
"Apa yang sebenarnya kau mau?" Tanya Alves, dia menatap sengit wajah dari Arlo yang terlihat begitu biasa-biasa saja saat menghadapi mereka berdua.
"Hmm..." Tapi respon yang diberikan oleh Arlo kepada Alves dan Elly adalah sebuah senyuman yang begitu manis, dan siapa pun yang melihatnya akan menganggap kalau pria ini adalah orang baik-baik, padahal tidak seperti yang terlihat, di balik wajah yang terlihat ramah itu, justru ada hati yang busuk.
Dan hal itu pun membuat Alves adalah orang yang memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan Arlo ini.
Tapi apa pedulinya itu? Selain mencari tahu apa tujuan sebenarnya dari Arlo ini.
"Aku hanya menginginkan apa yang kau miliki itu, yaitu wanita yang ada di belakangmu itu." Jawab Arlo sambil menunjuk sosok dari Elly yang ada di belakang sana.
Lantas Alves pun menoleh ke belakang dan melihat Elly sudah berdiri dengan gaun pendek serta sepatu heels yang masih di pakai di kakinya. Sehingga, walaupun rambutnya terlihat begitu acak-acakan, tapi tidak dengan penampilannya yang tetap saja terlihat begitu anggun.
"Kau menginginkanku? Apa kau bisa memberikan alasan dari perbuatanmu sampai harus melibatkan banyak orang di gedung ini."
"Yah, aku kan hanya ingin membuat suasana di sini jadi meriah, seperti pesta kematian? Bukannya menyenangkan ya? Bisa melihat wajah ketakutan mereka, di saat wajah itu selalu memandang rendah orang lain yang tidak setara dengan statusnya, dan serta tatapan mata yang penuh dengan keserakahan." Setelah berbicara seperti itu kepada mereka berdua, ekspresi wajah yang tadinya terlihat begitu senang dipenuhi dengan senyuman kebahagiaan, seketika berubah menjadi ekspresi wajah yang cukup dingin. "Setidaknya aku ingin membuat mereka bisa merasakan penderitaan yang pernah kita alami bersama, ya kan Raelyn?"
Arlo pun menatap Elly, dan Elly yang menatap Alves, hanya mengangkat kedua bahunya tidak tahu.
"Entah apapun tujuanmu itu, jika kau ingin mengangkut dia dari wilayahku, maka aku tidak akan membiarkannya terjadi." Ucap Alves seraya jari jempolnya menunjuk pada wanita yang kini berdiri di sebelahnya.
"Sebenarnya aku tidak mengerti, kenapa kau begitu menginginkanku, tapi kau harus tahu, kalau aku adalah miliknya, dan sekalipun kau membawaku dengan paksa, aku tidak akan pernah menganggapmu siapa-sapa, karena aku sama sekali tidak kenal denganmu." Ungkap Elly kepada Arlo, dimana Arlo segera menunjukkan reaksi wajah terkejutnya, apalagi saat melihat sorotan mata Elly yang begitu tajam, Arlo justru seperti berhadapan dengan orang lain.
"Apa kau tidak ingat, kalau dulu kita berdua per-"
__ADS_1
"Jika kau pernah mendengar berita tentangku yang menghilang karena tercebur ke laut, maka kau seharusnya tahu apa yang terjadi pada orang yang hampir menjemput ajalnya, dengan banyak luka, bahkan kepala yang terbentur, aku sama sekali tidak mengingatmu." Jelas Elly.
"Oh iya, kau pernah masuk kedalam berita nasional, tapi entah kau mau ingat atau tidak, karena aku menginginkanmu, jadi kau harus bersamaku." Senyum Arlo, mengulurkan tangannya kearah depan, berharap kalau Elly mau menerima uluran tangannya itu.
Tapi, Elly sama sekali tidak menghiraukan apapun yang di inginkan oleh Arlo.
"Kau sudah dengar kan? Dia sama sekali tidak ingin ikut denganmu, jadi lebih baik tarik semua anak buahmu itu sebelum aku turun tangan membereskanmu." tutur Alves, dimana tepat di bagian kalimat terakhirnya, Alves semakin menegangkan rahangnya. Dia sudah bersiap dengan apa yang terjadi ke depannya jika berhadapan dengan Arlo.
Mendengar adanya penolakan terhadap Elly, Arlo yang tadinya ingin bersikap baik-baik dengan mereka berdua, dalam sekejap itu ekspresinya langsung menjadi lebih dingin dengan sorotan mata penuh amarah.
"Jadi kau tidak mau ikut denganku?! Raelyn! Jawab!"
"Tidak, aku tidak akan ikut dengan orang asing yang bahkan tidak aku kenal." Jawab Elly dengan entengnya, dan hal itu pun semakin membuat Arlo semakin marah.
Sosoknya yang tadinya begitu menawan, sekarang langsung berubah bagai seorang Iblis yang akan membantai apapun yang menjadi penghalang dirinya dalam menggapai sesuatu.
"Leo! Lakukan seperti rencana pertama!"Teriak Arlo, dia pun pada akhirnya tidak akan segan-segan dalam melakukan apapun yang dia inginkan, karena dia memiliki banyak sumber untuk meningkatkan peluang dirinya dalam meraih kemenangan, dan salah satunya adalah dengan membantai semua orang yang ada di gedung ini dengan cara paling efektif, yaitu dengan mengebom nya. 'Kenapa ini? Alat komunikasinya masih aktif, tapi kenapa tidak ada respon?' Pikir Arlo.
Arlo sangat yakin kalau Leo adalah orang yang paling bisa di andalkan, tapi apa yang terjadi kali ini? Perintahnya untuk mengaktifkan bom serta memerintahkan semua anak buahnya untuk membantai orang yang ada di sekitar gedung, tiba-tiba saja tidak ada satu pun yang di sahut.
"Pfft~" Tiba-tiba saja, mendengar Elly tertawa, perhatian Arlo pun langsung tertuju pada Elly yang terlihat sedang memandangnya dengan tatapan meremehkan. "Apakah kau berharap bisa memberikan perintah pada semua anak buahmu? Padahal semua orang yang kau bawa untuk membuat kekacauan di sini sudah aku bereskan." Dengan wajah sombongnya, Elly pun melemparkan tas hitam yang dia gendong dari tadi itu ke lantai, dimana semua alat komunikasi khusus, beberapa senjata, ratusan peluru, semua itu ada di dalam tas tersebut.
'Sejak kapan dia melakukannya?' detik hati Alves.
__ADS_1
"Atau jika kau mau bukti lain, aku bisa memberikanmu beberapa jari ini sebagai pajangan bahwa dari kedua belas jari ini, semuanya adalah milik mereka." Dengan begitu mudahnya, Elly yang baru saja jongkok untuk merogoh barang lain yang ada di dalam tas, sebuah plastik bening itu pun berhasil memperlihatkan jari jemari dari dua belas orang yang baru saja di potong, sehingga banyak darah yang sudah mulai menggenang di dasar plastik tersebut.
PHAK....
Dengan sengaja, Elly langsung melemparkan jari manusia itu kedepan kaki nya Arlo.
Arlo yang tadinya merasa marah karena mendengar keputusannya Elly yang tidak mau pergi dengannya muncul, tiba-tiba saja nyalinya jadi menciut.
"D-darah?" Seketika wajah Arlo jadi pucat pasi dengan darah yang merah yang ada di dalam kantong plastik itu, dia yang merasa takut dengan keberadaan darah tersebut, perlahan melangkah mundur ke belakang.
Elly yang melihat reaksi wajah Arlo terlihat takut itu, tiba-tiba dia justru menyunggingkan senyuman gila nya, "Hhehe, itu memang darah, darah yang masih segar, bahkan wanginya cukup enak, ada rasa amis, asin juga manis yang menyatu menjadi satu saat kau rasakan di lidahmu. Apa kau ingin mencobanya? Kebetulan tadi aku lewat, masih banyak manusia yang bisa peras darahnya sampai kering untuk menghilangkan nafs*u karena haus darah." Ucap Elly, perlahan dia berjalan satu langkah ke depan.
Begitu Arlo melangkah mundur, meninggalkan kantong plastik berisi jari manusia penuh dengan darah, Elly langsung mengambilnya, membukanya, dan mengambil salah satu jari itu yang akhirnya dengan senyuman sinisnya, Elly langsung melemparkan jari itu ke arah Arlo.
"Kau mau kemana? Itu jari anak buahmu yang aku dapatkan langsung!" teriak Elly, dan akhirnya...
SYUNGG....
Jari yang langsung melayang jauh dan cukup tinggi itu, sontak mendarat di atas bahunya, dan membuat pakaian putih miliknya langsung ternodai oleh darah.
"D-da-" Dan belum sempat bicara apapun untuk mengungkapkan isi pikirannya itu, Arlo yang sudah panik setengah mati itu langsung tumbang.
BRUKKK...
__ADS_1