Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
109 : PTRI : Sentuhan yang dingin


__ADS_3

"Alves, aku penasaran apa yang sedang dilakukan oleh dia. Apa dia sudah menemukan Elly?" Gumam Orson seraya berbaring di kursi santai dan menikmati angin sepoi-sepoi yang datang menerpa tubuhnya itu.


Namun, waktu untuk santainya itu sedikit terganggu dengan kehadiran seseorang yang begitu tiba-tiba.


BRAKK...


Orson sontak saja langsung membuka kacamata hitamnya dan menoleh ke belakang.


"Umph...!"


'Mereka berdua?! Apa mereka sedang menghinaku sampai seperti itu?' Terkejut Orson melihat dua orang baru saja masuk dengan membanting pintu dengan cukup kasar.


Dan masalahnya disini adalah, Elly dan Alves tidak masuk dengan berjalan normal, melainkan Elly berjalan mundur, namun Alves pun maju. Alves menempatkan Elly untuk terus di dorong mundur ke belakang dengan tubuh saling menempel satu sama lain.


Memperlihatkan kesan mesra juga begitu intim, dan hal itu khusus untuk Orson yang masih jomblo.


'Jadi-' Orson terus mengekori kemana mereka berdua pergi.


"Umph...A-alves." ucap Elly dengan sedikit terbata-bata. Sebab pada kalimat yang hampi saja ingin Elly katakan, langsung di hapus dengan mulut Alves yang berhasil kembali membungkam mulut Elly.


"Shh..." Alves kembali mencuci mulutnya dengan menggunakan mulutnya Elly.


'Ya ampun, jika aku melihatnya aku mungkin jadi terhasut ingin ikutan juga.' Orson yang sudah tidak begitu tahan dengan pemandangan yang begitu menyakitkan matanya, Orson kembali berbaring dengan santai, menutup kedua matanya dengan kacamata hitam, Orson pun sengaja menaikkan volume lagu yang sedang Orson dengar dengan menggunakan headset nya.


_________


Langkah mundur di balas dengan langkah maju. Elly terus di desak untuk terus mundur oleh pria jangkung ini, sehingga Elly yang begitu kewalahan untuk mengkondisikan permainan diantara mereka, mau tidak mau harus mengikuti alur permainan serta gerakannya.


'Ukh....! Padahal aku yang kena obat, kenapa orang ini malah yang lebih bersemangat?' Pikir Elly, merasa aneh dengan kedua kondisi diantara mereka berdua yang serasa terbalik, sebab pengaruh obat yang menyerang Elly, justru seolah tertanam pada tubuh Alves.


'Manis, aku tidak bisa membiarkan dia lepas dariku.' Benak hati Alves, mulai ber*gairah dengan kelakukan nya sendiri yang seenaknya menyerang Elly, padahal yang seharusnya memohon serta menyerang adalah Elly.


Maju dan mundur, itulah yang sedang mereka berdua lakukan, sampai mengarahkan mereka berdua masuk kedalam sebuah kamar mewah milik dari pria ini.


Elly, terus mencoba untuk beradaptasi dengan cara Alves memperlakukannya.


Sebuah sentuhan kasar dari tangan kanan Alves yang tiba-tiba saja menyelinap masuk kedalam pakaian bagian punggungnya membuat Elly semakin merasakan sensitif.


Tidak hanya itu saja, selepas sampai di tepi tempat tidurnya, Alves pun langsung mendorong tubuh Elly ke belakang, sehingga Elly pun akhirnya terjatuh juga ke panggung yang akan di mainkan oleh mereka berdua.

__ADS_1


"Alves?" Panggil Elly dengan wajah sudah merah padam, gara-gara reaksi dari obat yang sudah mulai menghancurkan akal sehatnya mulai membuat Elly sebentar lagi tidak akan mampu untuk mempertahankan kesadaran itu.


Dan nama panggilan yang dilakukan oleh Elly terhadap pria yang masih berdiri di depannya itu, kini sepenuhnya membuka pakaiannya.


"Apa yang mau kau lakukan?" Tanya Elly sudah mulai setengah sadar. Bahkan untuk berbicara saja, sebenarnya ia sudah mulai enggan.


"Menurutmu apa?" Tanya balik Alves dengan mata memicing.


".........." Elly pun hanya diam sambil menunggu apa yang akan di katakan oleh Alves lagi.


Tanpa berkata apapun lagi, Alves tiba-tiba saja membuka kemeja miliknya, dan mmeperlihatkan banyak deretan roti sobek yang menempelalias terbentuk di perutnya itu. 


Elly cukup naksir, tapi dia tidak boleh terpesona karena tubuh, mau bagaimanapun ia harus tetap berada di akal sehatnya, sebab ini baru pertama kalinya dirinya mendapatkan reaksi dari obat yang sudah mulai menyerang tubuhnya. 


‘Ukh…, sialan. Jadi rasanya seperti ini jika tubuh sudah terena obat perangsang? Aku sampai lupa bagaimana rasanya, karena dulu aku juga pernah menggunakannya untuk tubuh diriku sendiri, tapi karena dulu aku punya tubuh yang sudah kebal dengan segala obat, aku tidak begitu merasakannya. 


Tapi kali ini jelas sangat berbeda. Selain karena tubuh ini lemah, tubuh ini juga terlalu sensitif sekali setiap bersentuhan dengan laki-laki ini.


Pria ini, apa dia sudah mengingat masa lalunya? Waku aku pernah bermimpi tentang masa lalu tubuh ini dan menceritakannya kepadanya soal dia sudah pernah berhubungan dengan tubuh ini, dia seperti terlihat tidak tahu apapun. Tapi semenjak itu juga, sikapnya perlahan berubah kepadaku, dia terlihat begitu memperhatikanku?’ Memikirkan hal itu, kepalanya jadi semakin sakit. 


Dalam sekejap mata, kilatan memorinya bermunculan tepat di saat seperti waktu itu, dimana Raelyn, alias tubuh yang Elly diami itu mendapatkan malam paling mnyesakkan yang pernah ada.


‘Apa ini akan terjadi lagi? Aku memang terlihat tidak begitu memperdulikan tubuh ini, karena aku selalu menggunakannya untuk melayani pria ini saat dia menginginkannya. Namun aku selalu membatasi hubungan ku dengannya, agar tidak begitu melewati batas. 


Setidaknya sebagai seorang pelayan. 


Tapi-’ Elly mengerjapkan matanya yang kian jadi berat, dan pandangannya pun cukup samar-samar untuk sekedar melihat Alves yang kini sudah mulai bertelanjang dada. 


Orang yang sama dengan orang yang ada di delapan tahun yang lalu. 


Tidak ada perbedaan yang cukup signifikan, mengingat rupa dari Alves yang cukup awet muda. Bahkan menganggap kalau Alves saat ini adalah remaja 20 tahunan pun, hanya dengan merubah gaya berpakaiannya, semua orang pun akan menganggapnya demikan. 


Tapi- apa yang akan dilakukan pria ini terhadapnya?


Ekspresi wajah Elly pun benar-benar dipenuhi dengan tanda tanya. 


“Elly, apa kau benar-benar tidak peka dengan perasaanku?”


“Perasaan? Aku hanya tahu perasaan saat dikhianati.” Jawab Elly dengan begitu polosnya. Menganggap kalau jawabannya adalah sesuatu yang cukup sepele. 

__ADS_1


Padahal bagi Alves …


Alves terdiam sejenak, melihat bahwa wanita yang ada di atas tempat tidurnya itu terus hidup dalam kesendirian. Di balik sikapnya yang terlihat mampu untuk cepat berbaur dengan orang lain, namun tidak dengan hatinya. 


‘Entah kenapa, aku merasa bisa memahami perasaannya yang di khianati oleh calon suaminya sendiri.’ Alves mengernyitkan matanya, betapa gelisahnya hatinya itu saat mendengar bahwa Elly adalah orang yang pernah dikhianati oleh seorang pria lain. 


Sampai berharap kalau dirinya saat ini ingin sekali melihat siapa gerangan orang yang pernah menyakiti hati dari Elly ini. 


‘Sepertinya ada sesuatu aneh yang terjadi kepadaku. Bagaimana bisa aku langsung begitu menyukai wanita ini? Bahkan-’ Kalimatnaya langsung menggantung saat dirinya saat ini melirik kebawah. 


Dia sudah tidak memakai pakaian atasnya, membuangnya dengan begitu sembarangan, saat ini yang tersisa adalah saudaranya yang tiba-tiba saja berubah menjadi sebuah menara yang tinggi dan kokoh.


‘Kenapa dia menanyakan hal itu kepadaku lagi? Dan tubuhku ini benar-benar merasa tidak nyaman sekali. Sebenarnya apa-apaan denganku hari ini? Tadi pagi aku tenggelam, mengingat memoriku di masa lalu, dan sekarang aku merasakan tubuhku begitu aneh.’ Karena merasa risih dengan posisinya yang tiduran terlentang mengarah ke atas, Elly pun langsung memiringkan tubuhnya. 


Tubuhnya merasa sudah lemas, tapi rasa tidak nyaman itu juga begitu menganggu pikiran, juga jiwanya, yang berharap ingin mendapatkan lebih. 


“Pergilah, tubuhmu kan sedang luka.” usir Elly terhadap Alves yang sudah menanggalkan pakaiannya itu. 


Ia tahu apa yang akan di lakukan oleh Alves, namun Elly sendiri tidak mau tahu soal itu, dan hanya ingin menangkan diri saja walaupun dirinya tetap adalam tekanan yang cukup menyusahkan hati dan pikirannya untuk terus mengontrol akal sehatnya. 


“Tapi bukannya kau saat ini sedang membutuhkanku?”


“Aku tidak memintanya.” Elly menjawab sambil mengernyitkan matanya. 


“Tapi aku ingin membantumu.”


“Apa kau mau memperkosaku?”


“Tidak, asal aku mendapatkan izin darimu. Seperti yang terakhir kali kau lakukan saat itu, aku juga ingin membantumu.” Jawab Alves, lalu perlahan, dia pun merangkak naik ke atas tempat tidur, dan menahan tubuhnya dengan kedua tangannya seraya memperhatikan Elly yang sudah mulai tertekan.


“Sudahlah, jangan sia-siakan tenagamu untukku. Lebih baik kau gunakan untuk istirahat saja.” Kata Elly lagi. 


Alves hanya diam dan terus memperhatikan Elly tanpa jeda sedikitpun.


“Kenapa kau begitu keras kepala sih?” Tanya Alves, tangan kirinya pun meraih helaian rambut halus milik Elly yang sempat menghalangi wajahnya untuk Alves tatap terus menerus. 


“Ukh…!” Elly langsung kena sambaran sensitif yang cukup besar. ‘Kenapa sentuhannya membuatku lebih sensitif? Tapi, tangannya cukup dingin.’ 


Elly perlahan membuka matanya, dan menoleh ke arah Alves yang sekarang ada di atasnya persis sambil menatapnya dengan tatapan khawatir?

__ADS_1


‘Kenapa dia terlihat begitu khawatir?’ detik hati Elly, membalas tatapan mata Alves sampai tiba-tiba saja Elly kembali memejamkan matanya ketika telapak tangan Alves yang begitu besar itu sempat menyapu wajahnya dengan sentuhan lembut, sehingga mampu mentransfer suhu dingin milik dari pria ini kepada kulit tipisnya itu. “Dingin.”


__ADS_2