-gara memiliki bentuk jari berdarah yang terlihat cukup nyata.


"Kau hanya ingin menggunakanku sebagai maskot kalian saja kan? Kalau seperti ini lebih baik aku menghapus daftar kalian sebagai temanku." ancam Felix.


"Hahah, ancamanmu tidak akan berguna untuk kami." Ledek Warren.


Felix, Warren dan Darren pun saling merangkul satu sama lain, tepatnya merangkul tangan Felix agar anak itu tidak kabur dari mereka.


"Selamat datang." Sapa salah satu pelayan yang bertugas untuk menyambut tamu sekaligus mengumpulkan undangan milik mereka, sebagai tanda bukti kehadiran.


"Wah, acaranya lumayan juga. Aku benar-benar jadi sedih, gara-gara perempuan yang dulu pernah kita Bully, justru akan menikah."


"Para tamu undangan silahkan untuk duduk, terutama untuk kalian bertiga, silahkan duduk di belakang sendiri." ucapan milik Orson langsung menunjuk pada Felix, Warren dan Darren yang datang terlambat, sehingga ada tiga orang pelayan yang langsung memberikan tiga kursi tambahan untuk mereka bertiga.


"Bukannya dia terlihat seperti memusuhi kita." Tanya Darren dengan senyuman mencibirnya, lalu dia pun duduk dengan anggun di atas kursi miliknya.


"Iya, tapi kira-kira Arshen ada di mana? Padahal perasaan dia berangkat bersama, tapi dia tidak kelihatan sama sekali." kata Warren.


Felix yang barusan melihatnya, langsung menjawab : "Dia di depan sendiri."


"Apa?!" Warren dan Darren langsung melotot, dan melihat Arshen benar-benar duduk di bangku paling depan.


Apalagi melihat wajah tampan Arshen itu sedang menatap Elly yang sudah berdiri di altar dengan Alves, membuat mereka bertiga seperti melihat kalau Arshen terlihat cukup terpesona sekaligus sedang iri?


'Kenapa- aku tidak menyadarinya dari awal kalau dia bisa jadi secantik itu?' Tatap Arshen, dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok di depannya itu.


"Baiklah, karena hari sudah mulai siang, kita akan memulai acara ini." ucap Orson.


'Sial, kenapa aku tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Alves?' Detik hati Elly, dia terus saja melirik ke arah Alves yang sedang berdiam diri sambil menatap orang yang akan memimpin upacara pernikahan mereka berdua.


Sangat di sayangkan karena yang berlalu sudah berlalu dengan cara yang cukup memberatkan hati, karena harus meninggalkan dunia dengan waktu, perasaan, dan cara yang berbeda.


Dan kali ini, ketika mereka berdua di pertemukan lagi dengan posisi yang berbeda dari pada yang dulu, hal itu pun membuat mereka berdua jadi mengingat nostalgia mereka berdua saat mereka di kehidupan sebelumnya bertunangan.


"Tuan muda Alves Mogers Avaris- apakah anda bersedia untuk menjadikan Nona Raelyn sebagai istri anda baik dalam suka maupun duka?"


"Tuan muda Azriel, apakah anda besedia agar Everlyn menjadi tunangan anda?"


"Saya bersedia,"

__ADS_1


"Nona Raelyn, apakah anda bersedia menjadikan Tuan muda Alves sebagai suami anda baik dalam suka maupun duka?"


"Nona muda Everlyn, apakah anda bersedia menjadikan Tuan muda Azriel sebagai tunangan anda?"


Ellynda, sebagai nama pemberian dari Alves, Raelyn sebagai nama asli dari tubuh yang dia diami, sekaligus nama Everlyn nama asli dari jiwa yang dia miliki, dia, begitu namanya tiba-tiba terdengar secara bersamaan dengan kenangan yang mereka miliki bersama, seketika itu juga jauh di lubuk hatinya seperti ada hujan es yang langsung menyejukkan hati mereka berdua.


"Saya bersedia," ucap Elly.


Baik Alves, dan Elly yang kini saling menatap, dua jiwa dari waktu yang sama, dua pengalaman pahit yang pernah mereka rasakan, serta dua jalan yang pernah mereka lalu secara terpisah karena ego mereka di masa lalu, kini mereka berdua akhirnya ditakdirkan untuk kembali bersama.


"Bukannya mereka berdua tadinya majikan dan pelayan, kenapa mereka jadi menikah seperti itu?"


"Memangnya cinta itu memandang status?"


"Tapi hebat juga ya, dia yang tadinya jadi pelayan, naik status menjadi Nyonya Avaris."


"Ya, apa maksudmu itu hebat bagaimana dia merayu majikannya sendiri?"


"Ya iya lah. Kalau saja tidak ada dia, sudah jelas Putriku yang akan ada di atas sana."


Ketika beberapa orang perempuan sedang bergosip dengan sepasang pengantin yang sedang bertukar cincin di depan sana, karena menganggap bahwa Elly itu adalah orang yang tidak cocok untuk menjadi seorang Nyonya Avaris, tiba-tiba saja ada suara yang menyela ucapan mereka semua.


"Apakah maksudmu Putri dari hasil perselingkuhan anda dengan Nyonya Jena?" dan ucapan sekaligus tebakan dari pria ini, berhasil membuat mereka yang tadinya merasakan cemburu besar sampai bergosip secara terang-terangan di sana, membungkam mulutnya dengan pernyataan dari pria ini, si pemilik dari rambut putih perak dari keluarkan Armstrong, yaitu Arlo.


"Tidak perlu tahu siapa aku sebenarnya, tapi aku hanya ingin mengatakan jika bergosip soal pengantin wanita di tengah pernikahannya seperti ini sambil berbicara soal putri sendiri yang lebih pantas untuk berdiri di sana, seharusnya kau bisa menyimpan rahasia kecilmu itu sebaik mungkin dariku." Jelas Arlo, dia yang tadinya memakai topi bundar berwarna putih di atas kepalanya dengan posisi miring, begitu Arlo membukanya, sontak semua orang yang ada di sana langsung terkejut. "Kau sama saja membuat aibmu sendiri di sini."


Wajah dari wanita yang sempat menghina Elly tadi, seketika langsung merah padam, apalagi setelah di tatap oleh semua orang yang ada di sana.


"Oh, aku juga dengar-dengar sebenarnya Tuan Davi langsung punya istri baru setelah istri pertamanya meninggal, jangan-jangan itu karena istri sah Tuan Davi tahu kalau suaminya ada selingkuhan." ucap Asena, membuat suasana di sana jadi semakin tegang.


"Asena, jaga mulutmu. Jangan membuat pesta ini jadi ribut karena masalah orang lain." sel Gibran.


"Tapi bukankah dia Tuan Arlo?" bisik salah satu orang yang akhirnya menemukan sosok pria yang punya pesona bak seperti model majalah.


Meskipun Arlo sangat jarang muncul di muka publik, tapi tidak ada yang tidak tahu siapa laki-laki itu.


"Arlo?" Sampai Elly yang hendak memberikan kecupan di punggung tangan kanannya Alves, sudut matanya langsung menemukan sosok pria yang cukup familiar itu.


CUP...


"'Elly, apa kau sedang memandang pria lain di tengah-tengah pernikahan kita ini?" Bisik Alves kepada Elly sambil membungkuk, saat punggung tangan Alves tadi sempat di cium oleh Elly.

__ADS_1


Elly yang ketahuan baru saja melirik ke arah Arlo, dan seperti yang di katakan Alves, baru saja dirinya melirik ke arah pria lain, wajah Elly tiba-tiba saja i rampas dan bibirnya langsung di raup, mendapatkan keuntungan dengan memperlihatkannya di depan banyak orang, akhirnya mereka berdua langsung berciuman di tempat.


CUP...


"Mphh...! A, amph..!" ronta Elly, karena ia belum siap dengan apa yang di lakukan oleh Alves ini.


"Whoahh..." Banyak dari mereka yang sama-sama langsung tersipu secara serentak, karena melihat Alves yang kelihatan kelaparan.


"Dengar ya, jangan melirik ke arah pria lain bahkan saat aku ada di depanmu." bisik Alves kepada Elly tepat sebelum Alves akhirnya mendapatkan ciumannya kembali.


"Ya ampun, lihat Bos saya ini, apakah kalian juga punya kesan yang sama dengan apa yang saya pikirkan bahwa Bos saya ini terlihat seperti orang yang kelaparan?" suara milik Orson langsung mengisi keterkejutan mereka semua dan menjawabnya dengan sebuah anggukan yang sama.


"Ya, itu wajar juga kan, Tuan muda kan sudah pasti sudah puasa begitu lama, makannya setelah bisa mendapatkan Istri, pasti Tuan jadi tidak sabar." jawab Deon, memancing teman-temannya untuk saling menyahut ucapannya itu.


"Seperti yang barusan kau katakan, jika aku jadi seperti dia, aku jelas pasti akan melakukan hal yang sama juga, ini adalah keuntungan, sekaligus mengklaim kalau dia sudah jadi miliknya, jadi siapa yang di undang, pasti sudah jelas kan kalau itu adalah sebagai peringatn juga pada kalian?"


DEG.....


Empat orang sejolin yang pernah melakukan hal buruk kepada Elly itu pun langsung tertusuk kenyataan yang tidak bisa mereka utarakan secara langsung.


Dan Diana, yang tadi berbicara demikian, sudah tersenyum puas dengan reaksi mereka yang merasa tersinggung dengan ucapannya tadi.


"Alves, jika kau menciumnya seperti itu, lipstikku akan melebar kemana-mana." peringat Elly, begitu ia berhasil mendorong Alves untuk menyudahi ciuman mereka berdua.


"Hah, itu lagian mulutmu itu enak, siapa yang tidak tahan untuk terus mengulumnya?" Goda Alves, membuat semua orang di sana langsung melongo dengan sikap Alves yang sangat jauh berbeda dari pada yang mereka pikirkan.


Tapi sebagai sosok pria yang punya rasa percaya diri yang tinggi, Alves pun tidak memperdulikan reaksi mereka semua yang sedang melihat ke arah mereka, kecuali Alves sendiri lah yang justru terus menatap wajah Elly yang sudah mulai di penuhi dengan keringat, padahal sudah banyak AC yang di letakkan di sana agar tidak begitu panas.


"Kau-" Elly yang terpancing dengan ucapannya Alves tadi, karena merasa di kalahkan, Elly langsung membalas perbuatan Alves itu dengan langsung menarik dasi milik Alves agar kembali membungkuk.


"Aku apa?" Tanya Alves, matanya menyipit dan senyuman tipis yang terlihat sedang tersenyum licik itu mewarnai bibir merahnya, karena sempat menyicip lipstiknya juga.


"Aku akan membalasmu!" Dengan senyuman liciknya juga, Elly langsung merangkul kedua tangannya di belakang lehernya Alves, dan detik itu juga Elly berhasil membalas perbuatannya Alves dengan membalas ciumannya itu.


"Mereka berdua benar-benar sedang pamer." ucap salah satu dari mereka semua.


"Mentang-mentang aku jomblo, makannya aku di undang kesini ya?" tanya Alvian, dia memang masih jomblo, dan karena dia di undang, dia pun jadi merasa sedang di sindir secara tidak langsung oleh Alves.


"Memangnya kau saja yang jomblo? Aku juga masih jomblo juga kali." kata Deon, atas ucapannya Alvian.


"Kau kan bukannya sudah punya dia?" Melirik ke arah Diana.

__ADS_1


"Dia sama sekali bukan tipeku, jadi aku termasuk masih jomblo." jelas Deni dengan singkat, sampai Diana yang ingin bicara pun, hanya mengatupkan mulutnya saja, gara-gara ucapannya itu di rebut oleh Deon.


__ADS_2